Sahabat CC, apakah Anda termasuk orang tua yang bingung saat anak beranjak remaja? Kok dia jadi berubah ya, jarang cerita lagi ke orang tuanya, kalau dinasehati sering membantah atau malah cuek. Belum lagi kalau main dengan temannya suka lupa waktu, pulang-pulang langsung masuk kamar dan chat lagi dengan teman-temannya. Kadang kita bingung bagaimana cara melakukan komunikasi dengan mereka.

Tenang, Sahabat CC.. Anda tidak sendiri. Remaja memang istimewa. Coba ingat-ingat bagaimana kita saat remaja dulu, dan mari tempatkan diri kita dalam posisi mereka saat ini.

Beberapa Teori Perkembangan Remaja

Tokoh Psikologi Perkembangan Erik Erikson menempatkan usia remaja ke dalam tahap “identity vs role confusion”. Sederhananya seperti yang sering kita dengar, yaitu masa remaja adalah masa pencarian jati diri. Beranjak dari sosok anak menjadi sosok yang diharapkan mengikuti aturan-aturan sosial. Perjalanan remaja di masa transisi ini cukup krusial karena dapat menentukan bagaimana mereka memandang dirinya dan dunia di sekitarnya.

Ada pula teori ego stages dari Jane Loevinger yang menyatakan bahwa umumnya remaja berada dalam tahapan “conformist”. Artinya, remaja ingin menjadi bagian dari kelompok tertentu dan karena itu ia memiliki kecenderungan untuk mengikuti nilai atau perilaku dari kelompok tersebut. Di sisi lain, remaja bisa sangat panik dan cemas saat tidak diterima di kelompok yang ia sukai.

Teori-teori lain juga menyebutkan mengenai hubungan perubahan hormon dengan naik turunnya mood remaja serta mengapa sebagian remaja menjadi lebih sensitif akan hal-hal yang kita anggap biasa saja atau justru remaja menjadi nekat dan suka melanggar aturan.

Agar Remaja Mau Mendengarkan

Setelah kita memahami alasan di balik perubahan sikap anak remaja, kita sadar bahwa tahapan ini adalah masa yang cukup krusial bagi mereka. Penting bagi orang tua dan orang dewasa di sekitar anak untuk mendampingi remaja melewati masa transisi ini. Komunikasi yang efektif akan sangat membantu kita untuk tetap mengawal perkembangan mereka agar tumbuh optimal.

Nah, apakah komunikasi yang efektif hanya mempertimbangkan isi pesannya? Denise Witmer, seorang penulis topik parenting terkemuka di Amerika Serikat, pernah menulis tentang bagaimana menjaga supaya komunikasi dengan anak remaja tetap positif dan terbuka.

Dalam artikelnya yang berjudul “5 Nonverbal Communication Cues Parents Can Use”, ia menekankan pentingnya memperhatikan bahasa tubuh dan nada suara saat berbicara dengan remaja. Kita akan membahasnya satu persatu dan menambahkan beberapa catatan.

  • Gunakan nada suara yang tidak keras.

Intonasi, volume dan nada suara kita dapat merubah makna dari kalimat yang kita ucapkan. Menggunakan nada suara yang tidak keras, namun positif/ bersemangat, akan lebih menarik perhatian daripada nada suara yang pesimis.

Catatan CC: Ada kalanya remaja kita perlu ditegur atas perilaku buruknya, namun terbuka pada jawaban anak juga penting. Remaja perlu diberi kesempatan untuk membela diri atau memberikan alasan, dan sayangnya hal itu tidak akan terjadi jika belum-belum kita sudah marah-marah dengan nada suara tinggi. Nada suara yang tidak keras namun tegas, akan membuka kesempatan diskusi dan membuat remaja juga merasa didengarkan, meskipun kita tetap menjelaskan mengapa yang ia lakukan salah. Jadikan diskusi dengan kita sebagai media belajarnya, sehingga remaja sadar penuh mengapa ia ditegur.

  • Gunakan kontak mata ketika mendengarkan remaja kita bicara.

Kontak mata memperlihatkan bahwa kita tertarik pada apa yang dia katakan dan hal ini membangun komunikasi lebih lanjut.

Catatan CC: Menggunakan kontak mata saat berbicara tidak hanya menunjukkan ketertarikan, namun juga rasa hormat. Kita tentu senang bicara dengan orang yang menghormati kita bukan? Penting membangun kebiasaan ini dan mengajarkannya ke anak kita agar ia selalu melakukannya saat berbicara dengan orang lain.

  • Tersenyum sebanyak mungkin.

Penelitian menunjukkan bahwa wajah menjadi alat utama untuk menyampaikan perasaan sesorang, dan senyuman dapat membuat perasaan jadi senang. Jadi ketika kita tersenyum, ini meningkatkan sikap positif kita terhadap apa yang kita dan remaja sedang bicarakan, termasuk terhadap cara pandangnya tentang apa yang kita katakan.

Catatan CC: Jika kita tipe orang yang kurang ekspresif, mungkin tersenyum sebanyak mungkin menjadi pe-er khusus ya. Intinya adalah tampilkan wajah yang rileks dan tenang, tatapan yang teduh dan tidak menghakimi, serta tersenyum sewajarnya. Jadikan sesi komunikasi Anda dengan remaja sebagai sesi yang menyenangkan dan tidak mengancam baginya.

  • Gunakan bahasa tubuh yang terbuka.

Hindari menunjuk-nunjuk kepadanya, menyilangkan tangan di dada, dan berkacak pinggang. Gunakan lebih banyak gerakan-gerakan positif seperti mencondongkan tubuh ke arahnya, menganggukkan kepala, dan sebagainya untuk mendorong anak remaja kita untuk mau berbicara lebih banyak terhadap apa yang dia pikirkan.

Catatan CC: Couldn’t agree more. Hal ini sudah dipraktekkan di berbagai bidang, termasuk konseling. Bahasa tubuh yang positif mendorong keterbukaan dan kejujuran. Jika kita merasa remaja kita mulai jarang bercerita, mungkin bisa kita coba dengan bercerita lebih dulu tentang keseharian kita atau apa yang sedang kita rasakan. Jangan lupa gunakan gesture yang luwes dan rileks agar ia merasa kita nyaman saat bercerita padanya.

  • Jangan takut untuk menyentuh.

Pelukan dan kecupan selamat malam tetap penting, walaupun remaja kita mungkin sudah mulai risih untuk melakukannya. Pegang tangannya saat dia butuh dihibur, atau tepukan ringan di punggung jika kamu sedang memuji hasil karyanya. Sentuhan-sentuhan tersebut menunjukkan kasih sayang tanpa syarat kepada mereka dan sudah seharusnya kebiasaan itu tidak dihentikan meskipun anak sudah beranjak dewasa.

Catatan CC: Jika sejak kecil kita sudah terbiasa menyentuh anak sebagai ungkapan kasih sayang, maka baik sekali jika hal itu diteruskan. Jika remaja menolak, jangan sedih atau kecewa, maklumi saja sebagai bagian dari pertumbuhannya. Sebagai gantinya bisa berikan sentuhan ringan seperti contoh di atas. Bagi remaja, rasa hormat kita pada keinginan pribadinya sama pentingnya dengan rasa sayang kita padanya.

Demikianlah 5 tips menggunakan komunikasi non verbal untuk menjaga hubungan kita dengan anak ramaja. Selamat berdinamika dengan remaja Anda, Sahabat CC!

Referensi: William Crain, Theories of Development, Concept and Application, 4th ed; institute4learning.com; about.com

Photo by Flora Westbrook from Pexels

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

77 + = 84