Tentunya sangat menyenangkan menghabiskan waktu dengan seseorang yang mengerti anda, membicarakan hobi dan minat yang sama bahkan memahami perasaan anda saat anda sedih, takut atau gembira. Hal ini bisa terjadi jika kita memiliki teman yang sering menghabiskan waktu bersama, melakukan kegiatan hobi bersama atau bahkan melalui permasalahan bersama.

Seandainya kita bisa menanyakan kepada anak balita kita mengenai teman yang menyenangkan seperti apa, tentunya mereka belum dapat memberikan jawaban yang mengarahkan orang tua untuk segera tahu apa yang harus dilakukannya. Biasanya yang kita hadapi adalah ajakan untuk bermain, rengekan untuk meminta dibantu, atau tangisan karena merasakan pengalaman yang menyedihkan.

Karena kemampuannya yang masih berkembang, maka hal tersebut yang akan ditunjukkannya. Sehingga tentunya orang tua perlu tahu karakteristik anak usia balita, apa yang dipikirkannya, apa yang disukai dan bagaimana ia merasakan dunianya. Bisa dikatakan bermain merupakan cara anak memahami lingkungannya. Sehingga bisa dibilang selain aktivitas kebersihan, istirahat dan makan, aktivitas anak adalah bermain. Sifat permainan anak usia balita, selain masih diwarnai banyak gerakan adalah yang berhubungan dengan perkembangan kemampuan berpikirnya, yaitu kemampuan balita yang sudah mampu mengingat dan membayangkan. Kegiatan bermain menjadi lebih seru lagi. Bantal bisa menjadi kuda, sumpit bisa menjadi tongkat sihir, dan tasbih bisa menjadi mahkota raja.

Salah satu yang berkembang di usia balita adalah eksplorasinya melalui bermain peran.

Lewat media bermain ini, anak mempelajari benda-benda yang ada di sekitarnya dengan lebih bebas karena ia yang menjadi sutradaranya. Selain itu bermain peran memuaskan rasa ingin tahunya. Pada situasi nyata, ia melihat ada pemadam kebakaran yang dinilai keren dan seperti superhero. Ia ingin menjadi seperti petugas pemadam kebakaran dan hal tersebut dapat ia lakukan dalam bermain peran. Hal ini seperti juga biasanya dilakukan anak perempuan yang ingin menjadi putri atau peri. Selain itu, hal ini menjadi asik bagi balita karena didukung kemampuannya memahami simbol atau berpikir dengan simbol. Bentuk simbol salah satunya adalah bahasa. Dengan bahasa, objek dan situasi dapat digabung-gabungkan, misalnya roket terbang atau nenek sihir naik sapu terbang.

Di bawah usia 2 tahun, anak masih memerlukan hubungan kongkrit dengan benda sesungguhnya misalnya seperti bermain menelepon papa menggunakan telepon mainan. Memasuki usia 3 tahun, kemampuan membayangkan menjadi lebih fleksibel. Ia sudah mampu membayangkan balok-balok yang dibariskan menjadi serangkaian kereta api.

Anak-anak yang bermain peran apalagi dengan teman atau orang tua dibandingkan dengan anak yang bermain sendiri misalnya saat menggambar atau menyusun puzzle memiliki keterampilan sosial yang lebih baik. Selain itu penelitian menyatakan bahwa bermain peran mengembangkan kemampuan atensi, ingatan yang kuat, berpikir logis, bahasa dan baca tulis, imajinasi, kreativitas, kemampuan merefkleksikan pikirannya sehingga dapat lebih paham, mengendalikan tindakan, dan memahami cara pandang orang lain (Bergen & Mauer, 2000; Berk, 2006, Elias & Berk, 2002)

Hal ini tentunya tidak berarti bermain sendiri tidak bermanfaat. Tentu ada manfaatnya, namun dengan kemampuan anak yang masih terbatas, bermain, selain bermain peranpun akan semakin bermanfaat dengan diberikan arahan dari orang tua atau orang dewasa lainnya.

Setelah memahami manfaat dan sifat anak di usia ini, orang tua dapat menjadi bagian dari kegiatan bermain peran anak. Selanjutnya dengan mengetahui sejauh mana pemahaman anak mengenai situasi yang sedang dimainkan, orang tua dapat mengembangkan banyak hal misalnya cara bertingkah laku yang sesuai di situasi tertentu, cara mengasuh adik atau sekedar bermain peran untuk mengembangkan imajinasi dan menciptakan suasana menyenangkan.

Apapun itu bentuknya, selalu ada manfaat dari bermain peran. Untuk memperluas tema-tema bermainnya, kenalkan situasi atau objek baru menggunakan buku bergambar, foto, kegiatan rekreasi yang nantinya akan menjadi tema bermain.

Bermain peranlah dengan benda-benda atau situasi yang sedang menarik perhatian anak. Menjadi bagian dari bermain peran anak tentunya penting karena orang tua menggunakan cara yang disuka dan dipahami anak untuk mengajarkan informasi-informasi baru. Kurangi mengarahkan permainan anak, bahkan ikut sertalah dalam ide yang diciptakan oleh anak.

Beri ide untuk menggunakan benda-benda yang ada disekitarnya menjadi permainan yang menarik dengan menggunakan suara, warna atau gerakan. Tentunya jika tidak terlalu mirip paling tidak keseruan memiliki seseorang yang membantu anak memperkaya ide atau menjadikan idenya jadi nyata akanlah sangat menyenangkan. Ditutup dengan kegiatan fisik yang menyalurkan energinya tentu akan semakin seru misalnya dengan berguling, loncat-loncat atau berkejar-kejaran. Dan orang tua bisa merasakan menjadi anak dan bahkan jadi teman favorit baginya.

 

1 KOMENTAR

  1. Saya punya anak 1 orang, perempuan, usia 4,6 tahun. Saya tidak mempelajari dunia anak dalam lingkungan pendidikan formal, tapi saya tahu anakku sangat senang dengan lingkungan keluarganya, khususnya kepada ibunya. Dari bangun tidur hingga tidur kembali – jadwal yang rata-rata rutin setiap harinya – dia sangat menikmati waktu bersama ibunya. Bagi dia, ibunya adalah teman terbaiknya. Bersama ibunya, dia kadang menjadi seorang puteri, berperan sebagai ibu guru sementara ibunya jadi murid, main kuda2an dan berbagai permainan lainnya. Pengetahuanku meyakini, Insya Allah potensi2nya akan berkembang maksimal melalui ” temannya” itu.

    Saya berharap, suatu saat nanti ketika dia sudah dewasa, dia akan berterimakasih pada ayahnya karena telah memilihkan ibu dan teman terbaik bagi dirinya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

5 + 3 =