Teknologi dan aplikasi media sosial berkembang dengan sangat pesat. Hanya dengan satu “klik”, kita bisa mengetahui informasi dari berbagai belahan dunia. Tidak perlu pergi meninggalkan rumah, kita dapat berkomunikasi dengan banyak orang hanya bermodalkan telepon genggam. Semua serba cepat dan instan. Mungkin, sebagian besar sahabat CC kewalahan mengikuti canggihnya teknologi. Namun, tidak bagi anak remaja kita. Mereka berlomba untuk terus mengupgrade kemampuannya agar bisa mengikuti canggihnya zaman.

Menurut riset We Are Social, 61,8 persen dari total populasi Indonesia adalah pengguna media sosial aktif, sementara dari riset Sekolah Tinggi Sandi Negara (STSN) bersama Yahoo!, ditemukan bahwa kalangan remaja usia 15-19 tahun mendominasi pengguna internet di Indonesia sebanyak 64%.

Beragam aplikasi bermunculan sebagai media untuk bersosialisasi. Hanya dengan rebahan di tempat tidur, kita bisa mengetahui apa yang sedang dilakukan oleh teman di kota lain. Instagram, facebook, twitter, tik tok, youtube sudah menjadi santapan sehari – hari. Terlebih lagi, pandemic Covid-19 membuat remaja kita lebih banyak menghabiskan waktu di dunia maya

Adakah hal positif dari media sosial? 

Tidak dapat dipungkiri, aplikasi media sosial mempermudah interaksi dengan banyak orang tanpa terbatas ruang dan waktu. Khususnya selama masa pandemic Covid-19, interaksi proses belajar antara guru dan siswa tetap dapat dilakukan dari rumah masing – masing. Komunikasi dengan kerabat pun tetap dapat terjalin walaupun terpisah jarak. Bahkan, tidak menutup kemungkinan bahwa kita dapat berkenalan dengan teman baru di berbagai belahan dunia.

Image by Hatice EROL from Pixabay

Media sosial pun dapat membantu untuk mendapatkan beragam informasi aktual dengan sangat cepat. Kita dapat dengan mudah mengetahui perkembangan berita di sekitar kita. Beragam bentuk medsos juga dapat digunakan untuk menggali kreativitas serta mengekspresikan diri, misalnya dengan berbagi pengalaman di blog. Tentu tidak heran jika dari sekian manfaat yang dimiliki, menyebabkan media sosial menjadi salah satu kebutuhan pokok masyarakat kini.

Lalu, apa saja dampak negatif dari media sosial?

Sejumlah orang tua yang datang berkonsultasi kepada saya kerap khawatir karena anaknya berlebihan dalam menggunakan media sosial. Hal ini karena banyaknya dampak negatif yang bisa saja terjadi pada anak mereka. Media sosial dapat mempermudah komunikasi dengan orang–orang yang berada jauh dari kita. Namun, tanpa disadari juga dapat memperlebar jarak dengan orang–orang nyata di dekat kita. Misalnya, para remaja lebih asyik melihat foto–foto atau ucapan–ucapan teman di media sosial, dibandingkan mengobrol dengan orang tua, kakak, atau adik di rumah.

Hidup orang lain yang dilihat dari medsos pun menjadi standar kebahagiaan bagi diri remaja kita lho, sahabat CC. Pada awalnya, anak remaja kita tampak bahagia saat diajak berlibur ke pantai Pangandaran bersama keluarga. Namun setelah melihat postingan foto teman sedang berlibur ke luar negeri, maka ia tanpa sadar meningkatkan standar bahagianya. Dimana, ia akan bahagia jika dapat berlibur ke luar negeri seperti temannya yang dilihat di medsos. 

Image by ijmaki from Pixabay

Bukan hanya ‘standar bahagia’ yang terpatok pada postingan medsos. Perilaku maupun perkataan di media sosial juga menjadi ‘kiblat’ bagi para remaja sebagai sesuatu yang sedang trend saat ini, dan kemudian ditampilkan saat berkomunikasi dengan teman – temannya. Terkadang, remaja belum bisa memilah perilaku dan perkataan mana yang baik atau buruk untuk ditiru. Yang penting, mereka merasa spesial setelah berperilaku mengikuti trend pergaulan yang terpajang di medsos.  

Rasa rendah diri atau minder pun menjadi rentan dialami para remaja karena sering membandingkan hidupnya dengan hidup ‘indah’ orang lain yang terpajang di media sosial. Padahal, kehidupan yang terlihat di media sosial hanyalah 1% dari hidup nyata seseorang. 

Bermain media sosial terkadang membuat lupa waktu. Tidak terasa berjam – jam dilewati hanya untuk rebahan di kamar sambil menatap hp dan membuka media sosial. Waktu yang bisa dimanfaatkan untuk melakukan kegiatan produktif serta melatih keterampilan diri menjadi terbuang sia – sia. 

Bagaimana peran orang tua mendampingi remaja dalam menggunakan media sosial?

Agar para remaja dapat menggunakan media sosial secara bijak, maka orang tua perlu memberikan pendampingan. Akan sangat baik bila remaja dapat menggunakan media ini bersama dengan orang tua. Berikut beberapa tips pendampingan yang dapat dilakukan orang tua diantaranya:

  • Orang tua juga perlu update dan membuat akun-akun media sosial seperti yang dimiliki anak remajanya. Dengan begitu, orang tua lebih mudah memonitor tanpa harus membuat anak remajanya risih.
  • Coba ajak diskusi bersama tentang hal–hal yang ditemukan menarik, lucu, aneh, atau bahkan menyebalkan di medsos.
  • Contohkan seperti apa cara menggunakan medsos dengan baik, misalnya kata-kata santun saat memberi komentar dari postingan teman.
  • Orang tua juga dapat memberikan pandangan secara lebih objektif untuk menjembatani antara apa yang didapatkan remaja di dunia maya dengan apa yang terjadi di dunia nyata.

Tentunya tips-tips di atas dilakukan dengan cara mengobrol santai ya sahabat CC, jangan dalam bentuk kritik yang sifatnya menggurui. Ingat lho, remaja merupakan masa yang cenderung ‘sangat anti nih dengan kritik.

Perbanyak juga waktu interaksi secara nyata yang berkualitas pada anak remaja kita. Hal ini dapat dimulai dari interaksi keluarga di rumah. Buat suasana di rumah lebih menyenangkan dari pada “dunia” media sosial. Orang tua juga boleh loh menetapkan aturan waktu “bebas” gadget, misalnya pada jam 19.00 – 21.00 adalah waktu dimana orang tua maupun anak tidak boleh bermain gadget. Pada jam tersebut, orang tua dan anak memiliki quality time untuk dihabiskan bersama, seperti makan malam, menonton, dan mengobrol bersama. Kalaupun ada hal mendesak yang mengharuskan menggunakan handphone, maka orang tersebut harus meminta izin pada anggota keluarga lain karena quality time nya harus terpotong. Nah dengan begitu, remaja tetap dapat menyeimbangan kedekatan dan keterampilan komunikasinya antara dunia maya dan nyata.

Selain itu, orang tua juga dapat mendorong anak remajanya untuk lebih aktif melakukan beragam kegiatan yang dapat mengembangkan bakat dan minatnya, dibandingkan lebih banyak menghabiskan waktu bermain media sosial. Usia remaja adalah usia emas untuk mencoba beragam hal baru dan mengasah beragam keterampilan. Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan diantaranya adalah memasak bersama, olah raga, menjahit, atau menggambar/melukis. Jangan lupa, apresiasi dan beri semangat para remaja kita dalam mencoba berbagai kegiatan baru ya, Sahabat CC.

Sumber Bacaan :

  • Hurlock B. Elizabeth. 1980. DEVELOPMENT PSYCHOLOGY (A Little-Span Approach), Fifth Edition. McGraw-Hill, In
  • Secsio, Wilga., Nunung Nurwati, Meilanny Budiarti. 2016. Pengaruh Media Sosial terhadap Perilaku Remaja. Bandung : Universitas Padjadjaran

Sumber foto: Photo by Artem Podrez from Pexels

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

9 + 1 =