Selama pandemi Covid-19, anak lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Untuk mengatasi rasa bosan, sebagian orang tua mengandalkan gadget agar anak dapat mengisi waktu luangnya yang berlebihan. Selain bermain games, biasanya mereka menggunakannya untuk menonton video.

Meskipun disadari bahwa gadget dan teknologi telah menjadi bagian tak terpisahkan dari tumbuh kembang anak-anak zaman now, namun WHO tetap memberikan rekomendasi waktu maksimal penggunaannya dalam sehari.

Screen Time Untuk Anak Prasekolah

Di Indonesia, usia anak-anak prasekolah berkisar antara 2-6 tahun, biasanya tengah duduk di bangku PAUD dan TK. Secara psikologis, usia ini disebut golden age, yaitu masa dimana perkembangan dan pertumbuhan anak berlangsung sangat pesat dalam berbagai aspek, yaitu aspek motorik, kognitif, emosi, dan sosial.

Maka sangat penting anak mendapatkan stimulasi yang tepat agar perkembangannya optimal. Salah satunya adalah dengan lebih banyak bergerak dan berinteraksi dengan orang lain. Untuk anak usia ini, WHO merekomendasikan waktu anak bergerak aktif minimal selama 180 menit (3 jam) per hari, sementara untuk penggunaan gadget (screen time) tidak lebih dari 1 jam per hari. Alasannya karena bermain dengan gadget dianggap lebih pasif dan membuat anak duduk diam dalam waktu yang lama. Selain tidak merangsang perkembangan motorik, gadget juga dianggap tidak bisa menstimulasi kemampuan sosial dan intelektual anak. Oya, screen time ini juga tak terbatas pada gadget berbentuk hp saja ya, tapi juga tablet, laptop, bahkan televisi.

Pertanyaannya, apakah memungkinkan kita membatasi penggunaan gadget hanya 1 jam per hari? Adakah cara mengoptimalkan penggunaan gadget agar memberikan manfaat untuk perkembangan anak?

Kuncinya adalah memilih apa yang akan anak lihat melalui gadgetnya, dan disinilah peran penting kita sebagai orang tua.

Memilih Tontonan Yang Tepat

Berikut ini adalah beberapa pedoman untuk memilih kanal video yang sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak usia 2-6 tahun:

  1. Pilih kanal yang memungkinkan anak bergerak, misalnya video berisikan lagu, tari-tarian, dan musik. Sambil menonton video secara visual, anak juga tetap bergerak.
  2. Pilih kanal yang interaktif dimana anak bisa memberikan respon. Misalnya ada pertanyaan/ kuis yang dapat dijawab anak, atau anak dapat menunjuk benda-benda dalam video, atau anak diminta bergerak oleh tokoh dalam video, dan sebagainya.
  3. Pilih video berdurasi tidak lebih dari 15 menit. Untuk anak yang lebih muda rentang perhatian dan konsentrasinya juga lebih pendek, contohnya usia 2 tahun mampu berkonsentrasi sekitar 5 menit dan usia 5 tahun 15 menit.
  4. Pastikan video tidak mengandung muatan negatif. Jangan lupa Sahabat, pada usia ini anak masih berpikir sangat konkrit. Mereka belajar dari apa yang dapat mereka lihat dan dengar secara langsung.
  5. Dampingi saat menonton sehingga kita bisa menambahkan stimulasi, misalnya memberikan pertanyaan lanjutan, menguji pemahaman anak mengenai apa yang ditontonnya, dan seterusnya

Ada banyak kanal video di YouTube yang sesuai untuk anak-anak usia 2-6 tahun, berikut ini beberapa yang dapat Anda coba:

  • Lagu Anak Indonesia Balita. Sangat populer dan memiliki hampir 5 juta subscriber. Selain lagu anak-anak yang terkenal, ada juga lagu-lagu baru mengenai benda-benda sederhana yang ada di sekeliling anak, seperti telur, rumah, manggis, buku, dan lain-lain. Bahkan ada yang sesuai trend saat ini misalnya lagu berjudul “Masker Lucu”.
  • BabyBus – Cerita & Lagu Anak-anak. Diupdate 2-3x seminggu. Selain lagu, ada pula cerita anak dan video belajar huruf dan angka. Tokohnya dalah hewan-hewan kecil yang pasti disukai anak-anak, seperti panda, kucing, kudanil, dan masih banyak lagi. Subscriber sudah hampir 10 juta, mungkin Anda salah satunya. Oiya, untuk yang ingin memperkenalkan bahasa Inggris ke anak, kanal ini juga ada versi bahasa inggrisnya yaitu Babybus – Nursery Rhymes.
  • Bing – Bahasa Indonesia. Kisah kelinci hitam cilik berusia 3 tahun bernama Bing dengan teman-temannya yaitu Flop, Sula si gajah kecil, dan Pando si Panda. Meskipun berasal dari Inggris, tapi cerita-ceritanya universal, misalnya tentang menemukan bakat, apa yang bisa dilakukan saat musim panas, membuat seni dan kerajinan, dan seterusnya. Anda juga dapat menemukan versi yang berbahasa Inggris.
  • Video Pelajaran Sekolah K13 adalah kanal video yang ditujukan untuk anak prasekolah hingga kelas 12 SMA. Playlist disusun secara rapi sehingga kita lebih mudah menemukan video sesuai usia anak. Di playlist Prasekolah, ada lebih dari 30 video dengan animasi menarik tentang benda dan istilah yang ditemui anak prasekolah dalam kehidupannya sehari-hari. Misalnya video tentang macam-macam alat elektronik, bermain musik, dunia bawah laut, hobi, jenis-jenis sayuran, hingga jenis pekerjaan.
  • Puput Surya Dewi, Isnaeni Suharno, dan bunda dila, adalah beberapa nama kanal di youtube yang berisi beragam kegiatan yang bisa dilakukan anak prasekolah. Ada cara membuat prakarya, ada dongeng dan cerita yang dibacakan, ada pula video yang mengajak anak bergerak, misalnya tari-tarian dan olahraga. Banyak ide segar dan menarik untuk kita praktekkan bersama anak, apalagi bahan-bahan yang dibutuhkan relatif sederhana dan mudah didapat. Cocok sekali untuk ditonton anak dan orang tuanya bersama-sama.

Masih ada banyak sekali kanal video yang bisa kita pilih, Sahabat. Nah, kembali lagi ke pertanyaan sebelumnya, apakah kita harus benar-benar membatasi penggunaan gadget pada anak hanya 1 jam per hari?

Jawabannya sangat tergantung pada bagaimana kita menggunakannya. Misalnya anak senantiasa bergerak sambil menonton video lagu, maka bisa dianggap kebutuhannya untuk bergerak telah terpenuhi. Atau ia menonton video yang bercerita tentang persahabatan, maka ia secara tidak langsung tengah mengembangkan kemampuan sosialnya disamping kemampuan berbahasanya. Apalagi bila kita mendampingi anak dan memastikan anak mendapat stimulasi tambahan.

Patokannya adalah kebutuhan perkembangan anak usia 2-6 tahun dan stimulasi apa yang mereka butuhkan. Jika gadget digunakan untuk tujuan stimulasi, maka dapat digunakan sesuai kebutuhan. Yang patut diingat, jangan sampai gadget menjadi media utama bahkan satu-satunya media sehingga kebutuhan anak untuk bergerak dan bersosialisasi secara nyata tidak terpenuhi, apalagi kalau sampai ketergantungan.

Di artikel berikutnya, kita akan membahas mengenai memilih video kanal untuk anak SD (usia 6-12 tahun). Sampai jumpa, Sahabat CC.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

78 − = 76