Kata egois tentu tidak asing bagi telinga kita. Kata ini biasa digunakan untuk menyebutkan seseorang yang kurang atau tidak mampu memandang sudut pandang orang lain sehingga tingkah lakunya lebih mementingkan diri sendiri. Biasanya hal ini juga melibatkan aspek emosi dimana seseorang tidak mampu merasakan perasaan orang lain atau dalam kata lain berempati. Apabila kedua situasi ini dikombinasikan dengan ketidakmampuan menahan diri untuk mendapatkan kesenangan, atau ketidakmampuan meregulasi diri maka kita akan menemukan perilaku yang tidak sesuai nilai moral.

Contoh perilaku yang mungkin muncul adalah mengambil antrian orang lain, berbohong untuk menyelamatkan diri dari kesalahan, tidak mengembalikan uang sisa belanja, atau mencontek saat ujian. Semua contoh perilaku tersebut tidak jarang kita temui dalam keseharian, beberapa situasi bahkan sudah menjadi pemakluman. Perilaku yang tidak sesuai nilai moral ini merupakan perilaku yang tidak ideal atau termasuk perilaku koruptif.

Saat perilaku koruptif kita temui pada anak-anak atau remaja, tidak jarang kita memaklumi karena mempertimbangkan mereka sebagai pembelajar moral. Sedangkan apabila hal tersebut dilakukan oleh orang dewasa, seperti para pejabat dan pengusaha yang tersangkut kasus korupsi, kita dapat dengan tegas menyatakan kemuakan dan ketidaksetujuan kita. Hanya saja kita perlu memberikan pesan yang jelas agar anak-anak tidak melihat perilakunya tidak dapat ditoleransi. Dan karena mereka adalah pembelajar, maka akan memerlukan arahan untuk berpikir,merasa dan bertindak sesuai nilai-nilai moral.

Anak-anak akan menjelma menjadi orang dewasa yang mandiri, memilih pekerjaan, menentukan lingkungan tempat aktivitas, mengambil keputusan, dan terlibat dalam kegiatan. Kesadarannya akan nilai-nilai moral yang tertanam dalam kepribadiannya yang akan mengatur perilakunya, mencegah atau bertindak koruptif. Konchanska & Aksan (2007) menyatakan bahwa relasi orang tua anak yang postif dan hangat mempengaruhi kerelaan anak mengadopsi nilai-nilai yang dimiliki orang tua. Ditambahkan pula oleh Thompson (2009), anak yang memiliki kelekatan aman dengan orang tua (securely attached), akan lebih mudah menggunakan nilai dan aturan yang diterapkan orang tua dalam aktivitasnya.

Keluarga memiliki beberapa fungsi salah satunya adalah penanaman nilai pada anak, sumber kasih sayang dan pembentukan identitas sosial (Horton & Hunt, 1984).

Apabila dihubungkan dengan korupsi, maka keluarga-keluarga yang memiliki nilai moral akan menciptakan masyarakat berintegritas. Dan sebaliknya keluarga-keluarga-yang menoleransi perilaku koruptif akan menciptakan masyarakat koruptif. Maka cukup jelas peran keluarga dalam hal ini, apakah akan menjadi sumber korupsi atau anti korupsi.

Menciptakan individu yang tidak egois, dapat berempati dan mampu menunda kesenangan, merupakan usaha yang membutuhkan dedikasi dan konsistensi dari orang tua dalam pengasuhan sejak dini. Orang tua perlu memiliki:

  1. Visi pengasuhan yang menanamkan nilai-nilai moral,
  2. Pemahaman akan karakteristik dan perkembangan moral anak,
  3. Praktek pengasuhan yang mengembangkan moralitas anak.

Pembahasan lebih lanjut mengenai dinamika perkembangan moral pada anak dan praktek pengasuhan parenting anti korupsi akan kita kupas di artikel selanjutnya.

Referensi :
Santrock, John W. Life-span development. 13th Ed. 2011. McGraw-Hill Companies,Inc.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

+ 34 = 36