Orang tua terkadang tidak sabar pada anak yang bersembunyi di belakang punggung ibunya ketika menghadiri acara keluarga, tidak bersedia salam atau menyapa kerabat. Saat ada pentas, orang tua kadang diuji juga kesabarannya dengan anak yang menolak tampil bernyanyi di panggung. Anak-anak ini tampak mencemaskan terlalu banyak hal dan menghambat dirinya dari mendapat pengalaman baru yang dinilai perlu oleh orang tua. Kita biasa menyebut anak dengan perilaku ini dengan sebagai anak pemalu.

Tidak jarang orang tua merespon dengan kesal, tidak sabar, malu atau bahkan marah. Sebagian orang tua memaklumi dan menerima perilaku tersebut, menjuluki “anaknya memang pemalu”. Orang tua yang punya pembawaan selalu cepat dan senang tantangan sering kali kesulitan memahami alasan anak membatasi dirinya dari pengalaman-pengalaman yang dianggap “seru” oleh orang tua atau bahkan “perlu”.

Gaya setiap anak bertingkah laku, mengekspresikan emosi dan caranya merespon lingkungan dikenal sebagai temperamen.

Apabila dihubungkan dengan emosi, maka temperamen mempengaruhi perbedaan setiap anak mengekspresikan emosinya, seberapa kuat, berapa lama emosi itu bertahan dan seberapa cepat emosi itu mereda (Campos,2009 dalam Santrock). Dan tentu saja, sikap malu atau yang dalam istilah Jerome Kagan (2010) adalah inhibisi pada sesuatu yang tidak dikenal merupakan faktor bawaan. Hal ini sudah dapat diperhatikan semenjak bayi berusia 7 atau 9 bulan dimana ia tampak lebih cepat atau sering menghindar dan menangis saat menemui hal baru (Kagan, 2010).

Menurut dua orang Psikiater, Alexander Chess dan Stella Thomas, dari penelitian longitudinalnya, mereka membuat 3 kategori untuk temperamen anak :

  • Anak ‘mudah’ yang suasana hatinya positif, mudah mengikuti rutinitas yang diajarkan orang tua dan mudah beradaptasi pada hal baru,
  • Anak ‘sulit’ yang cepat bereaksi negatif dan sering menangis, sulit untuk menerapkan rutinitas dan sulit menerima perubahan lingkungan,
  • Anak ‘lambat panas’, yang tampak lebih pendiam, mudah menolak dan lambat menerima perubahan lingkungan.

Ternyata 40% anak masuk ke dalam kategori ‘mudah’, 10% ada pada kategori ‘sulit’, dan 15% merupakan ‘lambat panas’. Sisa 35%nya tidak dapat dikategorikan.

Sehingga dapat dikatakan kecemasan dan ketakutan yang dirasakan sebagian anak memang nyata. Namun tentunya kita tidak bisa melupakan faktor lingkungan atau pengasuhan yang dapat membantu sekitar 90% anak-anak yang memang lebih sensitif dibandingkan anak lain dalam merespon hal baru (Borba,2009). Lingkungan selain pengasuhan orang tua juga melibatkan sekolah dan pertemanan. Dan jika anak yang pemalu mendapatkan konteks lingkungan yang membantunya, di masa dewasa ia akan lebih terbuka, stabil secara emosi, dan menunjukkan perilaku yang lebih dekat pada kepribadian ekstrovert (Santrock,2010).

Referensi :
Borba, Michele,Ed.D. The Big Book of Parenting Solution. 2009. PT. Elex Media Komputindo
Santrock, John W.Child development : an introduction / John Santrock. — 13th ed. 2010. The Mc Graw – Hill Companies,Inc.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

17 − 11 =