Buat orang tua, belajar pengasuhan memang tidak kenal waktu. Sebuah komunitas penggiat ASI yang bernama GarASI-Kita membuat grup chat sebagai media komunikasi anggotanya. Setiap Rabu diadakan kelas edukasi via grup chat tersebut yang membahas berbagai topik, seperti kesehatan, parenting, keluarga, dan sebagainya.

Beruntung sekali, Children Cafe diajak untuk berbagi wawasan dan cerita pada Rabu malam lalu. Topik yang dipilih cukup menarik, yaitu tentang “Rasa Takut Pada Anak-Anak”. Kebetulan, komunitas yang beranggotakan lebih dari 60 orang ibu itu sebagian besar anak-anaknya masih berusia balita sehingga pembahasannya jadi lebih fokus. Antusiasme para ibu muda tersebut terbukti dari banyaknya pertanyaan yang diajukan. Waktu yang sedianya direncanakan hanya 2 jam, memanjang menjadi lebih dari 3 jam.

Sebetulnya, rasa takut itu wajar karena memang emosi dasar manusia. Umumnya mulai muncul di usia 6 bulan dan paling banyak terhadap orang asing. Yang membedakan anak satu dengan lainnya adalah bagaimana ia mengelola rasa takut itu. Apakah ia berhasil mengatasinya, atau justru semakin tertekan.

Berikut ini beberapa pertanyaan yang muncul sepanjang sharing berlangsung. Beberapa diantaranya mungkin sama dengan yang dialami anak kita dirumah, mari kita simak ;

QA #1

Q : Rasa takut yg seperti apa yang ganggu perkembangan anak? Soal takut bentakan dan lain lain efeknya akan gimana?

A : Rasa takut yang memang sudah mengganggu kehidupan anak sehari-hari. Misalnya karena takut sama anjing tetangga, anak sampai ga mau keluar rumah, ini contoh ekstrim ya.. bisa juga, karena takut ke kamar mandi sendiri malam-malam, anak kelas 6 SD masih ngompol. Ini kan jelas tidak sesuai nature perkembangannya. Kalau mengenai bentakan, saya rasa setiap orang setuju kalau seharusnya kita tidak membentak. Tapi efeknya di anak sangat tergantung pada temperamennya. Ada anak yang sensitif dan lemah lembut, bentakan akan lebih dirasakan sebagai ancaman, dibandingkan anak yang temperamennya keras, mungkin saja dibentak tidak terlalu berpengaruh untuknya. Tapi tetep saja, tegas itu tidak harus membentak. Saat kita bicara, ada penekanan dan intonasi tertentu di kata-kata yang penting. Justru anak akan lebih mendengarkan kalau kita bicara dengan jelas dan kita konsisten dengan omongan kita.

QA #2

Q : Anakku cowok 1 thn suka gampang nangis (takut/ kaget) kalau ada suara kenceng. Selain itu juga gampang takut sama orang asing. Misal dibawa ke RS ditimbang dia seringnya nangis duluan ga mau bobo di timbangan, hehe…  Gmn caranya supaya dia lebih gak gampang nangis?

A : Wajar kok Mbak, kita aja masih suka kagetan kalau ada suara kencang 🙂 Menangis memang cara anak untuk mengekspresikan rasa takutnya, soalnya usia 1 th kan belum bisa bilang “Aku takut”. Salah satu caranya sebetulnya dengan membiarkan anak bereksplorasi dengan segala sesuatu di sekelilingnya. Misalnya, waktu lagi nonton tv, tunjukkan kalau volumenya bisa pelan bisa kencang. Tapi kalo lagi kencang, bukan berarti tvnya menyakitimu, cuma harus dikecilkan aja volumenya. Misalnya lagi kalau ada suara hairdryer atau mixer yang kencang, ajak anak untuk melihat kalau yang mengeluarkan suara kencang itu belum tentu berbahaya. Nah, kalau untuk yang takut dengan orang asing, masih wajar di usianya kok. Biasanya menjelang umur 2 tahun karena sudah makin banyak kenal orang, stranger anxiety itu akan mereda. ketakutannya jadi lebih beralasan. Nah kalau anaknya nangis bagaimana? Ditenangkan.. jaga juga jangan sampai kita menampakkan ekspresi cemas atau panik. Berikan pelukan atau senyuman supaya anak merasa tidak ada sesuatu yang mengancam, kira-kira begitu 🙂

QA #3

Q : Kalo fobia gitu gimana ya mba? Beberapa teman saya yang punya fobia ketika saya tanya itu karena ada faktor pengalaman yang tidak enak. Pertanyaan saya apa yang kita bisa perbuat untuk mencegah ketakutan anak kita menjadi fobia. Atau ada aja fobia dari lahir? ?

A : Iya Mbak, fobia itu termasuk rasa takut yang ga wajar, soalnya kadang-kadang ga logis penyebabnya, terus mengganggu keseharian orang yang fobia itu juga. Nah, agak beda dengan trauma.. kalau trauma penyebabnya bisa sangat logis, misalnya pengalaman buruk yang sulit sekali dilupakan. Orang yg trauma biasanya paham kenapa dia takut, sementara yang fobia sulit untuk memahami alasan ketakutannya. Tapi banyak ahli yang sepakat, kalau ketakutan itu juga bisa tumbuh tanpa disadari (muncul di alam bawah sadar), dan biasanya karena pengalaman tertentu yang terjadi di masa kecil saat ia belum bisa mengingat atau mengelolanya. Misalnya fobia karet gelang, dia juga ga ngerti kenapa, tapi bisa aja dulu waktu bayi pernah kejepret ga sengaja :'(

Caranya gimana biar anak ga fobia? Bukan dengan cara memproteksi anak sampai dia ga bisa ngapa-ngapain ya, tapi dengan memberikan respons yang tepat saat ada sesuatu yang terjadi pada anak. Misalnya dia kejatuhan cicak terus nangis, respons kita gimana?

a. Bilang “Iih cicaknya nakal, memang jahat cicak itu ya, jangan deket-deket cicak lagi ya Nak” atau

b. Bilang “Aduh, Adek kaget waktu cicaknya lompat ya? Iya.. kaget karena tiba-tiba aja dia lompat.. mungkin cicaknya juga takut kali ya makanya dia langsung lari tuuh.. Ga apa-apa ya, cicaknya sudah ga ada”

Jadi, respons orang tua juga penting sekali ya 🙂

Kalau untuk mengatasi fobia ada teknik yang disebut desensitization. Jadi pelan-pelan mengurangi rasa takutnya dengan mengekspos obyek yang ditakuti, misalnya mulai dari lihat filmnya dulu, trus gambar/ foto, kemudian obyeknya dihadirkan langsung, lalu dilihat langsung, sampai berani dipegang. Ada juga yang menggunakan teknik sugesti atau hypnosis untuk mengatasi fobia.

QA #4

Q : Apabila anak memiliki rasa takut, bagaimana memupuk rasa berani utk dirinya, bisakah kita memberikan masukan seperti: kalo kamu dipukul kamu balas pukul lagi, jangan nangis nak, yang berani ya…atau misalkan si anak terjatuh dan menangis kita bilang nak, kalo jatuh begini jangan nangis gapapa kan gak terlalu sakit, bangun aja lihat ayah ibu terus kasih tau kami…yang kuat ya nak. dengan sugesti seperti itu efek jangka panjang dan pendeknya apa ya?

A : Takut dan merasa lemah itu emosi dasar manusia, yang tidak apa-apa jika dirasakan.. Mari kita arahkan anak untuk menghadapi rasa takutnya dengan pertama menerima dulu. Kenapa dia takut, kita dengarkan sudut pandangnya, kita juga jelaskan dari sudut pandang kita hingga dia memahami apa yang ia takuti dan mengapa. Setelah itu baru bagaimana mengatasinya.

Saya setuju dengan sugesti yang Mbak contohkan, misalnya yang kuat ya nak, yang berani ya nak.. tapi kalau ada saran “kalo kamu dipukul balas pukul lagi” menurut saya agak kurang tepat. Mengajarkan keberanian adalah mengajarkan kemampuan mengelola dan mengatasi rasa takutnya, bukan menunjukkan bahwa dia juga mampu membalas si penyebab rasa takut itu. Contohnya, anak dibully dan dipukul, lalu ia merasa takut. Ia bisa “melawan” dan menunjukkan ia berani dengan menyatakan keberatannya, ia minta berhenti dibully, ia berani menceritakannya pada orang tua dan guru, dan bahkan ia mampu menunjukkan bahwa ia lebih berprestasi dari anak itu. IMHO, akan lebih penting bagi anak, untuk mengatasi ketakutannya tapi bukan dengan berbalik membuat orang lain takut 🙂

Mengenai sugesti baik, efek jangka pendek dan jangka panjangnya sama-sama baik. Sugesti membantu anak untuk membentuk konsep dan citra diri. Jika sugesti diberikan secara rutin dan konsisten, anak akan membawanya sebagai nilai dan kualitas yang ia anut hingga dewasa. Sama seperti memberi label negatif pada anak (misalnya nakal, bodoh, malas, dan sebagainya), apabila dilakukan berulang-ulang, anak dapat menangkapnya sebagai sifat yang mewakili dirinya dan tidak bisa diubah.

QA #5

Q : Tanya ya… Anakku 4,5thn…segala takut yang di sebutin itu ada semua sama ini anak (takut sama binatang,suara kenceng dan gelap) aku harus gimana ya…?

A : Halo Mbak, lewat pertanyaan ini saya sekaligus bisa menjelaskan beberapa hal mendasar yang perlu kita perhatikan saat anak merasa takut. Pertama, hindari “ceramah”. Misalnya malah menertawakan, atau bilang “Payah nih gitu aja takut”, atau memberi alasan-alasan logis bahwa monster itu ga ada. Yang paling dibutuhkan anak saat takut adalah ditenangkan dulu, baru dia lebih bisa menerima penjelasan kita. Misalnya, peluk dulu, dengarkan dulu kenapa dia takut, bilang kalau kita paham, jauhkan dari obyek yang bikin takut.. kalau sudah tenang, itu waktunya kita memasukkan logika atau sugesti-sugesti yang baik.

Kedua, terima ketakutannya. Jangan dianggap aneh, konyol, atau tidak perlu didengarkan. Takut adalah emosi dasar, dan manusia dibekali sense untuk menilai situasi itu mengancam atau tidak. Pada anak, kemampuan ini terus berkembang, pemahaman sebab akibatnya makin bagus, makin bisa membedakan reality dengan fantasy, dan bahkan nantinya bisa punya kontak atau pengalaman langsung dengan benda yang tadinya bikin dia takut. Pas sudah dikenal, eh taunya ga bahaya kok, seperti itu misalnya..

Ketiga, tunjukkan atau latih anak bagaimana mengatasi ketakutannya. Jadi dari kecil mereka bisa merasakan kalau situasi yang menakutkan itu bisa dikontrol juga. Contoh: ajarkan menarik nafas dalam saat udah mulai panik, atau ajak untuk pakai imajinasi dan membayangkan monster yang seram malah jadi monster lucu, atau bisa saja tidur dengan lampu menyala dulu, pelan-pelan pakai lampu tidur dengan pintu dibuka sedikit, dan seterusnya. Oiya, pakai media lain untuk mengatasi ketakutan, misalnya cerita/ dongeng tentang tokoh yang tadinya takut lalu jadi berani. Atau ceritakan dulu waktu kita kecil apa yang bikin takut dan bagaimana kita mengatasinya. Ada satu lagi yang perlu kita ingat, mengekspos anak dengan obyek yang ditakutinya secara tiba-tiba sangat tidak disarankan ya, akibatnya anak malah bisa lebih takut lagi. Jadi pelan-pelan saja kalau mau diperkenalkan, lagi-lagi mulai dari gambar/ foto, lalu lihat dari jauh, lama-lama dekat, dan seterusnya.

Bagaimana Sahabat CC, apakah pertanyaan Anda sudah terwakili? Masih ada sejumlah pertanyaan lagi yang akan kita bahas di kesempatan berikutnya. Sambil menunggu, silakan membaca artikel tentang Mengenali dan Mengelola Rasa Takut Pada Anak yang sudah pernah kami muat sebelumnya.

Semoga bermanfaat 🙂

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here