April di Indonesia sering diidentikkan dengan bulannya kaum perempuan, tentu karena ada hari lahir Kartini disitu. Sosok pahlawan yang satu ini cukup diistimewakan karena selain ada sebutan kehormatan ibu kita Kartini, tahun 2016 inipun 2 film bertema Kartini meramaikan industri sinema tanah air.

Kemarin, tanggal 21 April, timeline media sosial saya dipenuhi postingan tentang Kartini. Banyak juga foto anak-anak mengenakan baju adat atau kostum profesi, berkarnaval atau ikut peragaan busana. Ah.. lucu dan bikin ingat masa lalu. Coba, siapa diantara kita yang belum pernah ikut “kartinian” di sekolah dulu?

Anak-anak kita yang mengikuti parade baju adat mungkin tak paham siapa itu Kartini. Tak paham pula kenapa hari itu mereka berpakaian khusus. Mereka menikmati keriaannya, menikmati perbedaan dengan hari-hari lainnya, dan untuk yang menang lomba pasti bahagia saat mendapatkan hadiahnya.

Meski bukan pahlawan wanita satu-satunya, semangat Kartini tentu baik bila kita tumbuhkan pada anak-anak. Apakah khusus untuk anak perempuan saja karena bicara tentang emansipasi? Saya pikir tidak.

Kartini menulis tentang hal yang universal dan lintas gender. Ia melihat bahwa setiap orang punya hak untuk bertumbuh dan mengembangkan diri, tidak terus menerus berada di bawah tempurung, dan berani untuk mendobrak batasan.

Lalu, bagaimana cara bicara tentang nilai-nilai ini pada si kecil kita di rumah?

Saya tertarik menyoroti sebuah tahapan perkembangan yang dicetuskan oleh Erik Erikson, yaitu tahapan autonomy vs shame and doubt. Anak usia 1-3 tahun mengalami perkembangan motorik dan mental yang sangat pesat di masa ini. Sudah dapat berjalan, bahkan berlari, sudah mampu bicara dan berkomunikasi, juga sudah mampu menyerap dan meniru apapun yang dilihatnya. Mereka mulai menyadari kemampuannya untuk menguasai dan memanipulasi obyek-obyek di sekitarnya, mereka pun mulai ingin memilih dan memutuskan sendiri apa yang diinginkan. Masa-masa bereksplorasi ini adalah saat yang tepat untuk menumbuhkan keberanian mencoba dan rasa ingin tahu anak. Orang tua yang terlalu protektif dan tidak mengizinkan anaknya menyentuh apapun yang berbahaya –menurut orang tua- secara tidak sadar telah menghambat potensi anak untuk mengembangkan dirinya. Anak perlu merambah dunia baru di sekitarnya dengan kelima inderanya, menentukan apa yang nyaman atau tidak baginya, menentukan minat dan apa yang disukainya, hingga mengetahui cara kerja obyek-obyek di sekelilingnya, obyek disini termasuk orang tua dan manusia lainnya.

Menariknya, di masa ini pula anak-anak juga mulai dibentuk (baca: dikontrol) oleh kita sebagai orang dewasa untuk berperilaku sesuai dengan harapan lingkungan. Kalau di bawah usia 1 tahun anak-anak bayi kita seakan bisa melakukan apapun tanpa harus dimarahi atau dibatasi, maka di usia 1-3 tahun ini, anak mulai dikenalkan dengan aturan dan harapan-harapan sosial. Kita bisa saja melihat putri kecil kita mengacak-acak makanan sebelum memasukkannya ke mulut. Bagi kita itu berantakan dan tidak sopan, baginya, dia sedang belajar makan sambil mencoba merasakan tekstur makanannya terlebih dahulu. Contoh lain, toilet training yang biasa dilatihkan pada usia ini. Tak jarang kita mengasosiasikan ngompol sebagai kesalahan karena jorok, kotor, bau pesing, hingga malu. Apakah itu salah?

Erikson menandai setiap tahapan perkembangannya dengan ‘versus’ seperti dalam tahapan autonomy vs shame and doubt ini. Ia melihat bahwa perlakuan atau pengasuhan orang tua dapat mempengaruhi kecenderungan anak untuk mengarah pada satu kutub. Misalnya ;

anak bisa jadi mandiri dan paham apa yang ia inginkan, tapi sebaliknya jika pengasuhannya berbeda anak bisa jadi pemalu dan peragu.

Idealnya tentu saja kita ingin anak mandiri dan punya keleluasaan dalam mengeksplorasi diri dan lingkungannya, namun juga memahami batasan-batasan yang masih dapat diterima oleh lingkungan sosialnya.

Mari kita kembali ke contoh batita yang bermain dengan makanannya tadi. Biasanya yang membuat kita langsung mengintervensi dengan menghentikan anak adalah karena berantakan, baju dan tangan anak jadi kotor, atau menurut kita perilaku itu jorok. Menetapkan batasan tentu perlu jika masuk akal, misalnya anak sudah mandi, sudah mengenakan pakaian bersih, tapi ia ingin makan sendiri. Daripada menghalangi keinginannya untuk belajar dan bereksplorasi, lebih baik sediakan slabber atau celemek untuk melindungi bajunya, sendok atau garpu kecil untuk melatih motorik halusnya, ajak ia mencuci tangan sebelum makan jika ia ingin menyentuh makanannya, dan sebaiknya dampingi saat ia makan. Saat mendampingi, ajak ia bicara tentang makanannya, misalnya keras, lembut, berserat, warna putih, warna hijau, berkuah, panas, dingin, dan sebagainya. Waktu 30 menit yang kita luangkan untuk mendampingi anak tentu dapat menggantikan lelah kita mencuci pakaiannya ya? 🙂 Kalau makanannya malah ditumpahkan atau dilempar-lempar bagaimana? Ya, mungkin sudah waktunya ia diberi mainan bola atau diajak bermain ‘isi dan kosongkan’ dengan berbagai pilihan material.

Contoh kedua yaitu toilet training dan ngompol. Baik secara medis maupun sosial, perilaku mengompol memang seharusnya tidak terjadi lagi begitu anak bertambah usia. Untuk menerapkan toilet training kita dapat menggunakan pendekatan yang lebih positif. Jika anak mengompol, hindari berfokus pada menyalahkan anak, misalnya langsung marah, mengatakan bahwa anak jorok atau bau pesing, atau malu sudah besar masih ngompol. Daripada menunjukkan bahwa anak telah melakukan sesuatu yang memalukan, kita bisa ajak ia memahami mengapa tidak mengompol itu lebih baik. Misalnya dengan bertanya apakah anak nyaman jika celana atau kasurnya basah, atau apakah anak nyaman mencium bau ompol atau lebih baik mencium bau seprei yang wangi. Bisa pula kita bercerita tentang perut yang penuh dengan air dan harus dikeluarkan agar tidak kepenuhan perutnya, sehingga anak tidak ragu untuk mengikuti toilet training. Dengan begitu, anak tidak merasa disalahkan, namun ia lebih paham bahwa tidak mengompol itu lebih baik. Anak-anak yang belajar melalui pemahaman sendiri lebih baik daripada mereka yang berperilaku tertentu karena malu atau ragu.

Mungkin terlalu jauh apabila menduga bahwa pemikiran terbuka dan maju yang dimiliki Kartini disebabkan karena orang tuanya paham prinsip autonomy vs shame and doubt, tapi jelas bahwa ia seorang perempuan yang ingin mengekplorasi dunianya dan lebih memberdayakan dirinya. Ia punya pemikiran yang dianggap terlampau berani di masanya, namun sempat pula ia ragu untuk mengungkapkan gagasannya karena takut bila sang ayah yang seorang bupati tidak menyetujuinya dan terkena imbas dari keinginan Kartini untuk mendobrak adat istiadat. Belajar dari itu, patut kita ingat untuk memberikan anak-anak kita kebebasan bereksplorasi dan mengembangkan potensi mereka tanpa malu dan ragu. Tugas kita sebagai orang tua adalah menyeimbangkannya dengan menanamkan kepekaan dan kerendah-hatian untuk juga menghormati harapan-harapan dari lingkungan sosialnya.

Selamat mendukung proses eksplorasi anak-anak kita!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here