Halo, Sahabat CC!

Berita tentang rencana pembukaan sekolah telah beredar di masyarakat. Meskipun belum dipastikan tanggalnya, namun kabarnya pemerintah tengah menyiapkan protokol penerapan “new normal” untuk anak sekolah.

Tanggapan masyarakat beragam. Ada yang setuju dengan syarat diberlakukan protokol kesehatan yang ketat, namun tak sedikit pula yang menentang. Paling tidak ada dua petisi di change.org yang menuntut pemerintah menunda dibukanya sekolah kembali selama masa pandemi. Jumlah yang menandatangi tak main-main, saat artikel ini ditulis, jumlahnya telah hampir mencapai 70.000 orang.

Retno Listyarti, Komisioner KPAI Bidang Pendidikan juga membuat survey uji coba di akun media sosial pribadinya. Secara khusus ia bertanya bagaimana tanggapan masyarakat terhadap rencana pemerintah membuka kembali sekolah tanggal 13 Juli 2020. Hasilnya menunjukkan 71 persen responden tak setuju sekolah dibuka kembali karena kondisi covid-19 yang masih mengkhawatirkan. Tanggapan ini muncul dari orang tua, tenaga kesehatan, dan juga para pendidik.

Children Cafe berbincang dengan 2 orang sahabat yang berprofesi sebagai guru yaitu Dian Mayasari dan Lia Krisnawati. Dian yang sekarang mengajar siswa kelas 2 SD di sebuah sekolah swasta di Tangerang, setuju bahwa tampaknya sekolah belum dapat dibuka dalam waktu dekat mengingat kasus covid-19 di Indonesia belum menunjukkan penurunan. Pendapatnya diamini oleh Lia, kontributor CC sekaligus seorang guru di sebuah sekolah bilingual di kawasan Tangerang. Selain karena keamanan dan keselamatan anak adalah yang utama, tidak mudah bagi guru untuk mengawasi setiap anak dalam mematuhi protokol kesehatan yang ketat. Apalagi sifat alami anak-anak yang suka berinteraksi secara langsung dengan teman-teman dekatnya. Belum lagi menjaga agar anak-anak selalu menggunakan masker, tidak menyentuh wajah, tidak sembarangan menyentuh benda-benda, dan sebagainya.

Sahabat CC, jika pemerintah memperpanjang masa Pendidikan Jarak Jauh atau school from home, berarti orang tua masih akan mendampingi anak-anak belajar di rumah. Setelah 2 bulan lamanya, tentu sebagian orang tua sudah dapat beradaptasi, namun tak sedikit yang nyatanya masih mengalami kesulitan. Dian menyarankan orang tua untuk tak segan berkomunikasi dengan guru jika ada kesulitan yang dihadapi agar dapat dicari solusinya bersama-sama. Misalnya jika ada orang tua yang bekerja sehingga baru dapat mendampingi anaknya belajar sepulang kerja. Guru tentu akan menyediakan waktu yang fleksibel bagi orang tua tertentu, misalnya anak bisa menyerahkan tugasnya di sore atau malam hari. Bagaimanapun komunikasi ini juga membantu guru, agar guru tidak 24 jam stand by di depan laptop menunggu anak menyerahkan tugas.

Komunikasi juga dapat membantu orang tua lebih memahami tugas anak. Lia mengatakan, terkadang ada orang tua yang ingin anaknya mendapat nilai sempurna sehingga malah membebani anaknya. Ia mencontohkan, pernah ada seorang siswa yang sampai diajak ibunya bekerja ke kantor ketika ditugaskan membuat slide presentasi. Atas suruhan ibunya, siswa tersebut mengumpulkan slide dengan animasi yang bisa bergerak, padahal guru hanya meminta memberi gambar dan suara ke dalam slidenya. Contoh lain diceritakan oleh Dian dimana ia pernah menugaskan murid-muridnya membuat video saat bermain bola. Ada seorang murid yang tak kunjung mengumpulkan tugas, dan usut punya usut karena ia tidak punya bola dan sang ayah belum sempat membelikan. Setelah berkomunikasi dengan guru, akhirnya anak menggunakan bola yang dibuat sendiri dari gulungan kertas. Dian mengingatkan bahwa program dan tugas-tugas saat PJJ atau school from home tidak dimaksudkan untuk membebani siswa dan orang tua, tapi justru membantu siswa agar tetap memiliki kegiatan belajar di rumah.

Lia yang saat ini tengah mengajar untuk kelas 6 SD, menyarankan orang tua untuk memberikan kepercayaan kepada anak. Siswa yang lebih besar biasanya sudah memiliki gadget sendiri sehingga mereka bisa mengatur jadwal belajar di rumah secara mandiri. Memang penting bagi orang tua untuk mengetahui program dan tugas yang diberikan oleh guru, namun tidak perlu setiap waktu mengingatkan anak bahkan selalu mendampingi saat anak belajar secara online. Salah satu cara menumbuhkan tanggung jawab anak adalah dengan memberinya kepercayaan. Dukungan kepercayaan akan semakin kuat apabila orang tua juga dapat membangun suasana belajar yang positif. Misalnya ingatkan mereka untuk tidak menunda-nunda atau menumpuk tugas, jelaskan keuntungan dan kerugiannya bila mereka melakukan hal itu.

Banyak orang tua yang mengeluh anak malas-malasan saat belajar di rumah. Nah, mungkin karena rutinitas sebelum sekolah benar-benar hilang saat periode school from home ini. Anak jadi begadang hingga larut malam, bangun siang, lebih banyak waktu bermain, dan sebagainya. Baik untuk anak-anak yang lebih kecil maupun yang besar, disiplin belajar juga sebaiknya tetap dijaga meskipun dari rumah. Misalnya dengan tetap menerapkan jam tidur yang tepat, tetap bangun pagi dan melakukan rutinitas pagi seperti sebelum berangkat sekolah, hingga berpakaian yang rapi dan berdoa sebelum mulai belajar. Selain anak lebih siap untuk belajar, hal-hal tersebut akan memudahkan anak saat nanti kembali bersekolah, mereka tidak perlu waktu yang lama untuk kembali menyesuaikan diri.

Oya, ada lagi yang hilang atau berkurang sejak diberlakukannya PJJ yaitu kesempatan anak untuk bermain dan bersosialisasi dengan teman sebayanya. Jika ada saudara atau anak lain di rumah, tentu dapat memenuhi kebutuhan bersosialisasi anak. Namun bila tidak ada, Dian menyarankan agar anak diberi kesempatan bermain dengan teman-teman di lingkungan sekitarnya, tentu dengan memperhatikan protokol kesehatan. Jika tidak memungkinkan, Lia memberikan alternatif untuk tetap terhubung secara online. Ia mencontohkan ada beberapa tugas dari sekolah yang membuat anak bertemu dengan anak lain, misalnya praktek sholat berjamaah, senam ritmik berkelompok, dan sebagainya. Tugas-tugas ini bisa dilakukan secara online. Jika anak rindu dengan teman-teman dan guru di sekolah, jangan hanya berinteraksi saat jam pelajaran, tapi buat juga kegiatan lain. Ia mencontohkan “nobar” atau nonton bareng dari rumah masing-masing dan bercakap-cakap melalui aplikasi video call. Ia juga pernah menginisiasi video call antara siswa-siswa yang dekat atau “nge-gank” dan membiarkan mereka saling bercerita seperti layaknya jika bertemu di sekolah. Tidak ada program semacam itu dari guru anak Anda? Kenapa tidak ajak orang tua siswa lainnya untuk mulai “mempertemukan” anak-anak dengan berbagai program online menarik? Memenuhi kebutuhan anak bersosialisasi akan mencegahnya merasa kesepian yang sering berujung pada stres. Jika anak stres tentu sulit ya untuk membuatnya semangat belajar di rumah.

Sebagai kesimpulan, Dian dan Lia menyarankan orang tua untuk menjadikan periode school from home ini sebagai kesempatan untuk mempererat hubungannya dengan anak. Sebanyak mungkin ciptakan quality time dan posisikan diri sebagai teman bagi anak.

Nah Sahabat CC, semoga tips-tips di atas semakin memudahkan Anda untuk mendukung anak selama periode school from home. Kami juga pernah menerbitkan artikel tentang perlunya mendampingi anak belajar dan beberapa tips saat membantu anak mengerjakan PR. Jangan lupa disimak ya!

Photo by August de Richelieu from Pexels

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

54 − 50 =