Pagi ini saya tersedu membaca broadcast message tentang curahan hati seorang anak yang ayahnya adalah salah seorang kru kapal selam Nanggala 402. Emosi ini juga saya rasakan saat Aceh diterjang tsunami tahun 2004 silam. Dalam kedua kabar duka itu, tak ada satupun teman atau kerabat saya yang menjadi korban, namun mengapa rasa sedih yang dirasakan begitu mendalam?

Tanpa harus kenal dengan tokoh di film, kita bisa ikut menangis saat ada adegan perpisahan. Kitapun bisa ikut marah saat melihat berita penganiayaan yang viral di media sosial. Begitupun saat ada artis idola kita yang akhirnya hamil, rasanya ikut terharu dan bahagia juga. Ya betul, kita manusia memang dianugerahi kemampuan untuk berempati.

Terbentuknya Empati Pada Anak

Kalau bicara tentang empati, kita harus bicara tentang emosi dulu. Ada setidaknya 4 emosi dasar yang dimiliki manusia, yaitu senang, sedih, marah, dan takut. Sejak bayi anak kita mengembangkannya dari berbagai pengalaman yang ia hadapi. Tahapan perkembangan yang paling awal adalah dengan mengenali emosi yang tengah ia rasakan. Tahu nama atau sebutannya, penyebabnya, sampai apa yang ia rasakan. (Sumber)

Setelah anak bisa mengenali emosi yang ia rasakan, barulah ia belajar untuk mengenali emosi orang lain. Nah, inilah langkah awal dari terbentuknya empati. Pada anak-anak empati tidak serta merta hadir karena anak adalah makhluk konkret. Mereka belajar dari apa yang mereka lihat, dengar, dan sentuh langsung. Pengalaman inderawi itu menjadi tabungan untuk mereka belajar memahami dirinya dan orang lain di sekitarnya. Anak tidak akan mengerti kenapa temannya menangis saat jatuh jika ia belum pernah jatuh, begitupun jika ada anak lain yang marah saat mainannya diambil jika ia belum pernah mengalaminya.

Apa itu artinya anak harus sakit dulu baru bisa berempati saat temannya sakit? Tentu tidak ya Sahabat, namun kita bisa ingatkan ia dengan hal-hal yang hampir sama dengan yang pernah dialami anak. Misalnya saat ia melihat ada anak yang menangis karena minta dibelikan es krim, kita bisa ingatkan anak saat ia menangis minta dibelikan mainan. “Dia sedih karena ga dibelikan es krim. Sama kayak Adek waktu ga dibelikan mobil-mobilan yang merah, waktu itu Adek juga nangis kan, inget ga?”. Selalu tarik ke hal yang berkaitan dengan pengalaman anak, maka anak akan lebih mudah memahaminya. Jika ia melihat kita sedih saat mendengar berita tentang Nanggala, jelaskan bahwa kita sedih karena ada anak-anak yang tidak bisa bertemu lagi dengan ayah atau ibunya, dan ajak ia membayangkan apa yang ia rasakan jika tidak bisa bertemu kita lagi.

Rasa Syukur Sebagai Pengurang Kesedihan

Seberapa sering kita dengar ucapan “semua ada hikmahnya”? Mencari hal positif pada kabar duka adalah hal yang kerap dilakukan orang untuk mengurangi atau melupakan kesedihannya. Bisa jadi ini adalah bentuk pertahanan diri (defense-mechanism) agar seseorang tidak hancur dan terlarut dalam emosi negatif yang tengah dirasakan.

Bersyukur lazimnya dilakukan saat merasa mendapat sesuatu yang membahagiakan atau karena merasa bahwa kondisi kita lebih baik dari orang lain. Menghayati perasaan orang lain yang terkena musibah membuat kita sadar bahwa kondisi kita lebih baik darinya dan dari situlah timbul rasa syukur.

Sama seperti empati, rasa syukur bentuknya sangat abstrak dan sulit dipahami oleh anak. Mereka hidup dalam konsep “me and myself” serta “here and now”. Ia belum dapat membayangkan dunia secara utuh. Yang menjadi fokus perhatiannya adalah “saya dan orang yang ada di dekat saya”. Ia juga belum mampu membayangkan dirinya jauh di masa depan. Anak akan senang dan bisa mengucapkan terima kasih saat dibuatkan makanan kesukaannya atau saat mendapat hadiah ulang tahun, namun tak menunjukkan kebahagiaan yang setara saat kita peluk sebelum tidur atau saat diberi vitamin setiap hari. Baru pada saat anak sudah remaja, ia dapat menghayati mengapa kesehatan, teman yang baik, atau keluarga yang menyenangkan adalah sesuatu yang harus disyukuri.

Untuk menumbuhkan rasa syukur, mulailah dari hal-hal sederhana. Contohnya setelah menonton bersama kabar duka di TV, bagikan rasa syukur kita kepada anak. Misalnya ada berita tentang banjir kita bisa mengatakan, “Sedih ya lihatnya, Bunda bersyukur kita ga ikut kebanjiran. Rumah dan barang-barang kita tidak rusak kena air, kita bisa tidur di kasur yang kering dan hangat. Besok kita bantu mereka, ya.” Penjelasan semacam ini menggambarkan secara konkret pada anak bahwa kondisi kita lebih baik daripada orang lain. Selain itu tetap ada unsur membangun empati yang kita sisipkan di dalamnya.

Pentingnya Mengapresiasi Kehadiran Anak

Pada akhirnya, kabar duka menyadarkan bahwa kita masih dikelilingi orang-orang yang kita sayangi dan kita yang sudah dewasa biasanya jadi lebih menghargai kehadiran mereka. “Duh, seneng banget deh Mama punya anak seperti Kakak” atau “Makasih ya udah nemenin Ayah main tadi” adalah ucapan sederhana yang membuat anak menyadari kehadirannya penting bagi kita. Dengan sendirinya ia akan belajar menghargai kita dan orang lain yang selalu hadir untuknya.

Keponakan saya yang berusia 8 tahun pernah bangun tidur dan langsung menangis karena bermimpi ibunya pergi. Seharian itu ia lengket dan menurut sekali pada ibunya. Artinya, ia telah dapat merasakan seperti apa sedihnya jika ibunya benar-benar pergi, dan pada akhirnya lebih menghargai waktunya bersama sang ibu. Namun dalam hal ini, emosi yang dirasakan anak adalah takut. Takut jika ibunya benar-benar pergi menjadi penggerak mengapa ia ingin terus berada di dekat ibunya. Berbeda dengan kita yang motivasinya adalah untuk mengapresiasi momen kebersamaan bersama orang-orang terdekat. Tapi tak apa-apa, memang begitulah anak belajar tentang emosi.

Anak akan terus mengembangkan emosinya hingga ia dewasa. Ia akan punya pengalaman langsung dengan kehilangan dan kepergian anggota keluarga, teman, orang terdekat, atau bahkan binatang peliharaan. Dampaknya ia akan lebih akurat dalam membayangkan perasaan orang lain yang tengah tertimpa musibah. Kabar duka yang didengar akan dimaknai berbeda tergantung pertambahan usia dan kematangan emosinya. Untuk melengkapi pembahasan ini, saya menganjurkan Anda untuk membaca artikel tentang bagaimana anak menghadapi kematian berikut ini, Sahabat.

Turut berduka cita untuk para awak Nanggala 402.

Image by 5933179 from Pixabay

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

46 − = 42