Sejak lahir, bayi menggunakan area mulutnya untuk mendapatkan kenyamanan. Mereka menghisap puting susu ibunya secara alami untuk memenuhi kebutuhan dasarnya yaitu makan. Selain kenyang, ia merasa aman, nyaman, dan terlindungi dalam pelukan ibu. Maka, bayi dapat saja mengasosiasikan perilaku menghisap dengan kenyamanan.

Beberapa Teori dan Pendapat Ahli

Dalam teori psikoseksual yang dikemukakan oleh Sigmund Freud, usia 0-1,5 tahun termasuk dalam tahap Oral, dimana kesenangan dan kenyamanan bayi berpusat di area mulut. Ia meyakini bahwa stimulasi oral dapat mengarah ke fiksasi oral di masa depan yaitu stimulasi yang kurang atau justru berlebih, dapat menyebabkan seseorang tidak dapat maju ke tahap selanjutnya. Akibatnya muncul perilaku-perilaku pengganti seperti menghisap jempol atau menggigiti kuku. Perilaku-perilaku ini pada umumnya muncul di bawah kondisi stres atau cemas.

Dari penjelasan di atas, mungkin kita mengira menghisap jempol adalah akibat dari kurang atau berlebihnya stimulasi oral, namun ada pendapat lain yang merujuk pada kenyataan bahwa banyak bayi yang sudah melakukannya sejak dalam kandungan. Setelah lahir, kebiasaan ini muncul kembali saat mereka sudah tidak menghisap botol atau puting susu ibunya. Susan Heitler, seorang psikolog yang juga penulis buku, bahkan melihat kebiasaan ini sebagai adiksi atau ketergantungan. Maka menanganinya juga memerlukan pendekatan khusus.

Dari sudut pandang kesehatan gigi, kebiasaan ini juga dapat menimbulkan masalah.

Sebagai catatan, jika kebiasaan ini berhenti sebelum anak berusia 5 tahun dimana gigi permanennya belum tumbuh, maka kondisi yang disebut malocclusion ini cenderung dapat diperbaiki dengan sendirinya.

Apa saja yang perlu kita perhatikan?

Berapa usia anak saat ini. Menurut penelitian, 40% anak masih menghisap jempol di usia 1 tahun, 20% di usia 5 tahun, dan 5% di usia 10 tahun. Sebuah penelitian jangka panjang lain menunjukkan total 50% anak berhenti sendiri di usia 5 tahun, total 75% anak di usia 8 tahun, dan total 90% di usia 10 tahun. Dapat disimpulkan bahwa anak kita memerlukan bantuan bila ia masih menghisap jempol di usia 5 tahun ke atas.

Lihat seberapa sering ia melakukannya dan akibatnya pada anak. Jika kebiasaan ini telah bersifat adiktif, maka anak akan merasa tidak nyaman saat ia tidak menghisap jempolnya. Kita dapat mengamati dari penolakannya saat diminta berhenti, misalnya menangis, marah, menolak dengan keras, dan seterusnya.

Perhatikan dan temukan pola kapan dan mengapa anak melakukannya. Ada anak yang menghisap jempol saat mau tidur, ada yang saat ia merasa cemas, takut atau sedih, ada yang melakukannya saat ia sedang menonton tv, ada pula yang menghisap jempol saat tidak melakukan apapun. Dengan menemukan polanya, kita akan lebih mudah menemukan penyebabnya.

Bagaimana kita membantu mereka?

  1. Buat tangannya sibuk dengan berbagai kegiatan. Ajak anak bermain aktif, bukan hanya menonton tv atau kegiatan pasif lainnya. Mengajak anak mengobrol juga mengalihkannya dari menghisap jempol, bonusnya adalah meningkatnya kemampuan verbal dan kedekatan dengan anak.
  2. Segera ingatkan dan hentikan ketika kita melihat anak menghisap jempol. Gunakan kata yang singkat misalnya “jempol” atau “ups!”. Berikan ekspresi netral dan hindari menunjukkan ekspresi marah atau kesal, apalagi sambil berteriak.
  3. Kurangi sedikit demi sedikit, yang penting ada peningkatan dari waktu ke waktu. Kuncinya adalah konsistensi kita saat mendampingi, jangan lelah untuk mengingatkan anak dan hindari pembiaran meskipun hanya satu kali.
  4. Berikan kalimat-kalimat penguat dan minta anak untuk terus mengulangi. Misalnya “Yang dimasukkan ke mulut hanya makanan, dan jempol bukan makanan”, atau “Jempol untuk diacungkan saat kita bilang sip”, atau “Aku sudah besar dan tidak menghisap jempol lagi” atau “Aku berhenti menghisap jempol agar gigiku tumbuh dengan baik”. Dapat pula dicoba dilakukan di depan cermin untuk membantu menanamkan kalimat-kalimat itu ke dalam diri anak.
  5. Bila anak kita menghisap jempolnya setiap merasa cemas, takut, atau sedih, kita dapat mengenalkan cara-cara lain untuk meredakan emosi negatifnya tersebut. Misalnya dengan menceritakan apa yang ia rasakan, menarik nafas panjang, menangis hingga ia merasa lega, mencari solusi, dan sebagainya. Kita juga dapat memberikan pelukan, menjadi pendengar yang baik, mengalihkan ke hal lain yang menyenangkan, dan seterusnya.
  6. Dampingi saat ia merasa tidak nyaman dalam masa transisi. Tunjukkan bahwa kita mengerti apa yang ia rasakan, namun kita percaya bahwa ia bisa menghentikan kebiasaan ini. Memberikan reward atas upayanya juga tidak dilarang selama reward itu menjadi bonus, bukan tujuan utama. Bisa dalam bentuk apresiasi, ungkapan kebanggaan, atau benda dan kegiatan yang ia sukai.
  7. Ada yang menyarankan untuk menggunakan cara yang ekstrim, misalnya memukul atau menyentil jempol anak, melumurinya dengan cabai atau sesuatu yang pahit, dan lainnya. Cara-cara ini disebut-sebut ampuh dan cepat, namun dapat menimbulkan trauma pada anak. Selain itu anak tidak memahami secara logis mengapa ia diharapkan tidak menghisap jempolnya lagi. Cara-cara ekstrim ini juga membuat anak terpaksa berhenti sehingga tidak ada upaya sadar dari dirinya. Padahal jika anak berhasil berhenti sendiri dengan upayanya, akan muncul kebanggaan dan perasaan mampu dalam dirinya. Dalam bidang psikologi, hal ini disebut efikasi diri (self-efficacy).

Selain untuk membantu mengurangi kebiasaan menghisap jempol, tujuh strategi di atas dapat pula dilakukan untuk kebiasaan menggigiti kuku (nail biting). Perbedaannya, jika menghisap jempol terjadi secara alami, maka menggigiti kuku muncul lebih karena kecemasan, melihat kuku kurang rapi, atau meniru dari orang lain. Karena itu kita dapat mengajarkan teknik-teknik relaksasi pada anak dan menjaga kuku anak tetap rapi dan bersih.

Selamat mencoba!


Referensi:

Schaefer & Millman, How to Help Children with Common Problems, Van Nostrand Reinhold Company Inc. || Susan Heitler, Ph.D. Artikel di psychologytoday(dot)com: Lessons from Thumbsucking, the Earliest Addiction

Sumber gambar: panoramastock(dot)com || Sumber video: halaman Youtube Lapointe dental centres

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here