Pernahkah kita menyaksikan seorang anak kecil yang menangis menjerit ketika dirinya harus bersekolah? Mungkin kita melihat dari sudut pandang orang dewasa dan melabeli anak-anak seperti ini sebagai anak manja atau anak cengeng. Pertanyaannya, pernahkah kita mencoba memahaminya dari sudut pandang anak?

Trend pendidikan di Indonesia saat ini adalah menyekolahkan anak sedini mungkin, dimana sekolah yang menawarkan program pendidikan untuk anak berusia mulai 2 tahun telah menjamur. Setiap orangtua (termasuk saya dan istri) berlomba untuk menyekolahkan anaknya mulai dari usia yang sangat dini. Anak kami pun pernah kami masukkan ke sebuah sekolah dengan program pendidikan anak usia dini atau yang dikenal dengan Early Childhood Education Program (ECEP) ketika berusia 2,5 tahun sampai akhirnya kemudian kami memutuskan untuk menjalani pendidikan rumah bagi anak kami.

Dalam waktu yang sangat singkat setelah anak-anak lahir, secara tidak langsung mereka mulai diajarkan untuk menjadi dewasa sebelum waktunya dengan mempelajari hal-hal yang dahulu kita pelajari setelah kita besar. Tidak heran banyak anak yang memiliki sindrom tua sebelum waktunya. Anak-anak yang belum memiliki kematangan secara emosi dan kognitif secara tidak sadar disiapkan untuk memahami hal akademis di usia yang sangat muda. Usaha ini dilakukan dengan alasan untuk mempersiapkan anak bersekolah tanpa kita sadar bahwa mereka sebenarnya sudah memulai bersekolah.

Keadaan yang sedang terjadi ini seolah mengulang sejarah yang terjadi di Amerika Serikat pada tahun 1960an di mana waktu itu pemerintah Amerika menyarankan supaya anak-anak memulai sekolah dari usia 2 tahun 9 bulan. Tetapi seorang praktisi pendidikan yang juga seorang penulis buku tentang pendidikan, Raymond Moore telah membuktikan sebaliknya, bahwa perkembangan seorang anak tidak bisa dipaksakan atau dipercepat.

Anak baru bisa dilepas dari pendidikan keluarga jika anak tersebut telah mencapai tahap mandiri dan mampu berpikir untuk dirinya sendiri.

Untuk mencapai tahap tersebut, anak harus benar-benar dianggap penting keberadaannya sebagai anggota keluarga dan merasakan dirinya dapat diandalkan, dicintai, diperlukan, dan diinginkan sehingga pada akhirnya anak tersebut akan memiliki nilai diri. Tidak ada tempat yang lebih sempurna bagi anak untuk mendapatkan hal-hal tersebut kecuali berada di dalam lingkungan keluarga inti.

Raymond Moore telah melakukan penelitian selama belasan tahun terhadap 500 anak yang menjalani pendidikan formal dengan usia di atas 8 tahun. Dari hasil penelitiannya, anak-anak yang memulai sekolah lebih lambat dan mendapatkan pendidikan karakter yang baik dari lingkungan keluarganya bisa mengejar ketertinggalan mereka di bidang akademis dalam waktu singkat, bahkan kemudian melampaui kemampuan akademis anak-anak yang memulai sekolah lebih dini dengan situasi yang ‘dipaksa’ bersekolah.

Ibarat seekor kecebong yang belum memiliki kaki yang kemudian ditempatkan di darat supaya bisa lebih cepat belajar melompat dan bertahan hidup, itulah analogi dari sekolah formal bagi anak usia dini. Ada kesan bahwa pendidikan adalah sebuah perlombaan di dalam kehidupan, sehingga jika dimulai lebih cepat, anak-anak diharapkan bisa “mencuri” start supaya menjadi lebih unggul ketika besar nanti. Bahkan beliau menjelaskan,

semakin cerdas seorang anak, akan semakin berbahaya bagi anak tersebut untuk memulai sekolah terlalu dini karena bisa menimbulkan kebosanan dalam belajar di sekolah.

Pandangan Raymond Moore ternyata diperkuat dengan penelitian terkini terhadap perkembangan otak yang ditulis oleh Sandra Aamodt dan Sam Wang dengan judul buku “Welcome to Your Child’s Brain”. Salah satu bab dari buku tersebut menuliskan tentang pemberian terbaik orangtua kepada anaknya adalah berupa pengendalian diri (untuk perkembangan anak usia 2-7 tahun).

Kemampuan anak prasekolah melawan godaan adalah penentu yang lebih baik dibandingkan skor IQ bagi keberhasilan akademik akhir mereka. Mempelajari strategi pengendalian diri pada usia dini bisa berbuah manis bertahun-tahun setelahnya. Tes klasik kemampuan melawan godaan ini dikenal dengan Marshmallow Test berikut ini contoh tesnya:

Lebih dari satu dasawarsa kemudian, kemampuan melawan godaan tersebut berkaitan erat dengan skor ujian masuk perguruan tinggi. Menguasai waktu penundaan semasa usia prasekolah juga berkaitan dengan kemampuan mengatasi stres dan rasa frustasi ketika mereka remaja, juga kemampuan berkonsentrasi, kemampuan matematika dan kemampuan membaca pada usia sekolah dasar. Hal ini masuk akal karena mempelajari mata pelajaran akademis membutuhkan konsentrasi dan keuletan.

Supaya anak menjadi mandiri dan mampu berpikir kita harus membantu anak untuk bisa bertanggung jawab, mematuhi peraturan, dan dapat diandalkan. Lalu apa saja yang harus orangtua lakukan untuk menyiapkan anak supaya menjadi mandiri dan mampu berpikir sehingga dirinya siap bersekolah? Berikut ini beberapa caranya:

  1. Ciptakan suasana keluarga yang menyenangkan
  2. Berkegiatanlah bersama anak seperti; bermain bersama, membaca bersama, bekerja bersama, beristirahat bersama, makan bersama dan sebagainya.
  3. Berikan tugas yang bisa dikerjakan anak, sepertinya membantu orangtua menyiapkan meja makan, mencuci piring, merapikan mainan, merapikan tempat tidur, dan lain-lain.
  4. Tumbuhkan nilai diri anak dengan memastikan bahwa anak tersebut merasa diandalkan, diperlukan dan diinginkan di dalam keluarga.

Berikan hak anak untuk dapat bertumbuh dan berkembang secara alami tanpa harus diberikan tekanan negatif karena mengejar target akademis.

Apakah memang penting (untuk anak) jika anak kita mampu membaca di usia 3 atau 4 tahun? Apakah kita ingin anak kita bisa membaca atau mampu menafsirkan bacaan? Apakah jika anak kita mampu berhitung di usia yang sangat dini bisa menjamin bahwa anak kita berprestasi di kemudian hari? Apakah dapat dipastikan jika anak kita mampu menulis di usia dini dirinya bisa menjadi murid paling unggul ketika memasuki usia sekolah nanti?

Pikirkan baik-baik hak anak-anak untuk mendapatkan perhatian penuh dari orangtuanya. Untuk mendapatkan bimbingan sesuai dengan nilai-nilai yang dianut keluarganya. Berikan haknya untuk merasa dicintai, dihargai dan diperlukan sehingga ketika dirinya siap, sang anak dapat tumbuh dengan sehat secara lahir dan batin dan juga sama cerdasnya seperti anak-anak lainnya sesuai dengan perkembangannya secara alami.

Masih haruskah kita menyekolahkan anak-anak kita sedini mungkin untuk menyiapkan mereka menghadapi sekolah dasar?

Sumber Rujukan :¬†Welcome to Your Child’s Brain

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here