Sahabat CC, saat mengamati perkembangan anak, salah satu aspek yang paling mudah dilihat adalah pertumbuhan fisik. Dalam ilmu perkembangan, pertumbuhan fisik sangat terkait dengan kemampuan motorik atau gerak. Nah, perkembangan motorik ini terbagi lagi menjadi motorik kasar dan motorik halus.

Gerakan motorik kasar melibatkan aktivitas otot-otot besar, seperti otot tangan, lengan, dan otot kaki. Sebaliknya, gerakan motorik halus menggunakan otot kecil, misalnya tangan dan jari jemari. Pada anak, motorik kasar berkembang lebih dulu. Apa saja contoh kemampuan motorik kasar pada bayi usia 0-12 bulan? Mari kita bahas 3 di antaranya:

1. Duduk

Di usia 4 bulan, umumnya bayi yang didudukkan masih memerlukan bantuan. Namun karena otot punggung bagian bawah semakin menguat, ia dapat mencondongkan tubuh ke depan meskipun akan terjatuh lagi. Sementara di usia 5 bulan, ia mulai menggunakan tangannya untuk menopangnya dari depan ataupun samping. Selanjutnya di usia 6 bulan, ia mulai dapat melepas tangannya dan mempelajari bagaimana menjaga keseimbangan saat duduk.

Membantu bayi yang baru bisa duduk:

  • Letakkan bantal di sekeliling bayi agar jika ia jatuh, ia tidak takut mencoba lagi.
  • Jika di permukaan keras, dudukkan bayi di antara kaki kita yang terjulur agar ia mempunyai pegangan.
  • Untuk bayi yang sudah bisa menopang dengan tangannya, ajari ia melepaskan topangannya dengan menunjukkan mainan yang menarik. Dengan demikian, ia belajar menyeimbangkan tubuh tanpa ditopang lagi oleh tangannya.
  • Untuk bayi yang sudah bisa duduk tanpa bantuan tangan, latih keseimbangannya dengan menggantungkan mainan di depan wajahnya dan gerak-gerakkan ke atas bawah atau kanan kiri secara perlahan hingga tangannya ikut bergerak mengikuti arah mainan tersebut.

2. Merangkak

Ya, setelah beberapa bulan “terjebak” di tempatnya, kini ia akan mulai menjelajah dunia. Merangkak dimulai dengan gerakan menerjang saat ia ingin mendekati atau mengambil benda yang menarik minatnya, umumnya saat bayi berusia 5 bulan. Setiap bayi memiliki gaya merangkak yang berbeda. Tak selalu langsung maju, ada juga yang mundur dulu karena mereka cenderung menekan lengannya, bukan mendorongnya. Namun sampai ia berhasil mengangkat perut dan pinggulnya dari lantai, barulah ia siap untuk berpindah tempat. Merangkak juga tergolong kemampuan yang kompleks karena anak harus melatih otot leher, kepala, lengan, pergelangan tangan, punggung, pinggul, paha hingga betisnya. Ia juga mulai belajar mengoordinasikan gerakan tangan dan kakinya agar bisa bergerak maju mundur dengan nyaman dan seimbang.

Jika bayi sudah bisa merangkak, artinya kita harus ekstra mengawasi tempatnya bermain. Coba yuk perhatikan hal berikut:

  • Jika kita tak punya keranjang bayi khusus, pindahkan bayi ke kasur atau tempat tidur yang rendah. Pastikan selalu ada orang yang mengawasinya ya.
  • Pindahkan barang-barang yang dapat berbahaya baginya agar tak dapat dijangkau. Meskipun sepele, namun barang-barang kecil di kasur juga bisa membahayakan anak. Misalnya sisir, sendok, pulpen, karet rambut, peniti, benda-benda kecil yang dapat masuk mulut, dan sebagainya. Pastikan pula bahwa mainan yang kita sediakan 100% aman untuk bayi kita.

3. Berdiri dan Berjalan

Setelah bisa merangkak dengan sempurna, inilah saatnya bayi belajar berdiri sebelum nanti berjalan. Di usia 6-7 bulan, ia mulai tertarik pada dinding, pinggiran sofa, sampai tubuh orang tuanya sebagai tempat berpegangan. Awalnya ia belum dapat mengangkat tubuh bagian bawahnya, namun saat otot kakinya semakin kuat, akhirnya ia berhasil berdiri dengan bertumpu pada benda-benda. Kebutuhannya bereksplorasi mendorongnya untuk mulai melangkah, biasanya ke samping mengikuti bentuk benda yang menjadi pegangannya. Umumnya di usia 9-12 bulan, bayi sudah dapat berdiri dan berjalan sambil berpegangan. Sementara untuk kemampuan berjalan yang lebih lancar dan mulus, biasanya sudah dicapai anak di usia 18 bulan.

Perlukah kita memakai baby walker?

Di beberapa negara, penggunaan baby walker dilarang karena terbukti menyebabkan berbagai cedera serius pada anak, misalnya terpeleset dan terantuk benda keras atau jatuh dari tangga. Alasan lain para ahli perkembangan dan kesehatan tidak menganjurkan baby walker adalah karena otot-otot anak tidak dilatih secara benar saat menggunakannya. Mungkin karena terlalu dini sehingga otot belum siap, atau justru anak jadi sangat tergantung pada baby walker dan akhirnya otot-ototnya lemah. Di Indonesia, lebih baik memegangi tangan anak saat mengajarinya berjalan atau yang biasa kita sebut dengan “tetah”.

Sahabat CC, itulah beberapa tahapan perkembangan motorik kasar yang perlu dikuasai anak saat ia berusia 1 tahun. Ada banyak pula ahli berpendapat bahwa jika ada tahapan yang terlewati, anak akan mengalami dampak psikologisnya di kemudian hari. Misalnya setelah bisa duduk anak melewatkan tahapan merangkak dan langsung merayap untuk belajar berdiri. Jika anak kita mengalaminya, atau bila anak telah berusia 12 bulan namun ada tahapan yang belum ia kuasai, maka ada baiknya berkonsultasi dengan psikolog anak atau ahli tumbuh kembang untuk observasi lebih lanjut.

Referensi: The Baby Book oleh William & Martha Sears; Infants and Children oleh Laura E. Berk

Image by mengyan wang from Pixabay

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

79 − = 74