Tak terasa, gadis kecil kita yang dulu baru belajar berjalan kini sudah beranjak remaja. Di usianya yang menjelang 10 tahun, ia seperti tak pernah kehabisan cerita tentang teman-temannya di sekolah. Tubuhnya meninggi, rambutnya memanjang, dan sebentar lagi ia akan mengalami fase jungkir balik pertamanya yang disebut pubertas. Dunianya akan berubah dan banyak pengalaman baru yang akan ia alami, salah satunya menstruasi.

Gerbang Menuju Kedewasaan

Secara biologis, menstruasi berarti sistem reproduksi anak sudah berfungsi penuh sehingga anak bisa hamil jika terjadi hubungan seksual. Sementara dalam agama Islam, menstruasi menandakan seorang anak perempuan sudah baligh. Artinya ia sudah wajib menjalani kewajiban-kewajiban sebagai seorang muslimah. Maka tidak heran jika banyak ibu yang mengatakan kepada anak perempuannya, bahwa menstruasi menandakan ia tengah berproses menjadi wanita dewasa.

Namun gampang-gampang susah menjelaskan konsep ini kepada remaja. Dari sisi kemampuan berpikir, pra remaja usia 10 – 12 dengan remaja 13 – 15 tahun berbeda. Remaja yang lebih tua, sudah dapat memahami hal-hal yang abstrak dan melakukan analisa sebab akibat yang lebih akurat. Sementara anak pra remaja masih membutuhkan contoh-contoh yang konkret dan sebaiknya diajak berdiskusi dengan bahasa yang lebih sederhana. Misalnya konsep “sudah bisa hamil”, tentu akan lebih mudah dipahami oleh remaja yang lebih tua yang di sekolah juga sudah dikenalkan dengan pelajaran tentang sistem reproduksi. Sebaliknya, untuk anak-anak pra remaja, memulai diskusi dari konsep “pubertas” akan lebih mudah mereka pahami karena lebih konkret dan tanda-tandanya dapat mereka lihat secara langsung.

Agar Anak Tak Cemas Hadapi Menstruasi Pertama

Bagi kita yang orang dewasa, menstruasi adalah hal yang normal dan tak perlu dikhawatirkan. Namun bagaimana dengan anak? Setiap pengalaman baru tentu membutuhkan kesiapan, termasuk menstruasi pertama yang kita tidak pernah tahu kapan datangnya. Untuk itu penting memperkenalkan proses alami ini sejak dini.

Usia TK

Tentu tidak perlu menyebut istilah menstruasi pada anak TK, namun kita bisa mulai dari memperkenalkan nama-nama bagian tubuh termasuk alat reproduksi. Gunakan gambar yang menarik, atau lagu, atau tunjukkan langsung pada anak. Untuk anak perempuan, ibu punya peranan lebih besar. Fokuskan pada perbedaan tubuh perempuan dan laki-laki, misalnya kalau di perut ibu bisa ada adik bayi, tapi di perut ayah tidak. Atau buah dada ibu tumbuh karena digunakan untuk menyusui, sebaliknya dada ayah tidak. Untuk alat kelamin juga dapat dijelaskan bahwa bentuknya berbeda antara laki-laki dan perempuan. Jangan lupa Sahabat, selalu tekankan bahwa ada anggota tubuh yang hanya boleh dilihat dan disentuh oleh diri sendiri (private/ personal parts).

Kelas 1-3 SD

Lagi-lagi peran ibu sangat besar. Ibu adalah contoh nyata bahwa seorang perempuan akan mengalami menstruasi. Kalau kita sedang ke supermarket, ajak si gadis kecil ke rak pembalut atau minta ia mengambilkannya. Jelaskan fungsinya dengan bahasa yang mudah dimengerti, misalnya untuk menampung darah haid, lalu boleh bercerita singkat bahwa menstruasi/ haid terjadi setiap bulan dan sangat normal bagi perempuan dewasa seperti ibu. Untuk yang beragama Islam, terkadang anak bertanya mengapa ibu tidak sholat pada waktu-waktu tertentu. Manfaatkan waktu itu untuk menjelaskan tentang menstruasi.

Kelas 4 SD sampai SMP

Saat usia anak sudah menginjak usia 10 tahun, mereka sudah bisa diajak berdiskusi tentang pubertas. Pubertas adalah sesuatu yang dapat mereka amati sehari-hari, baik pada diri sendiri maupun pada teman-teman sebayanya. Tanda-tanda pubertas awal seperti tumbuhnya payudara, tumbuhnya bulu di beberapa bagian tubuh, sampai keputihan, dapat membuat anak merasa cemas atau malu. Nah, apabila anak sudah memiliki bekal atau pengetahuan awal tentang ini, maka kecemasannya dapat berkurang. Termasuk kecemasan soal menstruasi.

Sebetulnya zaman sekarang berbicara tentang menstruasi pada anak tak terlalu sulit karena iklan produk-produk menstruasi sangat mudah diakses, mulai dari iklan tv, majalah, billboard di jalan, sampai iklan di internet. Jika dulu menstruasi dianggap sesuatu yang harus ditutupi, sekarang sudah dianggap hal yang normal dan tidak perlu dicemaskan.

Jangan lupa berikan informasi lain yang berhubungan seperti keluhan fisik yang mungkin muncul saat menstruasi. Meskipun normal namun anak harus siap jika muncul kram perut, perubahan mood yang tiba-tiba, sampai jerawat. Biasanya yang membuat anak malu soal menstruasi adalah akibat-akibat yang menyertainya, misalnya jerawat hormonal, pembalut yang “bocor”, merasa tidak enak kalau harus izin saat pelajaran olahraga, atau stigma-stigma lain yang melekat.

Umumnya, anak mendapat haid pertama di usia 11-12 tahun. Ada yang lebih awal di usia 9 tahun, ada pula yang lebih akhir di usia 15 tahun. Karena kita tidak tahu kapan menstruasi pertamanya akan datang, ada baiknya kita menyiapkan pembalut dan menyimpannya di kamar anak. Bisa juga kita siapkan di tas anak untuk berjaga-jaga.

Mendampinginya Saat Menstruasi Pertama

Biasanya reaksi pertama anak adalah bingung, benarkah saya sedang menstruasi? Dampingi anak dan berikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya. Anak perlu tau apa yang harus ia lakukan, bagaimana menggunakan pembalut dengan benar agar tidak bergeser, berapa lama sebelum mengganti pembalut, dan sebagainya. Awalnya anak mungkin akan sering sekali memeriksa apakah pembalutnya aman atau sudah perlu diganti, namun berikutnya ia akan bisa merasakan sendiri.

Yang juga perlu mendapat perhatian adalah soal kebersihan atau higienitas. Menggunakan pembalut yang bersih dan kering sampai ke bagaimana membuang bekas pembalut dengan benar. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menerbitkan panduan MKM (Manajemen Kebersihan Menstruasi) untuk orang tua dan guru dalam rangka mendampingi anak perempuan. Sementara untuk remajanya sendiri, Unicef Indonesia menyusun e-book yang sangat bagus berjudul Rahasia Dua Dunia yang menjelaskan mengenai menstruasi. Menariknya, buku elektronik ini tidak hanya bisa dibaca oleh remaja perempuan, namun juga dianjurkan untuk remaja laki-laki.

Beberapa hal lain yang perlu dipertimbangkan adalah memilih produk menstruasi yang dibutuhkan anak. Di Indonesia, penggunaan tampon atau menstrual cup tidak dianjurkan untuk remaja yang belum menikah karena takut merusak selaput dara. Maka pilihan yang paling populer tentu saja adalah pembalut. Jangan lupa pula untuk menjelaskan ke anak mengenai kemungkinan siklus menstruasi yang tidak menentu di awal, namun anak tidak perlu khawatir karena biasanya akan teratur setelah beberapa periode. Lalu untuk remaja yang sudah memperlihatkan ketertarikan pada lawan jenis, sudah bisa diajak berdiskusi tentang hubungan pertemanan yang sehat.

Sahabat CC, semoga kita dapat mendampingi remaja putri kita menghadapi menstruasi pertamanya dengan baik.

Photo by Alina Blumberg from Pexels

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

− 1 = 1