“Pinter banget sih kamu, sudah sekolah belum?”
“Sudah”
“Sekolah dimana?”
“Di rumah”
“Gurunya siapa di sekolah?”
“Ambu”

Itulah yang kerap orang tanyakan pada Syauqi, anak saya yang berumur 3 tahun 8 bulan. Ambu adalah panggilannya untuk saya. Meski tidak terdaftar secara formal, kegiatan bermain dan belajar di keseharian kami, saya sebut sebagai homeschool, sekolah di rumah.

Banyak orang tua, termasuk saya, memilih homeschooling di masa awal pembelajaran anak. Salah satunya adalah karena melihat anak masih bisa senyum-senyum dan bercanda dengan gurunya pada saat proses belajar. Harapan kami agar anak selalu menikmati proses belajar, bukan karena terpaksa, karena sesungguhnya proses belajar akan selalu di hadapi sampai akhir hayat. Saya ingin anak menikmati proses belajar di awal hidupnya, mengenal dirinya sendiri dulu tanpa kompetisi di dalamnya.

Ada beberapa komentar tentang anak homeschooling yang tidak mempunyai kemandirian, tidak belajar bersosialisasi, tidak mempunyai kemampuan kompetisi, tidak akan sukses, dan sebagainya. Menurut saya, daripada mendoktrin anak tentang kesuksesan, lebih baik mendukung anak untuk selalu melakukan yg terbaik. Bukan kompetisi melawan anak lain, tapi menantang dirinya sendiri untuk selalu berusaha keras. Bersosialisasi bukan hanya dengan teman yang ada di kelas, tapi dengan semua orang yang ditemuinya sehari-hari. Menunjukan rasa sayang dan memberi contoh pada adik tetangga, ikut dipimpin dalam permainan oleh kakak tetangga, menghormati orang yang lebih tua seperti mang sayur, mang jahit, mbak ART, tante depan rumah, uwa samping rumah, dan lain-lain. Belajar bersosialisasi dengan berbagai usia, karena nanti dalam lingkungan bekerja, teman kerja pun tidak semuanya sebaya. Nanti pada saat anak sudah siap dan terbiasa dengan rutinitas sekolah dan mendapat sekolah yang cocok, dengan senang hati anak saya pun akan saya masukkan ke sekolah dan semoga tetap menikmati proses belajar.

Metode Montessori Untuk Homeschool

Homeschool ini baru saya mulai ketika Syauqie berusia 2,5 tahun. Dasar homeschooling yang menurut saya cocok dengan karakter anak saya adalah prinsip perkembangan anak Maria Montessori dimana ada 5 prinsip yang harus diperhatikan dalam proses belajar anak.

1. Menghormati anak (respect for the child)
Menghargai atau menghormati anak adalah inti dari pengajaran Montessori. Guru menghormati pilihan anak untuk belajar sesuai minatnya atau menentukan gaya belajarnya sendiri. Berbeda dengan sekolah umum yang biasanya mempersiapkan materi pelajaran untuk dipelajari seisi kelas, saya justru bertanya kepada anak tentang apa yang ingin dia pelajari.

2. Daya serap pikiran (the absorbment mind)
Montessori percaya bahwa anak mampu mendidik dirinya sendiri, dan semua pengalaman yang ia dapatkan akan diserap oleh pikiran untuk kemudian digunakan sebagai dasar pembelajaran dan perkembangannya. Dalam proses homeschool, saya berusaha melakukan kegiatan yang seru dan menyenangkan sehingga informasi yang muncul akan diserap oleh anak sebagai suatu kesenangan, dan tidak jarang anak akan mengingatnya untuk waktu yang lama. 

3. Periode sensitif (sensitive period)
Masa-masa kritis ini akan dialami di waktu yang berbeda-beda pada setiap anak. Mereka memiliki waktu sensitif yang berkaitan dengan kemampuannya belajar sesuatu. Di awal kegiatan homeschooling, saya sudah mempersiapkan properti untuk belajar mengenal huruf lalu saya coba ‘memancing’ anak untuk mau berkegiatan dengan huruf, tapi Syauqie terlihat bosan. Saya menyadari itu bukan masa kritis Syauqie untuk belajar huruf dan huruf pun saya kesampingkan. Baru beberapa bulan ini pelajaran tentang huruf dan angka berhasil menarik perhatiannya.

4. Mempersiapkan lingkungan (prepared environment)
Ruang kelas atau ruangan yang sering dikunjungi anak dipersiapkan sebaik mungkin untuk menjadi ruangan yang ‘child friendly’ sehingga anak bisa melakukan sesuatu untuk dirinya sendiri. Misalnya toilet duduk reguler dengan toilet seat anak, washtafel dengan pijakan, rak buku disimpan sejangkauan anak, dan sebagainya.

5. Belajar sendiri (auto education)
Montessori percaya anak mempunyai kemampuan untuk mengajari dirinya sendiri. Tugas pengajar adalah untuk mempersiapkan bahan atau keperluan belajar, dengan kata lain memfasilitasi.

Bagaimana Menyusun Kegiatan Harian Dalam Homeschooling?

Kegiatan harian yang saya buat mengacu pada stimulasi perkembangan anak. Termasuk diantaranya motorik halus, motorik kasar, pengenalan agama, pengenalan membaca, pengenalan berhitung, konsep matematika sederhana, melatih logika berpikir dan lain lain.

Tema bulanan bisa dibuat ataupun tidak. Biasanya tema bulanan saya tetapkan berdasarkan minat anak ataupun menyambut kegiatan yang akan kami hadapi. Misalnya bulan Desember 2014 sebagai bulan bertema rukun Islam. Tema dibuat sebagai pengenalan terhadap agama Islam dan juga sebagai pembuka event karena di bulan Januari 2015 kami sekeluarga akan berangkat umroh. Kegiatan homeschooling kami di bulan itu berhubungan dengan umroh. Misalnya belajar membuat ka’bah (konsep matematika, bangun ruang, volume dan isi) belajar sejarah Sa’i dan tawaf (pengenalan agama, berhitung, geografi), dan sebagainya.

Suami juga dilibatkan dalam kegiatan homeschooling ini. Biasanya kalau ada ‘area’ yang tidak saya kuasai, maka saya berdiskusi dengan suami merencanakan keterlibatannya di ‘area’ ini.

Demikian pengalaman saya dengan homeschooling. Tentunya masih banyak metode dan pendekatan selain Montessori yang bisa Anda gunakan. Jangan ragu untuk berbagi kalau Anda punya pengalaman dengan homeschooling dan metode lainnya.

Semoga bermanfaat 🙂

Referensi : buku “Membesarkan Anak Hebat Dengan Montessori”

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

2 + 5 =