Zaman now, berbagi ilmu tak lagi harus melalui tatap mata langsung. Seperti yang diinisiasi oleh Parenting&Parenthink! Group di aplikasi Whatsapp yang terbuka untuk umum ini rutin memberikan materi setiap minggu untuk para anggotanya.

Awal April ini, Children Cafe berkesempatan untuk berbagi ilmu dan pengalaman bersama lebih dari 200 anggota group Parenting&Parenthink! Kali ini tema yang dibahas adalah remaja. Nuri Indira Dewi dari Children Café mengawali sesi dengan memberikan materi yang bersumber dari artikel “Remaja dan Orang Tua, Teman atau Lawan”. Sesi ini segera dilanjutkan dengan tanya jawab. Yuk, kita simak beberapa pertanyaan yang muncul beserta jawabannya.

Q&A 1
Usia berapakah anak bisa dikatakan remaja, melihat perkembangan jaman now?

Pendapat para ahli sangat beragam. Ada yang membagi masa remaja menjadi 3 bagian, yaitu remaja awal, remaja menengah, dan remaja akhir dengan range usia 12-18 tahun. Ada pula yang menambahkan bahwa tanda-tanda pra remaja dapat mulai muncul di usia 9-10 tahun, khususnya yang berkaitan dengan fisik dan pubertas. WHO bahkan menyatakan masa remaja tak hanya berakhir di usia 19 tahun namun hingga usia 24 tahun. Pernyataan ini didasari oleh kenyataan bahwa usia kerja, berkomitmen dengan pasangan, dan menikah juga sudah bergeser. Intinya, untuk menjawab usia berapa yang tergolong remaja, kita harus melihat dari banyak aspek yaitu pertumbuhan fisik dan hormonal, aspek kognitif, emosi, moral, dan juga sosial.

Q&A 2
Anak saya laki-laki dan sudah menjelang remaja, sebentar lagi SMP. Dia sering sekali berkata tidak mampu atas semua hal padahal belum dicoba. Menurut saya sebetulnya dia bisa dan mampu, hanya saja dia enggan karena menurut dia susah dan dia tidak sanggup. Selain itu, dia juga sering mengeluh, semua serba menyedihkan, seakan-akan hidup ini ga ada enaknya. Saya harus bagaimana menghadapinya?

Pada sebuah talkshow di radio, saya pernah berbagi mengenai self-efficacy yaitu keyakinan pribadi tentang kemampuan diri melakukan sesuatu. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi bagaimana seseorang memandang kemampuannya, misalnya kegagalan atau keberhasilan sebelumnya, melalui pengalaman orang lain, bisa juga dari pendapat diri maupun orang lain yang disampaikan secara verbal.

Di childrencafe.com, kami pernah memuat sebuah artikel mengenai positive self-talk yang dapat membantu anak yang memiliki self-efficacy rendah. Teknik yang digunakan sangat sederhana, yaitu mengulang-ngulang sugesti secara verbal, yang dilakukan saat anak dalam keadaan tenang dan rileks. Kuncinya adalah konsisten, karena semakin sering diulang, maka akan semakin melekat dalam alam bawah sadar anak. Untuk anak ini, contoh kata-kata yang bisa ia ucapkan berulang-ulang misalnya “Aku bisa menghadapi tantangan”, “Aku tidak mudah menyerah”, “Aku pasti menemukan solusi dari masalah yang saya hadapi”, “Tantangan membuatku lebih kuat”, “Aku sukses”, dan seterusnya. Cara ini juga berguna untuk membantu anak melihat dunia dan kenyataan di sekelilingnya secara lebih positif. Misalnya dengan mengganti kata-kata sugestifnya dengan “Dunia ini indah”, “Kebahagiaan datang dari diri sendiri”, atau “Jika aku sedih, aku akan mencari cara untuk tersenyum lagi”, “Aku akan baik-baik saja”, dan seterusnya.

Ibu dan Ayah juga dapat membantu anak dengan memberikan sugesti positif yang menguatkan. Hindari melabeli anak dengan sebutan negatif, misalnya “malas”, “payah”, dan sebagainya. Apresiasi setiap hasil kerja anak meskipun belum maksimal dan bantu ia berdiskusi saat mencari solusi dari masalah yang tengah dihadapi.

Q&A 3
Bagaimana jika anak sulung saya yang usianya sudah 12,5 tahun masih sangat kekanak-kanakan? Ia tidak mau jadi teladan untuk adik-adiknya, kemudian apa-apa harus diingatkan misalnya disuruh ibadah maupun belajar, seringkali pura-pura tidak dengar dan malah asyik dengan gadgetnya. Ia juga sering tidak mau mengalah dengan adik-adiknya. Jika saya nasehati, ia bilang “Aku kan masih kecil” dan tidak mau dibilang anak remaja ataupun dewasa. Jarak usia dengan adik-adiknya terpaut 5 dan 7 tahun.

Meskipun tidak selalu ada hubungannya, namun jarak yang jauh dengan adik-adiknya bisa saja berpengaruh. Kondisinya anak ini terbiasa menjadi anak tunggal selama 5 tahun. Mungkin ia merasa selama ini tidak harus menjadi contoh bagi siapa-siapa, karenanya bisa saja ia merasa tidak perlu mengembangkan perilaku bertanggung jawab, menjadi contoh yang baik, mengalah, dan perilaku-perilaku lainnya yang biasanya dihubungkan dengan kedewasaan.

Teman saya juga pernah punya masalah yang sama. Anaknya terkesan “suka-suka” dan tidak mau mendengarkan orang tuanya. Kemudian dia berefleksi, mencari tau kira-kira apa penyebabnya dan bagaimana selama ini ia berperilaku ke anaknya. Teman saya ini akhirnya menemukan bahwa ia mudah sekali emosi dan sangat mengontrol. Artinya strict sekali terhadap aturan di rumah dan langsung marah kalau anak tidak mengikuti.

Kemudian dia mencoba untuk kompromi dengan anaknya, yaitu dengan mendiskusikan kembali aturan-aturan yang ada di rumah dan mengajak anak untuk memberi pendapat. Misalnya untuk aturan membereskan tempat tidur sendiri, kalau dilanggar konsekuensinya apa, lalu bagaimana supaya jangan sampai melanggar, apa yang ibu atau ayahnya bisa bantu agar anak dapat berkomitmen dengan aturan ini, dan seterusnya. Dia juga mencoba mengelola emosinya dengan tidak langsung marah di depan anak, tapi mengambil waktu sendiri untuk meredakan marahnya dulu baru kemudian mendatangi anaknya dan baru berbicara tentang hal yang membuatnya marah

Ibu bersama Ayah mungkin bisa juga mencoba hal ini. Mulai berefleksi, mencoba melihat akar masalahnya dan apa ada perilaku atau pola pengasuhan kita yang perlu diperbaiki.

Kepada anak juga perlu mulai diberikan tanggung jawab. Misalnya ia dibolehkan mengatur waktu belajarnya sendiri, namun harus berkomitmen. Berikan pula tugas-tugas di rumah, dimana ia bisa bergantian atau mengajak adik-adiknya juga untuk menyelesaikan tugas-tugas itu.

Karena anak sudah remaja, sebetulnya sudah enak untuk diajak berdiskusi. Remaja memang ingin punya kontrol terhadap dirinya, jadi tugas kita menyediakan ruang yang cukup untuk ia mengekspresikan diri namun tetap dikelilingi pagar-pagar yang jelas.

Nah Sahabat CC, apakah pertanyaan-pertanyaan diatas juga lekat dengan keseharian Anda mengasuh si remaja? Semoga menambah pengetahuan dan wawasan kita tentang bersahabat dengan remaja ya.

Sampai jumpa di artikel yang lain!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here