Selayaknya sebuah botol, kita bisa saja mengisinya dengan berbagai jenis air atau cairan tertentu sesuai dengan apa yang kita inginkan atau butuhkan. Suatu ketika, kita bisa mengisinya dengan air bening menyegarkan dan bisa kita minum. Namun, kadang-kadang juga bisa terisi cairan sabun pencuci piring untuk membersihkan botol itu.

Jika kita tidak bersih membilasnya, apa yang terjadi pada botol minum kita saat kita akan mengisinya dengan air minum? Ya! Pasti masih ada sedikit rasa sabun di dalamnya. Tentu air minum tidak lagi bisa diminum dan bermanfaat bagi tubuh kita. Justru mungkin saja bisa berbahaya. Lalu bagaimana cara untuk bisa menghilangkan rasa sabun atau sisa cairan pembersih dari botol tersebut? Betul! kita perlu mengisi botol itu dengan air bersih terlebih dahulu baru kita bisa mengeluarkan sisa-sisa air sabun di dalam botol tersebut.

Begitupun jika kita sudah mengisi botol dengan air minum, lalu tiba-tiba terkena tetesan air sirup dan rasanya menjadi tidak tawar seperti air putih. Maka, kita tidak perlu membuang semua isi botol itu, tetapi cukup dengan mengisi air putih tambahan hingga rasa sirupnya berkurang.

Ilustrasi di atas sebetulnya sedang membicarakan tentang fenomena yang juga terjadi pada diri kita sebagai manusia dan terlihat dalam pemikiran kita sehari-hari. Misalnya, ketika kita berada dalam situasi yang sulit atau masalah yang kompleks, ada respons-respons otomatis dalam pikiran kita saat itu.

 

“Aduh, kok susah ya…”
“Kayaknya agak susah deh buatku untuk bisa membereskan masalah ini”
“Aku bisa nggak yaa kira-kira….”
Atau bentuk-bentuk kalimat lainnya yang mungkin muncul ketika kita berada pada situasi tersebut.

 

Pikiran-pikiran yang muncul dalam bentuk kalimat di dalam kepala kita itu biasanya disebut sebagai self talk. Dalam dunia psikologi, self talk ini ada yang berbentuk pernyataan positif adapula yang berbentuk pernyataan negatif.

Bagaimana dengan anak-anak? Ilustrasi air dalam botol tadi juga berlaku untuk mereka. Pada anak-anak, pikiran negatif juga sering muncul dari orang lain, misalnya saat mereka disebut ‘nakal’, ‘bodoh’, ‘jelek’, dan sebagainya. Mari kita bayangkan, jika sehari-hari anak kita dijejali dengan pikiran-pikiran negatif, tentu kita juga perlu ‘membersihkannya’ agar tidak mengendap hingga sulit dihilangkan sampai ia dewasa nanti.

Nah.. untuk bisa mengurangi frekuensi munculnya pikiran-pikiran negatif yang muncul secara tidak sadar, mengucapkan atau memikirkan hal-hal positif dengan frekuensi yang lebih sering adalah salah satu cara yang bisa dilakukan. Pikiran-pikiran positif itu bisa saja diucapkan dalam hati atau diucapkan dengan keras berkali-kali. Layaknya kita sedang berdzikir atau berdoa, semakin sering kita ucapkan maka tubuh dan pikiran kita menjadi lebih tenang dan rileks.

Misalnya, jika kita sering ‘mengucapkan’ kalimat negatif dalam pikiran seperti “Saya pasti tidak bisa mengerjakannya…”. Maka lawanlah dengan kalimat positif , “Saya yakin dapat menghadapi masalah dengan lebih tenang”, atau “Saya memiliki kelebihan dalam bidang (sebutkan) yang dapat membantu saya mengerjakan tugas (atau pekerjaan)”.

Kalau pada anak-anak kita, kalimatnya bisa lebih sederhana, misalnya latih ia untuk mengucapkan “Aku anak baik”, atau “Aku pintar dan rajin belajar”. Pada remaja bisa saja bentuknya berbeda, misalnya jika ia tidak percaya diri, contoh kalimat positifnya, “Aku berbakat”, atau “Aku berani berbicara di depan umum”, dan sebagainya.

Hal di atas hanyalah contoh yang bisa kita lakukan. Kita bisa memilih kalimat apapun untuk bisa diucapkan baik dalam hati maupun secara langsung di setiap kali kita merasa “tidak bisa” atau kondisi negatif lainnya.

 

Namun, semua proses self-talk yang positif itu hanya akan menjadi sia-sia jika tidak diselaraskan dengan kondisi pikiran dan tubuh yang kondusif.

 

Apabila kita memang berniat melakukan “terapi” pada diri sendiri maupun anak-anak agar dapat berpikir dan memiliki perasaan lebih positif, maka kita perlu menyiapkan fisik yang juga selaras. Berikut tips yang dapat dicoba jika kita ingin “membersihkan” pikiran-pikiran negatif:

  • Pastikan bahwa tubuh kita ata tubuh anak betul-betul dalam kondisi yang rileks. Sebaiknya bersandar, kaki menapak pada lantai atau diluruskan. Jangan sampai kaki dalam keadaan bersilang. Pundak juga perlu dilemaskan dengan cara memutarnya ke arah depan atau belakang lalu lemaskan punggung kita.
  • Atur nafas. Tarik nafas dalam sekitar 5-8 hitungan, tahan 5 hitungan, lalu hembuskan 5-8 hitungan. Coba ulangi sekitar 5-10 putaran.
  • Pejamkan mata jika dirasa lebih nyaman.
  • Jika sudah rileks, silakan ucapkan kalimat-kalimat positif yang diinginkan. Jika dirasa lebih memudahkan, boleh dengan memvisualisasikannya dalam pikiran kita.
  • Ucapkan kalimat-kalimat positif beberapa kali. Karena prinsipnya, Semakin sering diulang akan semakin melekat.

Kegiatan demikian bisa dilakukan oleh anak-anak usia sekolah hingga dewasa. Untuk usia pra sekolah, sebaiknya dilakukan dalam bentuk permainan agar lebih menarik. Bahkan kalimat-kalimat positifnya bisa muncul dalam bentuk tulisan atau gambar, contoh-contohnya bisa Anda lihat di talkshow radio kami ini.

Semoga kita semua bisa menjadi individu yang bisa terus berkembang lebih positif karena selalu memiliki pemikiran yang juga positif. Cheers!

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

− 2 = 3