Saat Adnan menangis, Reza dan Lucky yang sedang bermain bola mendekatinya.

Reza: kamu kenapa?

Adnan: aku belum dijemput

Reza: ya udah aku temenin

Lucky: aku main bola lagi yaa

Mana yang lebih menunjukkan empati?

Sahabat CC tentu tidak asing lagi dengan kata “empati”. Singkatnya, empati adalah kemampuan merasakan atau membayangkan apa yang tengah dirasakan dan dialami oleh orang lain. Empati adalah bagian dari kecerdasan emosi, sekaligus kecerdasan sosial. Mengapa? Karena orang yang mampu berempati kemudian akan menunjukkan perilaku pro-sosial yang sesuai dengan kondisi yang dihadapi.

Misalnya Reza. Ia mengetahui bahwa Adnan menangis karena belum dijemput ibunya. Ia kemudian membayangkan apa yang dirasakan Adnan, misalnya sedih dan takut. Reza ingat bahwa ketika ia sedih dan takut, ia akan merasa lebih nyaman jika ditemani. Ketika Reza tetap tinggal untuk menemani dan mengajak Adnan mengobrol, itulah bentuk empati yang ditunjukkan oleh Reza.

Menariknya, apa yang Reza lakukan belum tentu tepat. Siapa tahu Adnan lebih suka diajak bermain saat sedang sedih. Nah, disini kita melihat bahwa empati tidak sesederhana itu. Empati berarti kita berhasil membayangkan apa yang dialami dan dirasakan seseorang melalui kacamata orang tersebut, bukan kacamata kita. Jadi bukan “kalau lagi sedih begitu saya biasanya akan …. “, namun lebih ke “apa yang dibutuhkan oleh orang ini sekarang?”. Karena itu kita perlu juga bertanya apa yang dapat kita bantu untuk membuatnya lebih nyaman. Kesimpulannya, selain mampu membayangkan emosi dan pengalaman seseorang, dalam berempati kita juga perlu menemukan apa yang dibutuhkan oleh orang tersebut.

Dari mana Reza belajar berempati?

Lingkungan memberi pengaruh besar pada perkembangan empati seorang anak. Apa Anda pernah melihat anak balita yang secara spontan memeluk temannya yang menangis? Ia mempelajarinya melalui pembiasaan.

Pada dasarnya kita dapat memanfaatkan setiap momen untuk merangsang kemampuan empati anak. Misalnya saat melihat pengamen di jalan, melihat anak yang menangis, menonton film kartun dimana tokohnya sedang marah-marah, membaca buku tentang penduduk desa yang takut pada naga, melihat berita tentang gempa dan bencana alam, dan masih banyak lagi.

Mari kita lihat beberapa kemampuan dasar yang perlu dilatihkan pada anak untuk dapat berempati.

  1. Kepekaan dalam mengamati keadaan di sekitarnya.
  2. Kepedulian terhadap orang lain.
  3. Mengenali jenis-jenis emosi dasar. Anak seharusnya mengenali dulu emosi yang ia rasakan sebelum dapat mengenali emosi orang lain.
  4. Kemauan untuk mendengar.

Sahabat CC, sebelum mengajarkan pada anak sejumlah kemampuan di atas, sudahkah kita melakukannya?

Anak belajar melalui hal yang konkret dan dapat dirasakan secara langsung. Sebagai orang tua atau pengasuh, penting untuk menjadi role model yang dapat menunjukkan bagaimana berempati. Namun bukan hanya kepada orang lain atau obyek-obyek di luar anak, justru kepada anak kita sendiri.

Contohnya, saat pulang sekolah anak terlihat kesal dan langsung masuk ke dalam kamar. Kita dapat menggunakan momen itu untuk menunjukkan bahwa kita berempati pada apa yang dialami anak. Galilah apa yang dialami anak dan berikan dukungan yang ia butuhkan. Contoh lainnya, saat anak menangis setelah melihat nilai raportnya yang buruk. Mungkin kita justru ingin marah pada saat itu, namun mencoba mendengarkan sudut pandang anak bisa jadi akan membuat kita lebih paham kesulitan apa yang dihadapinya sehingga nilai-nilainya tidak memuaskan.

Berempati memang tidak mudah, namun sangat penting untuk ditumbuhkan. Selain untuk menjaga relasi dengan orang lain, kemampuan berempati juga mampu mencegah berbagai perilaku buruk, seperti bullying, kekerasan, dan kenakalan remaja. Bahkan membuang sampah sembarangan atau merokok di kendaraan umum juga tidak akan terjadi lagi jika kita mampu berempati. Di lain pihak, kemampuan berempati akan menumbuhkan perilaku pro-sosial sejak kecil, seperti membantu orang lain, menyumbang untuk bencana alam, menjadi volunteer kegiatan sosial, dan sebagainya.

Yuk, jadikan anak-anak Indonesia anak yang mampu berempati!

Untuk menambah wawasan kita tentang empati, silakan baca juga artikel ini.

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

− 1 = 1