Karena berlatar belakang psikologi, saya terbiasa dengan timeline atau linimasa mengenai perkembangan anak yang dijelaskan secara ilmiah dan teoritis. Maka menarik bagi saya ketika menemukan sebuah gambar hasil berselancar di internet. Sang ilustrator berhasil menggambarkan tahapan perkembangan seorang anak hingga remaja, dilihat dari kacamata orang tua.

Sumber: https://id.pinterest.com/jacksonvillebeachmoms/

Jika melihat linimasa ini, 19 tahun kehidupan anak kita memberikan pengalaman yang berbeda-beda di setiap fase tumbuh kembangnya. Melihat grafis di atas, saya jadi bisa dengan mudah membuat rangkumannya untuk Anda, Sahabat CC.

Di tahun pertama tumbuh kembang ananda, kita mengalami sebuah kondisi dimana akan sering terbangun untuk mengurus kebutuhannya. Mulai dari memberi ASI dan mengganti popok atau diaper. Itu adalah 2 aktifitas inti di fase ini, dengan durasi tidur ananda berkisar 2 hingga 3 jam, untuk kemudian terbangun dengan kebutuhan dasarnya.

Di tahun kedua dan ketiga, adalah fase kita mengajarkan ananda untuk bisa memanfaatkan toilet dengan baik. Masa kita berani mengambil keputusan untuk melepas diaper ananda dengan risiko ia akan buang air kecil atau buang air besar tak terkendali. Sebuah fase yang harus dilalui, sebelum ananda terbebas dari diapernya. Di fase ini biasanya hanya membutuhkan 2 hingga paling lama 7 hari bagi ananda untuk menyesuaikan diri hidup tanpa diaper. Berdasarkan pengalaman saya, catatan di fase ini adalah pastikan ananda sudah bisa berkomunikasi mengungkapkan kebutuhannya untuk buang air kecil atau buang air besar.

Di tahun ke empat hingga usia 8,5 tahun, ananda sedang ceriwis-ceriwisnya, menyesuaikan dengan kepribadian yang ia miliki dan gaya belajarnya. Kebetulan ketiga anak lelaki saya, gaya belajarnya relatif kinestetik, tidak pernah berhenti bergerak hingga tubuhnya lelah. Namun ketiganya memiliki kepribadian yang berbeda. Si tengah yang berusia 7 tahun, cenderung terbuka dan ceriwis menceritakan pengalaman di sekolah atau membaca buku dengan lantang, atau menyanyikan lagu yang ia sukai dengan gembira. Jangan berharap rumah Anda rapi, jika Anda memiliki anak di rentang usia ini.

Usia 9 hingga 16 tahun, masa pra-remaja hingga remaja. Ya Tuhan, ananda sangat asyik dengan gadgetnya! Mereka menggunakannya untuk menonton youtube, video klip atau bahkan belajar. Terkadang agak sulit mengajaknya bicara saat ia sedang asyik dengan gadgetnya. Namun demikian di saat yang lain, ia tetaplah anak-anak yang suka kelaparan di tengah malam, lupa membereskan buku pelajaran untuk sekolah esok, juga tidak mengembalikan handuk pada tempatnya. Kemandiriannya masih perlu divalidasi secara terus-menerus dan berulang. Ruang eksplorasinya sudah semakin luas, sudah mulai banyak kegiatan di luar rumah, di sekolah, bahkan di rumah teman yang ada di segala penjuru kota. Alat transportasi umum pun sudah akrab dengannya, ojek online khususnya. Sudah bisa memesan makanan menggunakan aplikasi dan saat saldo menipis bisa request top-up pada Ayah atau Bundanya. Itulah hal-hal yang saya amati dari si sulung.

Usia 17 tahun hingga 19 tahun… saya membayangkan ananda sudah lebih sering berada di luar rumah, karena ia lelaki. Mungkin ia aktif di organisasi, aktif di kegiatan olahraga atau sudah mulai membangun bisnis pertamanya bersama teman-teman dekatnya.

Bagi Anda, sahabat CC yang memiliki anak tertua berusia 12 tahun seperti saya… Anda memiliki waktu kurang lebih 7 tahun untuk mempersiapkan segala sesuatunya indah di saat itu. Kita harus mempersiapkan diri untuk melepas ananda menjadi seseorang yang dewasa, yang mampu memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.

Sementara itu… mari kita nikmati setiap fase tumbuh kembang ananda dengan segala tantangannya.

Catatan dari editor: saat ini penulis baru saja dikaruniai seorang putri, sehingga 4 dari 5 tahapan perkembangan anak di ilustrasi linimasa di atas tengah beliau alami.

Photo by Саша Лазарев from Pexels

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

27 − 22 =