Apakah kita akrab dengan komentar, ”Dia tidak mau meminjamkan remote! Kakak menggunakan komputernya lama sekali. Adik lama sekali menggunakan handphone. Kakak tidak mau meminjamkan mainan”. Jika kita membuat daftar mengenai hal-hal yang menyebabkan anak-anak bertengkar, maka jawabannya adalah seputar siapa yang lebih dahulu, siapa yang mendapatkan lebih, siapa yang lebih diperhatikan, siapa yang lebih lama, dan lain sebagainya. Sedangkan jika diminta untuk membuat daftar mengenai hal-hal apa saja yang tidak menjadi sumber pertengkaran anak-anak, sepertinya jawabannya akan lebih sedikit.

Berbagai konflik yang terjadi antara saudara, misalnya pada artikel saya sebelumnya “Menang vs Kalah, Manakah yang Lebih Baik?” mengantarkan saya pada pertanyaan,

”Apakah konflik-konflik seperti ini berdampak negatif bagi perkembangan anak?”. Apakah konflik antar saudara ini buruk?

Terkecuali mereka benar-benar saling berusaha menyakiti satu sama lain, baik secara fisik maupun secara emosi, konflik antara saudara (tidak peduli laki-laki atau perempuan), bukan hanya normal, tapi sehat. Persaingan antar saudara merupakan suatu hal yang lumrah terjadi. Berbeda dengan hubungan pertemanan yang bisa terganggu oleh konflik, bertengkar dengan saudara merupakan pilihan yang cukup aman. Mengapa? Karena kita tidak akan kehilangan kakak atau adik seperti halnya jika kehilangan teman. Konflik yang normal akan memberikan anak kesempatan untuk belajar mengenai harapan, keinginan, dan pendapat orang lain. Mereka bisa belajar untuk berbeda pendapat, mengungkapkan pendapat jika tidak sepakat, dan berkompromi. Dengan kata lain, melalui konflik seperti ini, anak-anak belajar untuk memecahkan masalah.

Mari kita ambil contoh, Andrean (10 thn) menuduh adiknya Debi (8 thn) bermain curang saat mereka memainkan games di komputer. Ibu bisa memanfaatkan situasi konflik ini dengan bertanya kepada Andrean: ”Bagaimana perasaanmu sekarang? Bagaimana menurutmu perasaan adik ketika kamu menuduhnya demikian? Apakah adik memang selalu menang kalau bermain? Apalagi yang bisa kamu ucapkan kepada adik sehingga tidak membuatnya marah?” Dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, Andrean dapat menyadari bahwa terkadang ia juga menang dan jika ia terus menuduh Debi maka mungkin adiknya tidak akan mau bermain bersama lagi. Andrean belajar untuk memikirkan perasaan diri dan juga adiknya.

Situasi lain misalnya antara Davi (8 thn) dan adik kecilnya Sindi (4 thn) yang selalu mengikutinya setiap kali ia ingin bermain dengan teman, mengerjakan PR, sampai menyusun koleksi kartu. Semakin ayah atau ibu menjelaskan bahwa Sindi menyayangi Davi dan ingin bermain bersama, maka semakin juga Davi merasa terganggu. Puncaknya adalah ketika Davi merasa sangat kesal dan berteriak agar Sindi menjauh dan membiarkannya sendiri. Ibu atau ayah dapat mengajak kakak dan adik ini untuk mencoba menyelesaikan masalahnya. Ibu dapat bertanya kepada Sindi, ”Apakah kamu ingin mengajak kakak bermain sehingga selalu mengikutinya?” Sedangkan kepada Davi, ibu bisa menanyakan perasaan Sindi jika ia memperlakukan adik seperti itu. Keduanya dapat menemukan jalan keluar yang disepakati bersama. Baik Davi maupun Sindi, baru saja belajar bagaimana menghubungkan kebutuhan mereka berdua. Selain belajar untuk menemukan pemecahan masalah, mereka juga belajar untuk saling memahami perasaan masing-masing. Mereka pun belajar untuk menyampaikan pendapat dengan cara yang dapat diterima (asertif) tanpa menjadi agresif.

Membiarkan anak-anak kita menyelesaikan sendiri masalah sehari-hari di rumah, tentunya dengan memperhatikan batasan keamanan, akan membantu mereka menggunakan keterampilan tersebut saat diperlukan. Mereka bisa menyelesaikan konflik di sekolah, di lingkungan tetangga, dan dimanapun mereka berada.

Sumber :
Shure, Myrna B. 2005. Thinking Parent, Thinking Child: How to Turn Your Most Challenging Problems into Solutions. USA: McGraw-Hill Companies, Inc.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

54 − = 48