Terkadang kita gemas kalau melihat bayi dan batita yang lucu sehingga tiba-tiba mendekati dan ingin mengajak mereka bermain. Tidak jarang mereka langsung menangis atau memeluk ibunya karena merasa takut. Sebaliknya, kalau kita duduk tenang dan membiarkan mereka beraktifitas sambil orang tuanya tetap ada di sana, bayi dan batita justru menunjukkan perilaku positif dan keingintahuan yang tinggi. Apalagi jika kita tersenyum untuk menunjukkan kehangatan, memegang benda atau mainan yang menarik, memainkan games yang familiar, dan mendekati anak perlahan tanpa kesan terburu-buru, rasa takut mereka akan berkurang.

Rasa takut adalah salah satu jenis emosi dasar manusia, selain senang, sedih, dan marah. Umumnya, mulai muncul di usia 6 bulan dan paling banyak terhadap orang asing. Sering disebut sebagai stranger anxiety, penyebabnya tergantung dari beberapa faktor, yaitu temperamen anak, pengalaman sebelumnya dengan orang asing, dan situasi saat itu.

Rasa takut terhadap orang atau benda asing dan situasi baru, akan menurun hingga usia 2 tahun seiring dengan perkembangan kognitif anak. Mereka jadi lebih efektif dalam membedakan mana hal yang mengancam dan mana yang tidak. Nah, antara usia 2-6 tahun ini, rasa takutnya lebih beralasan, misalnya karena kehilangan sesuatu, takut terluka, takut digigit, dan sebagainya. Namun karena kemampuan berimajinasi mereka juga tengah berkembang, ditambah logika sebab akibatnya masih sederhana, maka terkadang mereka takut pada hal-hal yang tidak langsung berkaitan. Misalnya mendengar suara ketukan di jendela dan langsung mengira itu suara monster yang akan menyerang mereka.

Ada beberapa ketakutan yang umum dialami oleh anak-anak, diantaranya :
  1. Takut akan perpisahan dengan orang tua atau pengasuh utama. Biasanya dialami oleh anak batita. Namun anak prasekolahpun dapat saja mengalaminya dalam situasi-situasi tertentu, misalnya di hari pertama sekolah, saat menempati rumah baru, atau saat pertama kali diajak bertemu keluarga besar yang masih asing baginya. Untuk membantunya, kita perlu selalu memberi tahu anak kalau akan pergi sejenak, meskipun hanya untuk mengambil minum ke dapur misalnya. Anak perlu mengetahui situasi yang dihadapinya untuk merasa aman dan akhirnya tidak takut lagi.
  2. Takut mandi. Banyak orang tua yang bingung kenapa anaknya sulit sekali diajak mandi. Bisa jadi mereka takut air yang mengguyur tubuh mereka akan menghanyutkan atau menenggelamkan mereka. Agak sulit kalau kita berusaha menjelaskan secara logis, akan lebih mudah bila kita membiasakan anak bermain air. Misalnya, gunakan ember kecil terlebih untuk menampung air dibandingkan langsung dari bak mandi. Anak juga boleh membawa mainan kesukaannya saat mandi, misalnya perahu-perahuan, bebek-bebekan, dan sebagainya.
  3. Takut pada binatang. Mari kita ambil contoh salah satu binatang yang kerap ditakuti anak-anak, yaitu anjing. Hal ini umum karena suaranya kencang, gerakannya cepat, dan seringkali perilakunya tidak bisa diprediksi. Kalau anak kita takut pada anjing maupun binatang lainnya, tidak perlu memaksanya untuk mendekati binatang tersebut. Awali dengan memperlihatkan gambarnya melalui buku, foto, atau gadget. Jika anak sudah tertarik, ajak ia melihat anjing yang baik dan lucu dari jauh. Setelah ia tampak nyaman, baru ajak anak untuk mendekatinya.
  4. Takut dengan suara kencang. Meskipun ia suka menabuh drum dengan bersemangat, bukan berarti ia berani mendengar suara kencang lainnya. Beberapa anak takut dengan suara blender, hairdryer atau suara petir yang tiba-tiba. Jika yang ditakuti adalah suara benda, ajak anak untuk melihat dan menyentuh benda tersebut sebelum menyalakannya. Kita bisa menunjukkan bahwa meskipun suaranya kencang, namun benda itu tidak berbahaya. Jika yang ditakuti adalah suara petir, coba ajak anak untuk membayangkan bahwa suara itu berasal dari raja petir yang sedang bermain musik rock. Bisa juga kita ciptakan cerita atau dongeng lain yang membuat anak lebih tenang saat mendengar suara petir.
  5. Takut gelap. Seperti orang dewasa, anak membutuhkan kejelasan terhadap situasi di hadapannya agar mampu mengantisipasi dan mempersiapkan diri. Saat gelap, anak-anak yang lebih kecil bisa saja berpikir ada monster atau ular di bawah tempat tidur mereka, sementara anak-anak usia sekolah takut akan pencuri atau orang jahat yang tidak dapat mereka lihat. Ketakutan ini wajar apabila tidak mengganggu kemandirian anak, misalnya mereka tetap berani tidur sendiri. Kalau ada anak yang ingin lampunya tetap menyala, sebaiknya kita tidak memaksa mematikan lampu. Secara bertahap, kurangi pencahayaan di kamar sampai anak benar-benar merasa nyaman.

Rasa takut pada anak-anak terkadang tidak masuk akal, namun kita perlu berempati dan mencoba memahami apa yang membuatnya merasa takut. Apalagi jika anak belum bisa mengungkapkan secara verbal, kita tentunya perlu menawarkan perlindungan dan menunjukkan dukungan hingga anak merasa aman dan mampu mengatasi ketakutannya sendiri.

Topik ini pernah dibahas dalam talkshow Litehouse Family di Radio K-Lite FM Bandung. Selamat mendengarkan.

Referensi :
Oesterreich, L. 2003, November. Undertanding Children’s Fears. Iowa State University
Papalia, Olds, & Feldman. 2008. Human Development, ed 10th. New York: McGraw-Hill

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here