Bagaimana reaksi anak kita ketika melihat cacing untuk pertama kalinya? Mungkin ada yang menjerit, ada yang melompat menjauh, ada juga yang justru mendekati. Nah.. kalau ditinggal sendirian di kamar, bisa lain lagi reaksinya. Ada yang tenang-tenang saja, ada yang mengikuti kemana kita berjalan, ada juga yang menangis memanggil-manggil nama kita.

Bicara tentang “berani”, anak-anak bisa punya pendapat sendiri. Ketika diminta menggambarkan anak yang pemberani, Habibi (7 tahun) menggambar seorang anak yang sedang sendirian di bawah bulan dan bintang-bintang. Ooh.. ternyata maksudnya adalah anak yang berani sendirian saat malam dan gelap tiba. Di gambar kedua ia membuat anak yang sedang mengacungkan tangannya di kelas. Menurutnya, anak itu berani karena mau menjawab pertanyaan guru.

Sama atau beda dengan pendapat kita?

VIA – Institute on Character menyebutkan ada 3 tipe bravery, yaitu:

  1. Physical bravery (contohnya para pemadam kebakaran, polisi, atau tentara. Kalau anak-anak kita mungkin menghubungkannya dengan superhero yang berani melawan penjahat atau para pahlawan kemerdekaan yang berperang menghadapi penjajah).
  2. Psychological bravery (misalnya berani menghadapi kenyataan yang menyakitkan. Pada anak-anak contohnya berani tidur sendiri, berani bicara dengan orang asing, berani menunjukkan bakatnya,dan masih banyak lagi)
  3. Moral bravery (misalnya berani mengungkapkan kebenaran, berani membela yang benar meskipun tidak ada yang mendukung, dan sebagainya. Pada anak-anak, misalnya berani jujur, mengakui kesalahan, bertanggung jawab atas kesalahannya, membela teman yang di-bully, dan lainnya).

Anak kita bisa memiliki satu atau kombinasi dari ketiga tipe keberanian di atas.

Tidak ada anak yang 100% pemberani (dan tentunya 100% penakut)

Bisa saja si sulung berani sekali saat diajak bermain rollercoaster, namun langsung lari saat melihat cicak. Atau sebaliknya si bungsu tanpa ragu berbicara pada orang asing, namun takut sekali saat disuruh mengambil barang di kamar yang gelap. Setiap anak memiliki keberanian dan ketakutannya masing-masing.

Fima (6 tahun) mengatakan “Nanti kalo ada penjahat aku tendang pake jurus tendangan halililintaaar” sambil memperagakan kakinya menendang ke segala arah. “Memangnya kamu ga takut?” tanya saya, yang dijawabnya dengan “Nggak, kan tendangan halilintar bikin dia kabur nanti, hyaaattt!!”. Hebat ya Fima, namun malam harinya dia masih minta ditemani tidur karena takut bermimpi buruk.

Keberanian dan rasa takut anak juga bisa berubah sesuai usia dan pengalaman. Misalnya anak yang takut badut, setelah bertambah usia ia menyadari badut hanyalah orang biasa yang memakai kostum, akhirnya ia tak takut lagi. Atau anak kecil yang tadinya tidak mau berenang di kolam, menjadi berani setelah melihat sepupunya asyik bermain di kolam itu. Pengalaman Cania (8 tahun) lain lagi, sekarang ia tidak takut ulat lagi karena sudah tahu bahwa ulat akan menjadi kupu-kupu yang cantik.

Melabeli anak dengan sebutan “penakut” tidak membuatnya menjadi pemberani.

Di sekeliling kita orang tua membanggakan anaknya yang pemberani dan khawatir pada anaknya yang penakut. Padahal rasa takut adalah salah satu emosi dasar yang wajar muncul, apalagi jika anak merasa ada bahaya yang mengancam. Kita bisa lho membantu anak mengenali dan mengelola rasa takutnya.. jadi kita juga tidak bingung dan terus terjebak dengan pertanyaan “kenapa sih anak saya penakut sekali?”.

Yang jelas, menyebutnya “penakut” tidak akan membantu. Mungkin kita berharap anak akan termotivasi untuk lebih berani karena dia tidak suka disebut penakut. Anak yang suka tantangan atau yang harga dirinya tinggi bisa jadi akan berusaha melawan rasa takutnya. Namun perlu kita ingat, tidak semua anak seperti itu. Label negatif mudah sekali menempel, apalagi jika diulang terus-menerus dan tidak diikuti dengan treatment untuk menghilangkan rasa takutnya. Lebih jauh lagi, justru anak akan meyakini bahwa dirinya memang penakut. Akibatnya, ia cenderung pasif, tergantung pada orang lain, dan lari menghindari situasi saat merasa takut. Tentu bukan itu yang kita harapkan, bukan?

Jadi, bagaimana membuat anak kita lebih berani?

Ada 1001 tips pengasuhan yang bisa kita temukan dari berbagai sumber, namun tips pertama selalu tentang menjadi role model. Berapapun usia anak kita, berikan contoh nyata dari perilaku kita sehari-hari. Beranilah mengakui kesalahan kita dan bertanggung jawab, tampil di depan umum, menjelajahi daerah baru dan ajak anak bertualang bersama, mengungkapkan pendapat, dan seterusnya. Kalau kita sudah berhasil menjadi teladan, akan lebih mudah mengajak anak untuk mengembangkan keberaniannya.

Apakah harus 100% berani? Tentu tidak.. Rasa takut membuat kita lebih waspada, juga membuat kita mempertimbangkan banyak hal sebelum mengambil keputusan. Tunjukkan pada anak-anak, bahwa tidak apa-apa merasa takut. Yang harus dilakukan adalah mengenali dan mengelolanya agar tidak menghambat kita. Beberapa teknik mengurangi rasa takut pada anak diantaranya: pretend play, desensitization, positive imagery, reward bravery, dan self talk. Untuk yang ingin tahu lebih banyak, silakan dengarkan dalam rekaman talkshow berikut ini.

Mari Sahabat CC, jadikan anak-anak Indonesia anak yang berani!

Referensi: viacharacter.org & halaman youtube ChildrenCafe

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

1 + 4 =