”Aduuh… kok kamu begitu sih… harusnya pegangnya begini.. kan mama udah pernah ngajarin”. Terdengar seorang ibu sedang berusaha untuk memberikan umpan balik kepada Yadi (2,5 thn) yang sedang menuangkan air ke dalam gelas. Sang anak diam dan melihat ibunya memperagakan cara memegang gelas.
Raka (5 thn) berlari-lari di lapangan dan kemudian terjatuh. Ibu lalu mengatakan, ”Sudah Ibu bilang jangan lari-lari”. Atau respon lain misalnya, ”Jatuh lagi.. jatuh lagi” atau ”Kok bisa jatuh sih”. Kemudian ketika melihat baju Raka kotor, ibu berkata: ”Ya ampuun… bajunya kan baru diganti, jadi kotor lagi kan”.
Misyele dan Nadia (4 thn) sedang bermain bersama. Mereka kemudian tampak meringis menahan sakit karena baru saja tersandung kursi saat bermain kucing-kucingan. Mama Misyele berkomentar, ”Kamu tidak apa-apa kan, ayo jangan merengek lagi”. Sedangkan mama Nadia berkomentar, ”O… sepertinya lututmu nyeri ya? Ayo kita lihat mana yang sakit”.

Melihat dari sudut pandang anak

Mendampingi tumbuh kembang si buah hati merupakan pengalaman yang penuh dengan kejutan. Tidak hanya anak yang berkembang, orang tua juga belajar banyak dari proses ini. Bayi yang pada awalnya lemah dan dipenuhi segala kebutuhannya oleh orang dewasa perlahan-lahan mulai belajar untuk membantu dirinya sendiri. Ia mulai ingin menggunakan tangannya sendiri untuk memasukkan makanan ke mulutnya, mulai ingin mengancingkan bajunya sendiri, dan banyak hal lain yang ingin dilakukan anak. Ia pun ingin meniru dan ingin tahu apa saja yang dilakukan oleh orang-orang yang ada di sekitarnya. Disinilah terjadi proses belajar dan interaksi dengan orang dewasa.

Perilaku yang ditampilkan anak sebetulnya adalah cara mereka belajar untuk menguasai suatu keterampilan maupun mengenali lingkungan di sekitarnya.

Sekarang mari kita lihat dari sisi orang tua. Pada umumnya ketika anak masih bayi, orang tua dapat belajar untuk mengasuh bayi dengan cepat karena bayi masih bergantung sepenuhnya pada orang tua. Baru kemudian pada masa balita, kebanyakan orang tua mulai merasa kewalahan dengan berbagai perilaku yang ditampilkan anak. Seringkali orang tua kebingungan atau tidak tahu bagaimana memberikan respon yang tepat agar proses belajar yang sedang dilakukan anak terus berkembang, bukan malah berhenti atau justru mundur.

Berbagai respon yang kita tampilkan akan mengirimkan pesan tertentu kepada anak. Anak bisa saja menangkapnya sebagai penguatan untuk terus melakukan perilaku tertentu. Tapi sebaliknya, anak juga bisa menangkap pesan kita sebagai tanda untuk berhenti melakukan perilaku tersebut. Mari kita lihat contoh diatas:

  • Yadi: respon yang ditampilkan ibu membuat anak merasa tidak dimengerti, ibu marah. Efek yang dapat ditimbulkan adalah anak merasa takut untuk mencoba.
  • Raka: respon ibu dapat membuat anak merasa bahwa jatuh adalah suatu kesalahan dan baju lebih penting daripada nyeri yang anak rasakan.
  • Misyele: anak dapat merasa bahwa ia tidak dicintai. Ibu tidak peduli bahwa anak sekarang sedang menahan nyeri.
  • Nadia: respon inilah yang membuat anak merasa dimengerti. Bahwa saya boleh menangis ketika terluka.

Dari contoh-contoh diatas kita jadi lebih memahami bagaimana memberikan respon yang efektif kepada anak sehingga proses belajar anak akan terus berkembang tanpa merasa takut membuat kesalahan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

59 + = 63