Saat saya masih menjadi guru di kelas anak-anak usia 1,5-3 tahun beberapa tahun yang lalu, pemandangan yang umum di  awal tahun ajaran adalah anak-anak yang menangis dan ingin pulang, anak-anak yang tak mau lepas dari orang tua atau pengasuhnya, atau anak-anak yang sering melihat ke jendela atau pintu dan bertanya dimana orang tuanya.

Fenomena wajar itu disebut separation anxiety.

Sejak usia 7 atau 8 bulan, bayi mengembangkan kesadaran bahwa obyek-obyek yang mereka kenal sebetulnya tetap ada meskipun mereka tidak melihatnya saat itu (object permanence). Kelekatan atau hubungan emosional antara anak dan orang tua juga berkembang sangat kuat, apalagi jika memang kehadiran orang tua sangat intens di masa-masa itu. Inilah yang menyebabkan anak akan selalu mencari orang tuanya saat mereka tidak ada. Kabar baiknya, berdasarkan Erikson, pada usia sekitar 18 bulan sampai 3 tahun, anak juga mengembangkan keinginan untuk mandiri dan punya kehendak sendiri, termasuk dalam mengeksplorasi lingkungan sosial baru.

Dulu yang saya lakukan adalah mempersilakan orang tua untuk berpamitan kepada anaknya dan meyakinkan anak bahwa ia akan kembali untuk menjemput.  Semudah itukah?  Tidak selalu.. Kebanyakan anak akan menolak  dan tetap menangis saat orang tuanya pergi. Mari kita lihat situasi ini dari sudut pandang anak. Pada usia tersebut, anak sudah paham konsep object permanence, namun di sisi lain mereka belum paham konsep waktu. Yang mereka tau hanya “sekarang”. Mengatakan pada anak bahwa orang tua akan kembali lagi “nanti” atau “saat pulang sekolah” atau “jam 12” tidak akan berarti banyak bagi anak, karena yang mereka ketahui adalah orang tuanya akan pergi dan saya akan ditinggalkan sendiri.

Maka sebetulnya yang penting bagi anak adalah ia merasa aman saat ditinggalkan.

Nah, karena itu perlu bagi orang tua untuk hadir di kelas di hari-hari pertama sekolah, namun bukan hanya untuk duduk di sudut supaya anak merasakan kehadirannya. Orang tua disarankan untuk berbaur dan mengikuti kegiatan di kelas. Bermain tidak hanya dengan anaknya namun juga dengan anak-anak lain, bahkan membantu peran guru di kelas, seperti ikut membacakan cerita atau ikut menciptakan gerakan baru saat menari di kelas. Tujuannya sederhana, anak akan melihat bahwa orang tua menikmati kegiatan di kelas, dan kelas adalah tempat yang aman dan menyenangkan baginya.

Yang tak kalah penting adalah mengenalkan sosok guru kepada anak. Anak perlu diyakinkan bahwa guru adalah sosok yang dapat dipercaya saat orang tuanya tidak ada. Caranya adalah dengan berinteraksi sebanyak mungkin dengan guru saat orang tua masih berada di dalam kelas. Jika dalam satu atau dua hari anak sudah tampak nyaman, maka orang tua dapat bersiap-siap meninggalkan anaknya.

Oiya, saya hampir lupa. Teknik menemani dan bermain di kelas bersama anak akan lebih efektif jika dilengkapi dengan bahasa verbal dan non verbal yang disampaikan orang tua ketika meninggalkan anak. Seperti apa? Bahasannya bisa disimak di bagian kedua.

Referensi :
http://www.babycenter.com/0_separation-anxiety_145.bc?showAll=true
http://kidshealth.org/parent/emotions/feelings/sep_anxiety.html#

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

7 + 2 =