Keponakan perempuan saya baru berusia 2 tahun. Sejak dia lancar berjalan, dia mengikuti ibunya kesana kemari termasuk ke dapur. Mengeluarkan piring yang sedang dikeringkan atau mengeluarkan bumbu dapur. Bumbu instan rencengan dia jadikan mainan, sampai bawang pun dia kupas.

Mungkin terpikir oleh kita, “Aduh bahaya kan? Banyak barang-barang yang bisa berbahaya untuknya.”

Memang bisa berbahaya, apalagi anak seusianya belum bisa langsung mengerti kalau kita beri tahu.

Tapi Sahabat CC, menurut saya anak bisa diberi peranan juga ketika ibu sedang sibuk di dapur. Karena apapun yang mereka lihat, bagi mereka itu adalah hal yang bisa dimainkan dan dipelajari.

Ibu bisa menyediakan aktivitas untuk mereka. Coba beri batasan dan aturannya. “Oke, Adik bantu Mama ya. Tuangkan air dari gelas yang besar ke gelas yang kecil.” atau “Adik pindahkan bawang ini dari mangkuk biru ke mangkuk yang hijau, pakai sendok ya.” Gunakan bahasa yang sederhana dan langkah demi langkahnya jelas bagi anak.

Di sekolah tempat saya mengajar, metode ini masuk ke dalam pelajaran Practical Life Skill atau Praktik Kehidupan Sehari-hari. Anak-anak belajar menuang, memindahkan, membuka dan menutup, membersihkan debu, menyapu hingga memotong juga.

Sumber: pixabay.com

“Apa nggak berat anak – anak harus melakukan semacam pekerjaan rumah begitu?”

Ya.. jangan mengharapkan hasil yang sempurna juga, Sahabat CC. Kita dapat mengajarkan skillnya dan jangan lupa bahwa untuk mereka ini bukan bekerja apalagi belajar, melainkan bermain. Mereka sibuk tapi sambil belajar sesuatu hal yang dapat mereka praktekan di kehidupan sehari-hari.

Batasan apa yang perlu kita terapkan?

Peralatan yang digunakan pastikan tidak berbahaya. Jika ingin menggunakan pecah belah pastikan orangtua menemani mereka. Anak – anak bisa diminta membantu mengoles roti, gunakan pisau roti yang tidak tajam namun tetap kenalkan cara menggunakannya, apa bahayanya jika tidak berhati – hati. Ketika ibu memasak sop misalnya, berikan tugas pada mereka untuk memotong bahannya. Tapi tak perlu ditegur bila bentuknya tidak karuan. Percaya diri dan keyakinan bahwa “aku bisa” akan dapat membantu proses belajar dan kemandirian mereka.

Sumber: pixabay.com

Tujuan kita setidaknya mereka bisa untuk membantu diri mereka sendiri dalam melakukan sesuatu. Kemandirian ini bisa dilatih sejak kecil sehingga anak terbiasa untuk mencoba melakukan segala sesuatunya sendiri sebelum meminta bantuan orang lain. Menjadi tugas kita sebagai pendampingnya untuk membantu mereka mencapai hal itu.

 

Selamat bersenang-senang dengan anak-anak kita!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here