Sahabat CC, apakah ada yang sedang bingung karena anak atau remajanya suka mengumpat? Pasti Anda terkejut ya saat anak tiba-tiba berkata kasar. Ada yang mengatakannya saat marah atau sedang frustasi, namun ada pula yang mengatakannya sebagai bentuk candaan. Bahkan ada yang secara otomatis mengucapkannya karena sudah menjadi bahasa percakapan sehari-hari. Apapun bentuknya, kebiasaan berkata kasar dapat menjadi masalah bila tidak ditangani sejak awal.

Menurut Schaefer & Millman, berkata kasar pada anak-anak dapat dibedakan menjadi 3 (tiga) kategori, yaitu:

Profanity, yaitu umpatan yang mengandung kata atau istilah yang dianggap suci dalam agama. Misalnya kata Tuhan dikombinasikan kata kasar lainnya (lazimnya dalam bahasa Inggris).

Cursing, yaitu umpatan yang bertujuan ingin menyakiti perasaan orang lain.

Obscenity, yaitu umpatan yang mengarah ke kecabulan atau seksualitas.

Penyebab

  1. Mencari perhatian. Beberapa anak menggunakan kata kasar untuk mendapat perhatian karena mereka menyadari bahwa orang akan bereaksi saat mendengarnya.
  2. Untuk mengejutkan orang lain. Anak senang mengejutkan orang dewasa dan membuat mereka merasa tidak nyaman. Saat kita berhasil membuat orang lain terkejut, kita cenderung merasa lebih berkuasa dibandingkan orang tersebut.
  3. Untuk melepaskan ketegangan. Kita cenderung mengumpat dan berkata kasar saat merasa marah atau frustasi karena dapat melepaskan ketegangan.
  4. Menunjukkan penentangan. Untuk beberapa anak, misalnya yang datang dari keluarga yang sangat religius, berkata kasar dapat merupakan bentuk perlawanan atau dapat memberikan perasaan bebas dan merdeka.
  5. Ingin dianggap dewasa. Ada pula anak yang menggunakan kata kasar karena sering mendengar orang dewasa mengatakannya. Dengan demikian ia merasa menjadi orang dewasa saat mengumpat.

Pencegahan

Berikan Contoh

Anak belajar berkata kasar dari apa yang didengarnya melalui lingkungan. Jadi penting sekali orang tua menahan diri agar tidak mengumpat saat marah atau frustasi. Bahkan meski dengan maksud bercanda sekalipun.

Beri Kesempatan Untuk Marah

Seringkali ada keluarga yang tidak memberi anak kesempatan untuk mengungkapkan kekesalannya. Akibatnya rasa marahnya tertumpuk dan anak akhirnya mengucapkan kata-kata kasar untuk melepaskan ketegangan yang dirasakan. Cobalah memberi ruang kepada anak untuk mengungkapkan kemarahannya. Ajari anak untuk mengekspresikan emosi negatifnya dengan kata-kata yang lebih pantas, misalnya “Aku marah!”, “Aku ga suka Mama ambil mainanku!”, dan sebagainya. Dengan demikian, anak juga sekaligus belajar mengenali emosi yang dirasakannya.

Ajak Berdiskusi

Anak perlu tahu mengapa ia tidak boleh berkata kasar. Jadi saat kita melarang, kita juga perlu mendiskusikan apa arti dan maksud dari kata-kata tersebut. Diskusikan pula apa yang orang lain mungkin rasakan saat mendengar kita mengucapkannya.

Berdiskusi membantu membentengi anak dari kata-kata kasar yang ia dengar di luar rumah. Tentu saja kita tidak dapat mengurung anak dan membatasi dunianya, apalagi di zaman sekarang dimana akses ke dunia luar terbuka luas.

Yang Dapat Kita Lakukan

  1. Tetap tenang dan tak perlu menunjukkan bahwa kita terkejut atau terganggu. Jika anak masih kecil, tanyakan padanya “Adek bilang apa tadi, Ayah ga ngerti. Apa itu artinya?”. Biasanya anak tidak dapat menjelaskan, maka kita bisa katakan bahwa kita hanya menggunakan bahasa yang baik yang bisa dimengerti.
  2. Daripada langsung marah dan bereaksi negatif, cek dahulu penyebab anak berkata kasar. Apakah ia sedang menghadapi masalah, apakah ia sedang mencoba melakukan sesuatu tapi terus-menerus gagal, atau mungkin ia tengah cemas sehingga berkata kasar menjadi caranya melepaskan ketegangan? Intinya, cobalah untuk berempati.
  3. Kita harus menunjukkan bahwa kita tidak setuju ia berkata kasar. Misalnya katakan, “Ibu tau kamu kesal, tapi tidak perlu ngomong kasar.”. Contohkan pula kata-kata yang lebih pantas, misalnya “Aku kesal!”, dan sebagainya. Untuk anak yang lebih besar, kita bisa katakan, “Kalau kamu marah sambil ngomong kasar, orang akan lebih fokus dengan kata kasarnya, bukan penyebab kamu marah.”. Orang tua dapat pula menetapkan batasan jelas, misalnya “Di rumah ini kita bicara dengan bahasa yang baik.” atau “Mama tidak pernah bicara kasar sama kamu, jadi Mama harap kamu juga tidak bicara kasar.”.
  4. Jika Anda terbiasa memberikan time-out kepada anak, maka bisa dicoba juga untuk kebiasaan berkata kasar. Time-out 10-15 menit dan minta anak memikirkan kesalahannya lebih baik dan efektif daripada memaksa anak makan cabe atau mencuci mulutnya dengan sabun.
  5. Sistem reward dan token bisa diberikan pada anak usia SD. Jika ia bisa melewati beberapa jam tanpa berkata kasar, berikan 1 token/ stiker yang nanti bisa ditukarkan dengan reward.
  6. Ajari anak bahwa di lingkungan sosial ada aturan berbahasa yang perlu diikuti. Jadi beberapa kata yang boleh digunakan di rumah tidak sebaiknya digunakan di luar.

Itulah Sahabat CC, pembahasan mengenai menangani anak yang suka berkata kasar. Semoga berguna dan dapat diterapkan. Sampai jumpa di artikel berikutnya.

Referensi: How to Help Children with Common Problems, Charles E. Schaefer & Howard L. Millman

Photo by mohamed abdelghaffar from Pexels

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

54 − = 51