Di antara anak-anak muda yang memenuhi taman bacaan sore itu, seorang ibu dengan bayinya tiba-tiba datang dan menempati bangku tepat di seberang saya. Tertarik, sayapun mengamati perilaku sang Ibu yang segera meletakkan barang-barangnya dan duduk sambil menanggapi celotehan si bayi. Tebakan saya Ibu itu memang ingin membaca. Luar biasa, meski sudah memiliki anak, namun masih menyempatkan diri untuk membaca. Tapi yang berikutnya terjadi lebih membuat saya senang. Seorang anak laki-laki berkacamata berusia sekitar 8 atau 9 tahun mendekati mereka dengan 3 buah buku di tangannya. Ah.. saya mulai mengerti, ibu ini menemani anaknya membaca.

Sering kita dengar keprihatinan tentang turunnya minat membaca generasi muda. Saya juga jarang melihat perpustakaan dipenuhi orang-orang yang memang cinta membaca, perpustakaan hanya jadi tempat mencari referensi untuk tugas. Padahal ungkapan buku adalah jendela dunia sudah sangat lama kita dengar dan amini. Seorang ibu dengan dua anaknya ini membuat saya berpikir bahwa masih ada orang tua yang mau meluangkan waktu untuk memenuhi hobi membaca anaknya.

Membaca pada hakekatnya adalah memahami simbol, menghubungkan setiap simbol menjadi sesuatu yang lebih bermakna. Sejak lahir, hidup kita dikelilingi oleh simbol. Lihatlah gambar huruf M besar berwarna kuning dan kita akan langsung berpikir tentang salah satu restoran fast food. Atau lihatlah gambar rokok yang disilang dan kita akan memahami maksudnya. Anak-anak belajar membaca dengan lebih dahulu memahami simbol. Bahwa simbol A adalah huruf yang disebut “a” dan simbol B adalah huruf yang disebut “b”. Tahap berikutnya, menghubungkan simbol-simbol tersebut menjadi sesuatu yang lebih bermakna yaitu kata, lalu kalimat, lalu paragraf, dan kemudian tiba-tiba menjadi cerita, atau puisi, atau lirik lagu, informasi, pengetahuan, atau hasil tulisan apapun.

Untuk anak-anak, mampu membaca membuat mereka mengenal dunia baru. Yang tadinya mereka hanya melihat buku dan menebak-nebak isinya dari gambarnya, kini mereka bisa menyelam lebih dalam dengan memahami barisan huruf-huruf di dalamnya. Dalam kajian psikologi perkembangan, bagi bayi dan anak yang lebih kecil, membaca memberikan peluang keintiman emosional serta membina komunikasi antara mereka dengan orang tua. Tentunya orang tua harus hadir saat menemani anak membaca. Sementara pada anak-anak yang lebih besar, rajin membaca membuat mereka memiliki keterampilan bahasa dan pemahaman bacaan yang lebih baik. Disebutkan pula bahwa kosakata dan keterampilan bahasa ekspresif anak lebih tinggi daripada anak yang tidak mendapat stimulasi membaca sejak dini. Belajar membaca membebaskan anak-anak dari keterbatasan komunikasi tatap muka, memberikan mereka akses kepada berbagai ide dan imajinasi orang-orang di tempat yang jauh, bahkan di masa silam.*

Maka berkaitan dengan perkembangan intelegensi, membaca menjadi suatu jembatan bagi anak-anak untuk meningkatkan kosakata dan keterampilan berbahasa. Membaca juga meningkatkan kreativitas dan imajinasi, memberi peluang kepada anak-anak untuk menyelesaikan berbagai permasalahan dengan pendekatan yang berbeda-beda. Tak kalah pentingnya, membaca membuka wawasan mereka, mengetahui lebih banyak hal tentang dunia dan kehidupan di sekelilingnya. Maka tak berlebihan memang, jika buku selalu disebut sebagai jendela dunia.

Sayangnya sore itu saya tak sempat berbincang dengan sang ibu. Tentu menarik bila saya tahu motivasi apa yang dimilikinya hingga ia mau meluangkan waktu menemani putranya membaca. Di taman bacaan berikutnya yang saya datangi, semoga saya menemukan lebih banyak orang tua yang menemani anak-anaknya membaca. Saya harap salah satunya Anda.

Salam.

*Referensi : Papalia, Olds, Feldman, Human Development, McGraw Hill, 2009, hal 254.

1 KOMENTAR

  1. Anak banyak bertindak karena melihat perilaku orang lain, khususnya orang tuanya.
    Agak sulit mengharapkan anak senang membaca – yang melalui aktifitas tersebut wawasan anak bertambah dan imajinasinya berkembang, punya banyak ide dan gagasan – , jika orang tuanya sendiri malas membaca.
    Dan sulit juga jika orang tuanya lebih senang mengajak anak2nya jalan ke mall daripada ke toko buku dan beli buku.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

6 + 1 =