Banyak peringatan internasional di bulan Februari, salah satunya tanggal 11 yang ditetapkan sebagai International Day of Women & Girls in Science. Rupanya di bidang sains, ilmuwan perempuan di seluruh dunia jumlahnya masih di bawah 30%. Sementara itu hanya 30% anak perempuan yang memilih bidang STEM (Science, Technology, Engineering, and Math) di perguruan tinggi (sumber). Angka ini tergolong rendah mengingat bahwa sains bukanlah bidang yang eksklusif bagi laki-laki dan perempuan punya hak dan kemampuan yang sama untuk terjun ke bidang-bidang ini.

Namun kita patut bangga karena Indonesia memiliki sejumlah ilmuwan perempuan yang mendunia dan dapat menjadi inspirasi. Yuk, kita kenali beberapa di antaranya!

SRI FATMAWATI

Ilmuwan perempuan ini adalah pengajar di Departemen Kimia ITS (Institut Teknologi Surabaya). Bukan sembarang ilmuwan, Ibu Sri Fatmawati, S.si, M.Sc, Ph.D sudah kenyang dengan berbagai penghargaan, salah satunya dari Yayasan Elsevier Untuk Perempuan dalam Sains 2016. Beliau juga adalah anggota dari Global Young Academy (GYA) yang merupakan sebuah akademi internasional bergengsi. GYA merupakan wadah kolaborasi dan dialog internasional bagi para ilmuwan muda di seluruh dunia. Hingga kini, beliau telah menghasilkan 30 paper dan 20 penelitian serta telah berkolaborasi dengan ilmuwan dari beberapa negara.

Pesannya pada calon ilmuwan muda untuk mulai melangkahkan tekadnya sejak dini. Dengan tidak menunggu dan mengambil kesempatan yang ada, beliau yakin calon ilmuwan muda dapat berproses dengan baik.

 “Ketika muda itu ruang gerak sangat tak terbatas, jadi kembangkan passion-mu dan kenali minatmu”

(Sumber)

SIDROTUN NAIM

Nah, ilmuwan perempuan yang satu ini saat ini dikenal sebagai virolog karena banyak dimintai pendapat tentang virus Covid-19. Beliau adalah Ibu Sidrotun Naim, Ph.D, MPA yang mengawali perjalanannya di bidang sains dengan memilih Institut Teknologi Bandung setelah lulus dari SMA.

Kecintaannya untuk terus belajar rupanya menurun dari leluhurnya yang merupakan para ulama dan cendekiawan di Surakarta. Beliau meraih berbagai gelar akademik dari Universitas Queensland Australia, Universitas Arizona Amerika Serikat, hingga menjadi peneliti di program post-doctoral Sekolah Kedokteran Harvard. Tak tanggung-tanggung, selain bidang studi Kelautan, dan Mikrobiologi dan Patologi, ia juga memiliki gelar Master of Public Administration (MPA) dan sertifikat dalam bidang Manajemen dan Kebijakan Publik dari Harvars John F. Kennedy School of Management.

Ibu Sidrotun Naim juga menorehkan banyak penghargaan di Indonesia maupun di luar negeri. Di tahun 2012, Sidrotun Naim menjadi satu dari lima belas peneliti muda tingkat dunia yang menerima anugerah UNESCO-L’Oréal For Women in Science di markas UNESCO, Paris.

(sumber)

MARIE THOMAS

Jangan tertipu dengan namanya yang kebarat-baratan. Marie Thomas, perempuan kelahiran Minahasa ini adalah dokter spesialisasi kandungan wanita pertama di Indonesia. Saking istimewanya, mesin pencari Google membuat google doodle tentangnya di tanggal kelahirannya 17 Februari.

Saat mendaftar dengan program beasiswa ke STOVIA (sekolah kedokteran di masa itu), Marie adalah satu-satunya perempuan dari 200 siswa yang diterima. Ia lulus di tahun 1922 dan berpraktek sebagai dokter di CBZ Batavia atau yang sekarang lebih dikenal dengan RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Setelah menikah dengan rekan sejawatnya, ia pindah ke Bukittinggi, Sumatera Barat. Sembari merawat keluarga dan membesarkan kedua anaknya, Marie tetap bekerja sebagai dokter, bahkan mendirikan sekolah kebidanan pertama di Sumatera.

(sumber)

Selain 3 nama di atas, Indonesia masih memiliki sejumlah perempuan hebat lain yang tak ragu terjun ke bidang sains. Dalam sebuah acara, Ketua Komisi Nasional Indonesia untuk Unesco (KNIU) Prof. Dr. Arief Rachman, M.Pd pernah menyinggung studi American Psychological Association yang menyebutkan, bahwa perempuan cenderung menghindari fokus ilmu sains bukan karena kemampuan kognitif, melainkan karena pengalaman terhadap sains, struktur edukasi, konteks kebudayaan, stereotype, hingga kurangnya panutan pada bidang tersebut. Jadi sebetulnya tak ada perbedaan kemampuan kognitif sehingga anak perempuan sangat bisa berkarir dalam bidang sains.

Sahabat CC, semoga artikel ini dapat menginspirasi anak-anak perempuan Indonesia untuk tak ragu menjadi ilmuwan.

*Pic by elf_moondance from Pixabay

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

24 − 23 =