Kata “trust” atau kepercayaan pasti sudah cukup familiar ya didengar oleh kita. Nah Sahabat CC, tahukah bahwa kepercayaan dari anak kepada orang tuanya perlu dibangun sejak bayi berusia 0 bulan? Bukan hanya itu, ternyata hal ini dapat berdampak bagaimana anak akan memandang dunianya lho. Yuk kita simak bahasannya.

Trust VS Mistrust

Mari kita ingat masa-masa tahun pertama anak lahir, pada saat itu tentu hal yang bisa dilakukan oleh bayi adalah menangis. Masa ini merupakan masa dimana seorang individu sangat bergantung kepada lingkungannya. Di masa tahun pertama, seorang bayi akan sangat bergantung secara penuh pada ibu atau pengasuh utamanya untuk bisa terus bertahan hidup, mendapat keamanan, dan kasih sayang. 

Hubungan antara bayi dengan dunianya bukan hanya mengenai kebutuhan biologis saja, melainkan juga sosial. Erik Erikson, salah satu tokoh psikologi, mengemukakan terdapat 8 tahapan perkembangan psikososial. Tahap pertamanya adalah Trust VS Mistrust yang terjadi pada usia 0 bulan sampai dengan 18 bulan (1,5 tahun). Erikson menyatakan bahwa interaksi bayi dengan ibu dapat menentukan bagaimana anak memaknai lingkungannya yang juga akan berdampak pada kepribadian anak.

Jika ibu atau pengasuh utama merespon dengan baik terhadap kebutuhan fisik dan menyediakan kasih sayang, cinta, dan keamanan yang cukup, maka bayi akan mengembangkan rasa percaya (trust) yang menjadi sikap anak dalam memandang dirinya dan orang lain.

Jika mereka sadar bahwa ibu akan menyediakan makanan secara teratur, mereka akan mempelajari basic trust atau kepercayaan dasar. Lalu jika mereka secara konsisten mendengar suara ibu yang menyenangkan dan berirama maka mereka akan lebih mengembangkan kepercayaan dasar. Jika mereka dapat mengandalkan lingkungan visual yang menarik, mereka akan semakin memperkuat kepercayaan dasar.

Nah sebaliknya jika ibu atau pengasuh utama menolak, tidak perhatian, atau tidak konsisten dengan perilakunya, bayi mungkin akan mengembangkan sikap tidak percaya dan curiga, takut, dan cemas. Bayi akan mempelajari ketidakpercayaan (mistrust) jika mereka menemukan tidak adanya kesesuaian antara kebutuhan sensoris oral dengan lingkungan. Misalnya disaat mereka menangis untuk minta makan, namun tidak ada lingkungan yang merespon. Lewat teorinya, Erikson juga mengemukakan bahwa mistrust ini dapat terjadi jika ibu tidak menunjukan perhatian khusus terhadap anak. Artinya Sahabat CC, kehadiran ibu atau pengasuh utama bukan cuma hanya sekedar hadir ya, tapi juga adanya interaksi dan perhatian yang dikhususkan pada anak.

Hope dan Withdrawal

Sahabat CC saat anak berhasil menyelesaikan masa krisis antara trust dan mistrust, maka akan terbentuk kekuatan dasar pada anak. Nah kekuatan dasar saat anak berhasil membentuk trust adalah hope yang berarti harapan atau kepercayaan. Kepercayaan bahwa keinginannya akan terpenuhi. Adanya harapan yang melibatkan perasaan percaya diri secara terus menerus untuk bisa menghadapi lingkungannya. Lewat pengalaman merasakan rasa lapar, sakit, dan tidak nyaman kemudian Ibu atau pengasuh utama datang untuk mengurangi rasa tidak nyaman tersebut, bayi akan belajar untuk memiliki harapan bahwa tekanan yang akan dirasakannya di masa depan akan bertemu dengan hasil yang memuaskan.

Sebaliknya ketika yang terbentuk adalah mistrust, maka yang muncul adalah withdrawal atau penarikan diri dari anak terhadap lingkungannya. Bayi yang memiliki kepercayaan akan mulai aktif mengeksplorasi lingkungan. Nah pada bayi yang melakukan penarikan diri, mereka lebih pasif dalam mengeksplorasi lingkungannya. Ini dapat berkaitan dengan perkembangan pada aspek lainnya. Misalnya perkembangan motorik anak seperti merangkak, berjalan, berdiri mungkin jadi lebih terlambat karena tidak seaktif anak pada usianya. Lalu kurangnya interaksi dengan lingkungan membuat stimulasi perkembangan kognitif dan bahasanya juga menjadi kurang. Tentu pada aspek sosial sangat berpengaruh, misalnya ketika memasuki usia sekolah anak akan kesulitan dalam beradaptasi dan berinteraksi bersama dengan teman-teman sekolahnya. Wah ternyata penting sekali ya sahabat CC untuk membangun trust pada anak sejak dini.

Yang Perlu Dilakukan Orang Tua

Jalan utama kita membangun trust dengan bayi adalah merespon ketika mereka mencoba berkomunikasi dengan kita. Tentu dengan usia 0-1,5 bulan mereka belum bisa menggunakan kata-kata untuk mengekspresikan hal yang diinginkannya. Bayi akan menggunakan strategi non verbal untuk mengkomunikasikan hal yang diinginkan dan dirasakannya. Strategi paling umum yang digunakan tentu menangis. 

Ternyata makna dari menangis ini berbeda-beda, umumnya ditunjukkan oleh bayi ketika mereka (1) membutuhkan kasih sayang karena kebutuhannya tidak terpenuhi, (2) membutuhkan kenyamanan lewat menggendong, memeluk, memberikan kehangatan lewat kontak fisik, (3) kebutuhan akan makanan, tentu kebutuhan ini adalah kebutuhan dasar biologis yang perlu dipenuhi.

Ada sedikit tips yang bisa dilakukan oleh Sahabat CC di rumah:

  1. Pastikan kebutuhan fisik anak terpenuhi, lewat makanan ketika mereka lapar dan membersihkan anak ketika kotor
  2. Memberi sentuhan yang hangat, lewat menggendong, memeluk, dan mencium
  3. Saat menggendong, berikan tatapan yang hangat jadi ibu bukan sekedar menggendong tapi membangun kontak yang berkualitas
  4. Ibu atau pengasuh utama dapat membangun kontak yang hangat lewat suara. Misalnya lewat nyanyian, berbincang hangat, membacakan cerita dengan irama yang menyenangkan
  5. Melakukan kegiatan bermain yang hangat dan menyenangkan bersama anak  

Kunci sukses dari membentuk trust ialah kita perlu peka dan terbiasa terhadap cara anak mengkomunikasikan kebutuhannya. Pada dasarnya setiap bayi berkomunikasi dengan caranya masing-masing, sehingga orang tua perlu memperhatikan dan menanggapi sinyal-sinyal seperti tangisan, gerak tubuh, suara pelan, atau bahkan kata-kata. Respon yang kita berikan akan membantu mereka belajar mempercayai kita dan dunia di sekitar mereka.

Semoga kita bisa menumbuhkan trust pada anak dan menjadikannya kekuatan terbesar untuk mereka menghadapi dunia. Seperti sebuah kutipan menarik dari salah satu penulis asal Amerika:

“I can trust in my parent’s love. And it strikes me that is a big thing to trust, a big thing to have had, no matter what else happens” – Ally Condie

(“Aku bisa percaya pada cinta orang tua saya. Dan menurut saya itu adalah hal yang besar untuk dipercaya, hal besar untuk dimiliki, tidak peduli apapun yang terjadi”)

Selamat belajar Sahabat CC! Jangan lupa untuk cek artikel “Aturan bermain untuk anak 1-3 tahun” yang berkaitan dengan tahap perkembangan psikososial di usia selanjutnya lho. Happy parenting!

Sumber bacaan:

Brunk, S. (2018). Developing Trust | Stepping Stone School. Retrieved April 22, 2021, from https://www.steppingstoneschool.com/developing-trust/

Cherry, K. (2021). Trust vs. Mistrust: Learn About Psychosocial Stage 1. Retrieved April 22, 2021, from https://www.verywellmind.com/trust-versus-mistrust-2795741

Feist, J., Feist, G. J., & Roberts, T.-A. (2018). Theories of Theories of Personality (9th ed.). USA: McGraw Hill.

Newman, Barbara  M., & Newman, Philip R. (2015). Development Through Life: A Psychosocial Approach (12th ed). USA: Cengage Learning.Schultz, D. P., & Schultz, S. E. (2017). Theories of Personality (11th ed.). USA: Cengage Learning.

Photo by Pixabay from Pexels

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

+ 72 = 77