Q & A: Sulitkah Mengasuh Anak Sambil Bekerja?

0
109

Halo Sahabat CC, apakah Anda seorang ibu bekerja? Obrolan tentang ibu bekerja memang tak pernah sepi partisipan ya, setidaknya Children Cafe merasakannya pada saat diundang oleh Jumma Kids. Brand kids clothing asal Bandung ini konsisten dengan kegiatan Jumma Care-nya, dan di penghujung Oktober lalu puluhan ibu bekerja berkumpul dan berbagi mengenai pengalaman dan pertanyaannya seputar pengasuhan terbaik yang dapat mereka lakukan.

Nuri Indira Dewi, psikolog anak dari Children Cafe mengawali sesi dengan beberapa kunci pengasuhan untuk ibu bekerja. Apa saja? Ini dia..

1. Terima dulu kondisi kita sebagai ibu yang bekerja. Hapus kekhawatiran atau rasa bersalah yang dapat berujung pada stres, dengan mengubah mindset bahwa bekerja adalah keputusan kita, dan kita dapat menemukan solusi dari masalah-masalah yang mungkin saja muncul di kemudian hari.

2. Alokasikan waktu kita untuk mengasuh anak, untuk bekerja, dan untuk menjaga kesehatan fisik dan mental. Jangan lupakan “me time” sebagai salah satu cara untuk mereduksi stres kita akibat banyaknya peran yang harus kita jalankan.

3. Sependek apapun waktu yang kita miliki bersama anak, penting untuk membuatnya berkualitas. Ini penting, bukan hanya agar kita dapat melihat dan menstimulasi perkembangan anak, tapi juga agar hubungan dan kedekatan kita dengan anak tetap terjaga dengan baik.

4. Kenali anak kita, mulai dari perkembangan sesuai usianya, karakter, hobi, minat, dan bahkan hal-hal yang kurang ia sukai. Dengan berbekal pengetahuan tentang anak kita, ibu akan lebih mudah menciptakan waktu yang berkualitas.

5. Kenali dan bangun sistem pendukung. Suami diharapkan dapat menjadi pendukung utama dalam hal pengasuhan pada anak. Bersama-sama merumuskan bagaimana membesarkan anak dan saling berbagi tugas. Jadi komunikasi yang baik antara ibu bekerja dan sang suami sangat perlu dibangun.

6. Keluarga, sahabat, dan bahkan teman kantor juga dapat menjadi sistem pendukung kita. Kehadiran mereka sangat terasa saat kita membutuhkan bantuan untuk menjaga anak, solusi dari masalah yang muncul, atau sekedar motivasi. Mencari dan memilih day care, sekolah, atau baby sitter yang satu visi dan misi dengan kita dalam hal pengasuhan, juga dapat membantu anak tetap mendapatkan stimulasi yang dibutuhkannya.

Selama sharing session yang berlangsung selama 2 jam itu, cukup banyak pertanyaan yang dilontarkan. Yuk, kita simak beberapa pertanyaan dan jawabannya, siapa tahu Anda juga mengalaminya.

Q #1

Q : Kadang ada pekerjaan kantor yang harus dibawa pulang, Tapi sulit bisa fokus karena anak saya ngajak ngobrol dan main terus. Kadang emosi karena udah capek dan harus selesai kerjaannya. Solusinya bagaimana ya?

A : Karena hal ini banyak dialami ibu bekerja, ada beberapa masukan juga dari peserta lain. Diantaranya adalah sengaja memberikan waktu dulu untuk anak, setelah itu baru meneruskan pekerjaan. Banyak yang setuju cara ini, karena anak tentu ingin punya waktu dengan ibunya saat kita pulang kantor. Namun jika memang terpaksa membawa pulang pekerjaan, boleh saja sejak awal sebelum bermain atau menghabiskan waktu dengan anak kita sudah memberikan penjelasan bahwa malam ini ada hal lain yang harus kita kerjakan. Artinya anak paham bahwa kita tetap menemani, namun sampai batas waktu tertentu. Siapa yang menentukan waktunya? Kalau anak masih relatif kecil, kita dapat menentukan, namun apabila ia sudah bisa diajak berdiskusi, silakan bersepakat. O iya, agar tak emosi, boleh lho ibu mandi air hangat atau bersantai sejenak sebelum menemani anak, supaya merasa lebih segar dan moodnya terjaga baik 🙂

Q #2

Q : Bagaimana ya cara menciptakan quality time dengan anak remaja? Kadang saat saya pulang kantor, dia sudah asyik dengan hpnya di kamar dan malah chatting dengan teman-temannya.

A : Hmm.. kadang-kadang kita berpikir kalau anaknya sudah semakin besar, ibu bekerja tidak terlalu khawatir lagi ya? Ternyata tetap ada kondisi khusus yang butuh perhatian. Memang, anak remaja kita umumnya lebih dekat dengan teman sebayanya, karena di masa-masa inilah sosok teman begitu penting untuk mereka. Anak remaja kita akan merasa tidak senang kalau tidak punya teman, ditolak oleh lingkungan pergaulan, atau dipandang berbeda dari teman-temannya. Kalau kita sudah paham mengenai ini, maka quality time bisa diciptakan dengan cara yang berbeda. Tidak harus mendampingi anak melakukan aktifitas tertentu, namun bisa saja sepakati bahwa makan malam bersama bisa diisi dengan saling bercerita. Umumnya di akhir pekan juga lebih banyak waktu yang bisa kita habiskan dengan remaja kita. Yang penting mencoba berpikir seperti mereka dan cari kegiatan yang sesuai minat mereka juga. Atau bisa jadi, sebetulnya anak remaja kita ingin banyak bercerita namun merasa kita tidak akan memahami, mungkin saja karena kita belum berusaha menempatkan diri sebagai orang tua sekaligus teman bagi mereka.

Q #3

Q : Bagaimana kalau sifat pekerjaan saya dan suami lama di luar kota, akibatnya kami cuma bisa bertemu anak setelah bekerja 5 hari. Apakah ini mempengaruhi perkembangan anak? Oiya, kenapa sih anak-anak kalau ada saya dan suami jadi lebih “bertingkah”? Padahal kata yang jaga, sehari-harinya mereka lebih menurut dan tidak cari perhatian berlebihan.

A : Ini jadi sifat klasik anak-anak ya, dengan orang tua atau significant othersnya memang kadang ada kecenderungan untuk ingin diperhatikan. Apalagi jika ibu dan ayah sama-sama bekerja dan lebih lama menghabiskan waktu di kantor daripada dengan anak-anak. Winny Caprina dari Jumma Kids juga menambahkan bahwa saat bersama orang tuanya, anak-anak menemukan comfort zone dan merasa lebih bebas untuk menjadi diri sendiri. Sementara dengan orang lain, mereka lebih menahan diri karena belum tahu apakah akan dimarahi atau dibolehkan, belum merasa nyaman dengan orang tersebut, dan sebagainya. Untuk merespon hal ini, ibu (dan ayah tentunya) tidak harus emosi atau malah berlebihan memberikan perhatian pada anak sehingga mereka jadi manja, namun berikan perhatian dan pengasuhan sesuai kewajaran. Jika merasa sangat rindu dan ingin memeluk anak seharian, tentu tidak dilarang, namun apabila dirasa ada perilaku anak yang sudah berlebihan, silakan ditegur dan diarahkan. Mengenai waktu bekerja yang cukup lama, ibu dan ayah tidak perlu khawatir selama komunikasi jarak jauh bisa tetap terjalin dan ada orang-orang lain dari sistem pendukung kita yang dapat memberikan stimulasi dan perhatian yang dibutuhkan anak saat ibu dan ayah tidak dapat hadir secara fisik.

Apakah pertanyaan Anda sudah terwakili, Sahabat CC? Tentu masih ada pertanyaan lainnya yang sempat dibahas berdasarkan pengalaman dari para peserta. Yang jelas, sesi sharing pada event Jumma Care ini semakin menambah wawasan kita bahwa ibu bekerja juga punya kepedulian yang sangat tinggi pada perkembangan anak-anaknya, mereka juga ingin memberikan pengasuhan yang terbaik, dan bersemangat untuk selalu belajar dan menambah kecakapannya dalam mendidik dan membesarkan anak.

Oiya, sementara para ibu berdiskusi di lantai 2, anak-anak asyik mengikuti cooking class di dapur Baker Street.

Sampai bertemu di event selanjutnya, Sahabat CC!
Keep caring, keep learning, keep sharing 🙂

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here