Mei mendatang anak-anak atau adik-adik kita yang duduk di kelas IX menghadapi Ujian Akhir Nasional setelah dua pekan lalu kakak-kakaknya kelas XII telah melewatinya. Sementara jadwal UAN SD akan diselenggarakan di akhir bulan Mei. Meskipun hasil UAN bukan satu-satunya penentu kelulusan, namun untuk menghadapinya diperlukan persiapan yang matang. Yang pusing atau deg-degan biasanya tidak hanya sang anak, tapi juga orang tuanya.

Mendampingi anak belajar agaknya menjadi rutinitas bagi sebagian orang tua, sementara yang lain cukup dengan mengawasi atau menetapkan waktu belajar bagi anak tanpa terjun langsung saat anak belajar. Nah, sebetulnya haruskah kita mendampingi anak belajar, atau tidak perlu terlibat penuh dalam proses tersebut?

Jawabannya relatif, tergantung pada beberapa faktor. Diantaranya:

  • Usia
    Usia akan mempengaruhi rentang perhatian dan konsentrasi anak. Yang usianya 5 tahun tentu lebih mudah teralihkan daripada yang berusia 10 tahun. Usia juga mempengaruhi bagaimana orang tua memilih teknik saat mendampingi anak belajar. Misalnya untuk anak di bawah usia 6 tahun, benda-benda nyata atau stimulus visual lebih memudahkan anak memahami pelajaran, sementara untuk anak usia 8 tahun sudah bisa diajak berdiskusi dan membayangkan. Lain lagi untuk remaja, biasanya mereka sudah lebih mandiri dan baru perlu dibantu bila mereka yang meminta.
  • Kemampuan meregulasi diri
    Anak-anak yang telah mampu meregulasi dirinya, umumnya paham apa yang menjadi tanggung jawabnya. Mereka tau kapan waktunya menyelesaikan tugas dan kapan bisa melakukan hal lain. Mereka juga biasanya sudah pandai menyusun prioritas dan mendahulukan yang lebih penting. Untuk anak-anak ini, orang tua tidak perlu terus-menerus hadir saat anak belajar. Cukup berada di dekat anak agar anak bisa menemukannya apabila menghadapi kesulitan.
  • Tipe/ gaya belajar anak
    Ada 3 tipe belajar yang umum, yaitu visual, auditori, dan kinestetik. Beberapa menambahkan membaca dan menulis sebagai salah satu tipe belajar. Setiap anak memiliki tipe belajar yang dominan, dan tugas orang tua saat mendampingi adalah membantu anak menyerap pelajaran semaksimal mungkin sesuai dengan tipe belajarnya. Misalnya anak kinestetik tentu akan lebih baik memahami pelajaran apabila kita ajak untuk mempraktekkan daripada bila ia hanya menonton atau mendengar saja.

Nah sahabat CC, tampaknya jelas bahwa mendampingi anak belajar tetap menjadi keharusan, namun berbeda di cara, waktu, dan kebutuhan anak. Selain untuk membantu anak memahami pelajaran, pendampingan orang tua ini juga ternyata punya manfaat lain. Apa saja?

1Meningkatkan motivasi belajar anak.
Saat belajar, orang tua dapat memberikan pujian maupun kata-kata penyemangat. Apabila anak mampu memahami pelajarannya dengan cepat, jangan ragu untuk memuji, sebaliknya bila ia kesulitan menghadapi suatu materi, orang tua juga harus bersabar dan memberikan latihan yang berulang-ulang tanpa merendahkan kemampuan anak. “Ayo, coba lagi.. sedikit lagi..” atau “Masih belum tepat, ayo sama-sama kita cari tahu salahnya dimana” adalah contoh-contoh kalimat yang bisa membuat anak terus termotivasi untuk belajar.

2Memberikan informasi tentang perkembangan anak
Kadang-kadang kita cukup puas dengan laporan yang diberikan guru di sekolah, namun dengan mendampingi anak belajar kita akan lebih paham tentang perkembangan dan kemampuan anak kita.

3Mempererat hubungan anak dengan orang tua
Bukan hanya kegiatan santai dan senang-senang saja yang dapat mengeratkan hubungan kita dengan anak. Saat anak merasa kita dapat diandalkan dan bersedia mendukung mereka, anak akan lebih percaya dan dekat dengan kita. Bila ada yang khawatir anaknya akan jadi tergantung dan tidak mandiri, maka kegiatan belajar bersama ini justru dapat dimanfaatkan untuk memandirikan anak. Misalnya saat ia menghadapi materi yang sulit, dorong ia untuk berusaha menyelesaikan dulu sebelum dibantu. Apabila kita melihat upayanya telah cukup namun belum berhasil, baru kita bantu.

Kegiatan belajar juga bisa menyenangkan, baik bagi anak maupun orang tuanya. Pastikan kita dan juga anak sudah siap untuk belajar, misalnya keduanya tidak sedang sakit, sedang lelah, atau sedang marah. Banyak-banyak mencari sumber materi lain, tidak hanya buku yang didapat dari sekolah, bisa juga browsing di internet, atau menonton video yang ada kaitannya dengan materi yang sedang dipelajari, dan sebagainya. Mau lebih seru lagi? Jadikan belajar seperti acara kuis dan sediakan hadiah khusus bagi anak atas usaha maupun keberhasilannya. Ide-ide lain yang datang dari anak juga bisa kita terapkan karena bagaimanapun ia yang menjalani prosesnya dan akan merasakan hasilnya.

Semoga bermanfaat dan selamat mendampingi anak belajar, sahabat CC.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

− 6 = 1