Sebelumnya kita telah membahas cara mengatasi separation anxiety pada batita dengan ikut bergabung dalam aktivitasnya di kelas. Nah, kini saatnya kita menggaris bawahi perasaan tidak tega yang berasal dari orang tua itu sendiri. Melihat anak kesayangannya menangis, naluri awal orang tua pasti ingin menenangkan dan menuruti kemauan sang anak. Belum lagi kalau orang tua khawatir sesuatu yang buruk dapat terjadi pada anaknya saat ditinggalkan.

Yang kurang disadari oleh orang tua adalah anak dapat merasakan perasaan tidak tega tersebut, akibatnya anak jadi lebih kencang menangisnya dan semakin sulit melepaskan orang tuanya.

Cobalah menenangkan batita Anda dengan memeluknya dan bicara dengannya. Hindari kata-kata yang mengesankan keterpaksaan, seperti “Maaf Mama ga bisa nemenin Adek karena ga boleh sama Bu Guru.” atau “Mama sebenarnya ga tega tapi Mama harus pergi”, Anda dapat mencoba menggantinya dengan “Mama sekarang kerja dulu ke kantor, nanti kalau Adek sudah selesai sekolahnya Mama sudah ada nungguin di luar” atau “Adek sekarang main sama teman-teman dan Bu Guru dulu, Mama nunggu di luar dengan mama-mama yang lain, nanti kalau sudah ada bunyi bel baru deh kita ketemu lagi”. Pilihan kata-kata akan menunjukkan Anda siap meninggalkan anak Anda atau masih belum tega dan merasa terpaksa.

Ekspresi non verbal juga tak kalah penting lho.. tunjukkan wajah yang tenang dan bicaralah dengan tersenyum. Tidak perlu tergesa-gesa atau sembunyi-sembunyi saat meninggalkan kelas, Anda bisa segera berdiri dan beranjak dari ruang kelas setelah mengucapkan kata-kata perpisahan meskipun anak masih menangis. Dapat pula menambahkan ucapan “I love you” dan sebagainya untuk membuat anak lebih tenang. Tumbuhkan rasa percaya bahwa batita Anda dapat mengatasi kegelisahannya sendiri. Ia perlu belajar untuk mengembangkan kemandirian dan keberaniannya tanpa bantuan orang tuanya. Percayalah bahwa ruang kelas adalah tempat yang aman baginya karena ada guru dan sudah dilengkapi dengan fasilitas keamanan yang memadai.

“Kalau anak saya trauma gimana?”

Nah, anak-anak yang trauma saat ditinggalkan biasanya adalah anak yang merasa dibohongi. Misalnya yang orang tuanya terlambat menjemput saat pulang sekolah, atau yang orang tuanya pergi sembunyi-sembunyi saat anak mulai terbiasa pada suasana di kelas, atau anak yang orang tuanya bilang akan menunggu di ruang depan namun tidak ada saat anak mencarinya. Biasakan untuk berpamitan dengan alasan yang jujur dan tunjukkan rasa percaya pada anak bahwa ia sudah besar dan mampu mengeksplorasi lingkungan sosial baru tanpa harus didampingi oleh Anda.

Selain teknik yang bisa dilakukan di sekolah, orang tua juga bisa membuat anak lebih siap menghadapi perpisahan dengan bercerita atau berdiskusi di rumah. Misalnya saat mendongeng di malam hari, orang tua dapat mengatakan “Besok Adek ceritain ke ibu guru ya cerita Pinokio yang barusan” atau “Coba besok buku ini dibawa ke sekolah, pasti temen-temen Adek pada suka bacanya”. Dengan demikian anak sudah memiliki gambaran bahwa besok dia akan sekolah namun tetap merasa nyaman karena ada cerita atau buku yang mengingatkannya pada kehadiran orang tua.

Semoga beberapa teknik ini dapat diterapkan dan memudahkan si kecil menikmati hari-hari awalnya di sekolah. Jangan lupa untuk menyimak juga bagian pertama artikel ini, semoga bermanfaat.

 

2 KOMENTAR

  1. Beruntung ibu dari anak saya, orangnya cerdas.
    Bisa menempatkan rasa sayang dengan ukuran yang tepat.
    Hal berbeda yang umumnya dilakukan oleh banyak nenek, menyanyangi cucunya dengan tidak rasional.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

− 2 = 1