Anak-anak kita sering kali terkesima dengan aksi para bintang pujaan mereka. Atlit sepak bola seperti Lionel Messi ataupun Ronaldo menjadi tontonan banyak remaja karena selain kepiawaian mereka mengolah si kulit bundar, mereka juga cukup rupawan. Tidak sedikit yang merelakan waktunya menonton sang pesepakbola bermain live di televisi walaupun mereka harus begadang.

Aktivitas pasif lain yang gandrung terjadi saat ini adalah online gaming ataupun bermain game di Playstation ataupun iPad, iPhone dan gadget sejenis. Memang banyak yang beralasan bahwa bermain game bisa menghasilkan uang karena memenangkan turnamen online, tapi kemungkinannya sangat sedikit  dibandingkan waktu yang harus dihabiskan untuk bermain game.

Nyatanya banyak sekali kegiatan yang menjadikan anak-anak kita hanya sebagai penikmat, dan menghabiskan uang dan waktu mereka yang berharga untuk menonton sesuatu yang menurut mereka adalah kompensasi karena mereka sudah belajar keras. Bahkan para remaja banyak yang membandingkan usaha mereka belajar untuk memenuhi keinginan orang tua, sehingga mereka merasa berhak meminta uang atau waktu untuk menghibur diri mereka dengan tontonan televisi, konser, bioskop ataupun bermain game.

Melarang atau Mengalihkan?

Sebagai orang tua, kita akan kesulitan apabila hanya melarang mereka. Yang banyak terjadi adalah mereka akan memberontak, ataupun mencari berbagai cara demi mendapatkan apa yang mereka inginkan. Ini yang harus kita ubah bersama sama. Ustadh populer dari Amerika Serikat, Nouman Ali Khan, pernah berkata bahwa kunci sukses seorang anak atau remaja adalah apabila kita sebagai orang tua berhasil membuat mereka sibuk.

Make them busy! Sibuk dengan apa? Sibuk dengan kegiatan yang Added Value, yang menghasilkan.

Kita butuh pengalih perhatian yang positif dan efektif. Salah satu cara terbaik untuk mengarahkan anak anak kita adalah mencarikan aktivitas yang sesuai dengan Passion (Minat) dan Talent (Bakat) mereka. Di buku karangan Jim Collins yang berjudul Good To Great menyatakan bahwa sebuah perusahaan yang hebat adalah perusahaan yang bisa menentukan titik temu untuk apa yang menjadi Passion dari perusahaan tersebut, didukung Talent dan Skill (Keahlian) yang sesuai dari pegawai perusahaan, dan melakukan hanya aktivitas bisnis yang menghasilkan keuntungan terbesar (Money) untuk perusahaan. Saya kira sama dengan anak-anak kita, apabila kita berhasil menemukan aktivitas yang menjadi minat mereka, kemudian didukung dengan bakat mereka dan kelak dikemudian hari bisa memberikan penghasilan terbaik untuk mereka, maka aktivitas ini harus kita dukung dengan baik.

Dari mana kita memulainya?

  1. Yang pertama adalah “Do not expect” and “Seek to understand before understood”. Kalimat kedua ini memang sangat terkenal dari buku Stephen Covey, 7 Habits of Highly Effective People. Jangan memaksa. Kita mungkin sudah tahu bakat dan minat kita, tapi belum tentu anak kita tertarik. Saya dulu seorang penggebuk drum di sebuah band, namun anak saya ternyata tidak tertarik sama sekali setelah saya coba masukkan ke tempat les drum. Sempatkan waktu untuk mengobservasi anak. Kita harus percaya bahwa setiap anak, ya setiap anak diciptakan unik, dan mempunyai misi yang harus dijalankan di dunia. Saya percaya bahwa anak-anak saya diciptakan untuk melakukan hal yang besar kelak dengan bakatnya. Tuhan tidak akan menciptakan sesuatu dengan sia-sia. Tugas kita membantu anak untuk mencari misi tersebut bersama-sama dengan anak, bukan dengan mendikte anak.
  2. Yang kedua, apabila orangtua dan anak sudah setuju apa kegiatan atau keahlian yang hendak diasah, maka tugas orang tua adalah mengasahnya dan memastikan anak mempunyai akses yang baik untuk bakat dan minat tersebut. Jika anak berbakat untuk berbisnis, maka kita bisa masukkan ke sekolah Business Management atau Start-Up jika mereka beranjak usia kuliah. Apabila masih kecil, tidak ada salahnya mengikutkan anak di bazaar dan memberikan kepercayaan untuk menjual barang seperti makanan masakan orang tuanya, ataupun mainan. Teman saya mempercayakan anaknya yang berumur 7 – 8 tahun berjualan tali yoyo dan aksesoris lainnya di bazaar komplek rumah saya. Jika anak atau remaja terlihat gemar menonton sepak bola, mengapa tak diarahkan untuk menjadi pemain bola profesional? Ajak ia bergabung di klub bola dan kembangkan jika memang ia berbakat.

Tips ketiga, keempat, dan kelima adalah tentang menjadi role model, mempunyai visi bersama, dan menanamkan mental model tentang kesuksesan. Seperti apa? Akan kita bahas di bagian selanjutnya dari artikel ini.

Sampai jumpa di bagian kedua, Sahabat CC!

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here