Katakan “Bye” Pada Bullying di Sekolah

0
93

Pagi ini seorang murid menarik perhatian saya. Ia berlari-lari kecil dengan sangat terburu-buru sehingga tidak sengaja menabrak saya. Dialog kecil antara kami pun terjadi.

“Ada apa Sayang, mengapa berlari-lari begitu??“, tanya saya. “Ini Miss, aku mau bantu Ani ambilkan jacketnya yang tertinggal di ruang tunggu”, jawabnya dengan wajah kuatir. “Kalau tidak buru-buru, nanti dia marah marah dan tidak mau berteman lagi denganku, Miss. Dia galak, Miss.”, lanjutnya sambil berlalu.

Sebagai guru, saya ingin semua murid saya merasa aman dan nyaman saat berada disekolah baik secara fisik dan mental. Namun saya tahu, banyak hal bisa menjadi penghambat harapan itu terwujud. Salah satunya: bullying.

Secara garis besar, bullying merupakan tindakan berulang yang dilakukan oleh individu atau kelompok dan bertujuan membuat seseorang merasa lemah, tidak berdaya, atau tertekan.

Bullying, yang dalam bahasa Indonesia disebut penindasan, memiliki dampak psikologis negatif terhadap anak seperti depresi, rasa malu, rendah diri, maupun agresifitas. Tak hanya terhadap korban, tindakan ini juga diketahui mengakibatkan hambatan perkembangan terhadap pelakunya.

Sudahkah Kita Mengenali Jenis-jenisnya?

Ini dia beberapa jenis bullying yang sering terjadi di sekolah:

  1. Bullying fisik merupakan tindakan yang berbentuk kekerasan fisik. Dilakukan dengan cara memukul, menendang, mencubit, meludah dan lain-lain.
  2. Bullying verbal berbentuk kata-kata kasar, menghina dan merendahkan. Tujuannya untuk menyakiti perasaan atau mempermalukan.
  3. Bullying emosional. Dilakukan dengan cara mengucilkan dan mengacuhkan sehingga korban tertekan, kesepian, dan terisolasi.
  4. Cyber bullying. Tindakan bullying yang di lakukan lewat media internet atau teknologi digital. Tujuannya agar korban yang di-bully merasa malu dan merasa tidak ada lagi tempat yang aman untuknya.

Bagimana dengan occasional atau mutual conflict, apakah termasuk bullying?

Tidak. Occasional atau mutual conflict adalah pertengkaran yang biasa terjadi dalam kehidupan sosialisasi anak, dimana konflik tersebut diperlukan anak untuk belajar bernegosiasi, bermusyawarah dan membuat kesepakatan.

Apa yang dapat kita lakukan?

Dalam usaha mencegah anak menjadi korban ataupun pelaku bullying disekolah, kiranya kerjasama yang baik perlu dibangun oleh orangtua dan pihak sekolah melalui beberapa hal berikut ini:

I.  Komunikasi. Terjalinnya komunikasi yang baik dan efektif antara anak, orang tua dan guru akan melahirkan keterbukaan, rasa percaya, saling mendukung dan saling bantu. Hal ini tentunya memberikan kenyamanan bagi semua pihak.

Perubahan sikap anak saat menjadi korban atau pelaku seharusnya dapat terbaca oleh guru di sekolah ataupun orang tua di rumah. Maka di butuhkan informasi yang berkesinambungan antara kedua belah pihak untuk dapat membantu anak menghadapinya. Pun bantuan yang diberikan juga harus berkesinambungan baik disekolah atau pun dirumah.

Saat saya menghadapi Ani, sebagai contoh. Ia nyaman saja bercerita, saat saya mengkonfirmasi apa yang saya tahu mengenai perilakunya disekolah. Namun, untuk membantunya dengan cara yang tepat, saya tetap membutuhkan informasi mengenai perilakunya di luar sekolah. Untuk itu saya pun membuka jalur komunikasi dengan orang tua Ani, yang ternyata sangat cooperative dan supportive sehingga kondisi Ani dapat segera di sesuai kan.

II. Mengajarkan dan melatih anak-anak memiliki kecerdasan emosional, yaitu kemampuan anak mengenali emosi diri dan orang lain serta menyalurkan dan mengekspresikan emosi dengan cara yang tepat dan sehat.

Menurut Howard Gardner ada lima pokok utama kecerdasan emosional seseorang, yakni mampu menyadari dan mengelola emosi diri sendiri, memiliki kepekaan terhadap emosi orang lain, mampu merespon dan bernegosiasi dengan orang lain secara emosional, serta dapat menggunakan emosi sebagai alat untuk memotivasi diri. Tentunya hal ini tidak cukup hanya diajarkan dan dilatih oleh guru disekolah namun harus selaras dan sejalan dengan orang tua dirumah.

Tanpa bullying, sekolah akan menjadi tempat belajar yang aman, nyaman dan menyenangkan bagi anak-anak kita sehingga mereka mampu berkembang dengan maksimal baik secara fisik maupun mental.

Sumber Rujukan:
http://www.apa.org/research/action/bullying.
http://www.bullyingstatistic.org/content/school-bullying.html

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

33 + = 37