Sahabat CC, kalau kita tanya ke anak apa itu puasa, kira-kira jawabannya adalah “ga boleh makan” atau “ga boleh minum”, Anda setuju? Memang awalnya saat mengajak anak berpuasa, yang kita sampaikan bahwa ia harus menahan lapar dan haus sampai waktu yang ditentukan. Ada juga mungkin anak yang akan menambahkan, bahwa saat berpuasa kita juga dilarang marah atau menangis. Tentu karena sebagian orang tua mengajarkan hal itu pada anak-anaknya.

Lapar dan haus bersifat alami. Tubuh kita sudah tahu rasanya, dan anak juga paham kalau lapar ya harus makan dan kalau haus ya harus minum. Begitu pula marah dan sedih, sifatnya otomatis muncul dan dirasakan saat ada kondisi yang tidak sesuai harapan kita. Nah, saat puasa hal-hal yang alami ini harus ditahan. Ingin tahu bagaimana anak-anak belajar menahan diri?

Mungkin Anda pernah mendengar istilah self-control atau kontrol diri. Bayi menangis saat lapar, anak usia 1 tahun marah saat mainannya diambil, dan anak usia 2 tahun senang memanjat perabotan yang ada di rumah. Saat masih kecil, anak memang lebih banyak berbuat sesuai dengan kemauan mereka. Beda cerita saat anak sudah mulai punya pengalaman sosial dengan orang-orang di sekitarnya, disinilah self-control mulai terbentuk.

Kaitan Puasa dan Self-Control

Apakah Anda termasuk orang tua yang menjanjikan hadiah jika anak mau ikut berpuasa? Kalau iya berarti kita tengah membentuk self-control anak. Mari kita kembali membayangkan saat kita kecil dan belajar berpuasa. Tanpa memahami seutuhnya mengapa kita tidak boleh makan dan minum, sebagian dari kita melakukannya karena nanti sore boleh request makanan apapun untuk berbuka. Atau berusaha bangun sahur dengan menahan kantuk demi uang tambahan yang dijanjikan saat berlebaran nanti. Atau bisa saja, ikut berpuasa karena takut dimarahi. Jadi bisa dikatakan dalam self-control ada komponen motivasi.

Motivasi sendiri bisa berasal dari luar (eksternal) maupun dari dalam diri kita (internal). Kalau berpuasa untuk mengharapkan hadiahnya, itu motivasi eksternal. Sebaliknya kalau berpuasa supaya sehat atau karena ajaran agama, itu internal. Bagi anak-anak, tentu awalnya motivasinya yang eksternal. Salah? Tidak sama sekali. Karena di usia anak, mereka belum dapat memahami hal-hal yang bersifat abstrak seperti Tuhan dan agama. Jadi pemberian hadiah adalah cara memotivasi yang efektif untuk mereka.

Selain motivasi, hal yang berkaitan juga dengan self-control adalah distraksi atau godaan. Anak A sepanjang hari di rumah, hanya membaca buku dan tidur sambil menunggu berbuka, sementara Anak B pergi dengan orang tuanya ke pasar dan melihat aneka jajanan. Mana yang lebih kuat menahan diri? Apakah Anak B pasti tergoda untuk makan? Belum tentu, tergantung dari self-controlnya. Apakah Anak A sudah pasti akan kuat berpuasa sampai Maghrib? Belum tentu juga, tergantung self-controlnya. Ya benar, tidak bisa dipastikan.. namun jelas bahwa distraksi atau godaan untuk si B lebih besar dan distraksi bisa mempengaruhi motivasi anak. Untuk melihat seberapa besar pengaruh distraksi atau godaan pada anak-anak, ada sebuah percobaan yang terkenal dari Stanford University yaitu “Marshmallow Experiment”.

Satu hal lagi yang berhubungan dengan puasa dan self-control adalah kebiasaan atau rutinitas. Di hari-hari biasa, anak makan pagi, makan siang, dan terkadang ngemil di siang hari. Saat berpuasa, semuanya berubah. Penyesuaian ini tentu tak mudah bagi mereka, apalagi yang baru pertama kali belajar berpuasa. Namun di hari berikutnya hingga akhir bulan, kemampuan mereka menahan lapar dan haus pasti bertambah. Inilah pengaruh rutinitas atau kebiasaan. Di tahun berikutnya, kesulitan yang mereka hadapi juga tak akan seberat saat ini. Jika tubuh anak sudah terbiasa berpuasa, maka faktor motivasi dan distraksi tadi, tak akan memberikan pengaruh yang signifikan pada kemampuannya menahan lapar dan haus.

Sahabat CC, ternyata cukup kompleks juga ya dinamika psikologis yang terjadi pada anak saat ia belajar berpuasa. Yang jelas, self-control ini kebanyakan tidak terbentuk secara alami, namun mendapat pengaruh lingkungan yang cukup besar. Karena itu, di Podcast Belajar Bareng Children Cafe episode 14, ada beberapa cara yang bisa dilakukan orang tua untuk menumbuhkan self-control anak sejak kecil. Jangan lupa dengarkan Sahabat, dan sampai jumpa di artikel berikutnya!

Referensi: The Science of Self-Control oleh Howard Rachlin, First Harvard University Press 2004

Photo by Naim Benjelloun from Pexels

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

− 1 = 1