Saya suatu ketika mendengarkan ceramah dari Ustad Nouman Ali Khan mengenai solusi apa yang terbaik menghadapi anak bohong. Saya tidak menyangka solusinya ternyata sederhana, yaitu sabar. 

Ada dua kemungkinan reaksi orang tua ketika anak ketahuan berbohong. Yang pertama adalah ketika anak berusaha jujur, sebagai orang tua kita malah memarahinya, bahkan mungkin menghukum supaya ia jera. Suatu contoh dari saya pribadi, anak saya pernah mengaku dia membuang salah satu CD koleksi saya ke tempat sampah karena dia tidak suka gambar sampulnya, maka saya pun memarahinya. Apakah permasalahan berhenti disitu? Ternyata tidak. Anak akan mempunyai cara berpikir untuk menyelamatkan diri dari segala kesalahan dan berkelit dengan berbohong supaya tidak kena marah. 

Reaksi kedua adalah ketika kita tahu anak bohong, yang kita lakukan adalah memarahinya karena telah berbohong. Sebagai orang tua kita merasa frustasi karena kita merasa tidak pernah mendidik anak bohong, dan kita segera memarahi agar anak tidak mengulangi kebohongannya. Apakah itu efektif? Bisa jadi sebaliknya. Perasaan bersalah anak setelah berbohong akan segera hilang karena orang tuanya sudah memarahi ataupun bahkan menghukum, jadi impas.

Menurut Nouman, solusi pertama yang bisa kita lakukan adalah, apabila anak mengakui sesuatu yang walaupun pahit kenyataannya, kita harus menanggapi dengan bersabar, dan bahkan berterimakasih kepada anak akan kejujurannya. Saya pernah membaca bahwa seorang penulis buku berjudul “No Excuse” bernama Brian Tracy membuat sebuah peraturan dirumah bahwa dia dan anak-anaknya harus jujur akan segala hal, dan siapapun yang mendapati kejujuran dari anggota keluarga yang lain, tidak dibolehkan untuk marah. Jika ini dibiasakan maka anak akan terbiasa untuk menyuarakan kebenaran dan siap menerima dan mendengar kejujuran dengan lapang dada.

Solusi kedua adalah apabila anak bohong dan kita sebagai orang tua tahu kalau anak bohong maka kita tetap bersabar, dan mengatakan “Baik Nak, saya percaya dengan apa yang kamu katakan”. Memang terlihat kontradiktif dan sepertinya terlalu membiarkan anak bebas, namun disini anak akan belajar mengenai kepercayaan orangtua. Lambat laun dia akan gelisah karena kebohongannya, dan mulai mempunyai rasa tanggung jawab akan kata dan perbuatannya. Memang akan memakan waktu, namun suatu saat dia akan mengakui kebohongan- kebohongan yang pernah ia lakukan di masa lalu karena dia merasa bertanggung jawab. 

Dalam bukunya “The Speed of Trust”, Stephen R. Covey memaparkan bahwa untuk mendapatkan perubahan positif dari sebuah organisasi diperlukan kepercayaan seorang pemimpin yang semakin baik. Sebagai orang tua kita memimpin “organisasi” rumah tangga, maka percayalah pada anak-anak kita, Insya ALLOH mereka menjadi anak yang jujur.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

+ 66 = 69