Ada anekdot yang entah siapa pengarangnya namun cukup menggelitik telinga kita. Ceritanya tentang seorang gadis cantik, sangat cantik malah, namun kemampuan otaknya tidaklah secantik rupanya. Bisa dikatakan seorang gadis yang sangat cantik namun juga sangat bodoh.

Nah, si gadis cantik ini meskipun bodoh ternyata mempunyai rencana yang cukup brilian untuk masa depannya. Yang dipikirkannya adalah jika dia sudah berumah tangga kelak maka anak-anaknya jangan sampai bodoh seperti dirinya. Dibenaknya sudah terbayang calon suami yang bagaimana yang sesuai dengan cita-citanya. Karena dia bodoh maka suaminya haruslah seseorang yang sangat pintar.

Tersebutlah ada seorang profesor yang melamar gadis cantik itu. Namanya profesor pastilah orangnya pintar, menurut sang gadis cantik. Meskipun sesungguhnya tampang profesor itu jauh dibawah standar, namun karena cita-cita untuk mendapatkan keturunan yang pandai membuat sang gadis cantik menerima lamaran profesor itu dengan harapan kelak akan lahir dari rahimnya anak-anak yang tampan dan cantik seperti ibunya dan juga pintar seperti bapaknya.

Singkat cerita, menikahlah mereka berdua dan kemudian lahirlah anak-anak yang lucu dan menggemaskan. Namun harapan sang gadis cantik untuk mendapatkan anak yang cerdas seperti bapaknya dan cantik seperti ibunya ternyata jauh panggang dari api, karena anak-anak mereka ternyata bodoh seperti ibunya dan jelek seperti bapaknya…

Ya, itu hanyalah cerita rekaan tentang bagaimana orang tua menginginkan anak yang sesuai dengan “cita-rasa”nya. Anak yang kita anggap seperti adonan tepung untuk roti yang bisa kita bentuk sekehendak hati kita.

Betapa banyak orang tua yang memaksakan kehendaknya dengan dalih itu semua untuk masa depan anaknya agar lebih terarah dan lebih baik. Dan betapa banyak anak-anak kita yang akhirnya depresi akibat tekanan dari orang tuanya sehingga mereka “melawan” dengan melakukan tindakan-tindakan yang justru bertentangan dengan orang tuanya.

Seorang ayah yang kebetulan dokter menginginkan anaknya kelak harus menjadi dokter juga meskipun anaknya tak punya kemampuan maupun minat untuk menjadi dokter. Mungkin anaknya malahan ingin menjadi seorang pelukis sesuai bakat terpendamnya namun sang ayah bisa saja menganggapnya sebagai pembangkangan.

Seorang teman pernah minta nasehat kepada saya, “Mas, gimana sih cara mendidik anak yang baik? Anak-anaknya Mas kayaknya pinter-pinter dan kalem-kalem begitu?”.

Saya hanya bisa nyengir. “ Gimana ya, bingung saya mau menjawabnya. Soalnya saya nggak punya standar dan panduan dalam mendidik anak. Saya biarkan mengalir apa adanya. Saya mungkin hanya membuat dan menjaga saluran agar alirannya tidak kemana-mana dan tetap menuju ke muara.”

Teman saya itu pasti tambah bingung dengan jawaban saya itu. Hehehe.. biarin ajalah..

Ya, sesungguhnya bagi saya tak ada SOP (Standard Operating Procedure) atau pedoman pokok cara mendidik anak agar sukses seperti halnya sekolah atau universitas yang dapat mencetak sarjana dengan standar baku,  prosedur yang jelas serta terukur secara kuantitatif.

Mendidik anak itu lebih kepada by cases serta trial & error. Kenapa?

Karena setiap anak dilahirkan dengan keunikan masing-masing. Setiap anak membutuhkan penanganan yang berbeda satu dengan yang lainnya meskipun dengan problem yang sama. Kita mampu menyelesaikan suatu problem pada anak dengan satu solusi, namun solusi tersebut ternyata tidak membawa hasil pada anak yang berbeda.

“Mendidik anak itu bagaikan seni yang mungkin tak dimengerti oleh orang lain, hanya kita sendiri yang paham apa maksudnya.”

Sebagai contoh, anak saya yang pertama ketika diminta untuk melakukan sesuatu maka biasanya dia akan langsung mengerjakannya. Berbeda dengan sang adik, ketika kita minta untuk mengerjakan sesuatu maka selalu saja saya harus beradu argumentasi dengannya meskipun pada akhirnya dia akan mengerjakannya juga. Nah, problemnya adalah ketika mereka berdua sama-sama tidak mau untuk mengerjakan tugas yang saya berikan maka penyelesaiannya tak bisa sama untuk mereka. Buat sang kakak mungkin bisa berhasil dengan pendekatan persuasif namun tidak buat sang adik.

Begitulah, mendidik anak itu buat kita, para orang tua, berarti harus selalu siap belajar setiap waktu tanpa ada jeda sedikitpun. Mungkin bisa saja kita bertanya kepada mereka yang lebih berpengalaman atau konsultasi kepada ahlinya, namun dalam menerapkannya tetaplah tidak selalu mulus dan lancar. Karena mereka adalah mahluk yang sama dengan kita, meski lahir dari rahim kita namun mempunyai karakter, keinginan, hasrat, minat dan jiwa yang sungguh jauh berbeda.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here