Hello, Bon Jour, Buenos Dias,
G’day, Guten tag, Konichiwa,
Ciao, Ni Xao, Sawadeeka,
Hello to all the children of the world!

We live in different places from all around the world,
We speak in many different ways –
Though some things might be different,
we’re children just the same,
And we all like to sing and play.

Hello, Bon Jour, Buenos Dias,
G’day, Guten tag, Konichiwa,
Ciao, Ni Xao, Sawadeeka,
Hello to all the children of the world!

There are children in the deserts, and children in the towns,
And children who live down by the sea.
If we could meet each other, to run and sing and play,
Then what good friends we all could be.

Tahun ajaran ini langsung berkesan istimewa seketika setelah menerima data-data murid yang akan saya ajar. Data tersebut menginformasikan bahwa kelas saya akan menjadi kelas yang sangat beragam, bukan hanya dari segi kemampuan akademis maupun karakter, tapi juga dari latar belakang keluarga. Meski setiap tahun pasti keragaman dari segi-segi tersebut muncul, yang membuatnya istimewa adalah, kali ini saya dan partner mengajar saya diberikan kesempatan untuk mengajar murid-murid yang berasal dari lima benua, Asia, Australia, Amerika, Eropa bahkan Afrika. Walaupun sebagian besar dari mereka punya ibu yang berasal dari Indonesia, namun keragaman itu tetap terlihat. Indah sekali. Mereka tak henti membuat kami tersenyum dengan segala tingkah laku mereka. Perbedaan itu membaur dalam dunia anak-anak.

Suatu hari, kami menerima bahwa akan ada murid tambahan yang akan bergabung. Ia berasal dari Norwegia dan hanya bisa berbahasa Inggris karena kedua orangtuanya tidak ada yang berasal dari Indonesia, ibunya berasal dari Thailand dan ayahnya dari Norwegia. Kami pun segera menyampaikan berita gembira tersebut kepada para murid dan seperti yang kami duga sebeumnya, mereka melonjak kegirangan karena akan mendapatkan teman baru. Tak lupa kami sampaikan bahwa teman baru mereka akan sangat memerlukan bantuan terutama dalam belajar Bahasa Indonesia. Mereka pun langsung mengajukan ide-ide untuk membantu siswa baru ini. “Miss, nanti aku bantuin belajar bahasa Indonesia ya,” “Miss, nanti aku ngomongnya pake dua bahasa, bahasa Inggris sama bahasa Indonesia,” dan masih banyak lagi ide-ide mereka, dari yang cemerlang sampai yang tak terpikirkan sebelumnya. Mereka pun membuktikan itu semua. Salah satu contohnya adalah, ketika siswa baru ini terlihat heran melihat alat bantu dengar yang digunakan salah satu siswa kami, siswa yang lain pun kemudian menghampiri dan menjelaskan tentang alat tersebut dan mengapa temannya harus menggunakannya. Ia menjelaskannya dalam dua bahasa. “This is ear piece, bahasa Indonesia alat bantu dengar. He wears it because he cannot hear, he can but only little bit, gak bisa dengar, bahasa Indonesianya,” jelasnya

Keragaman lain muncul dalam bentuk agama yang dianut. Di kelas, celotehan-celotehan tentang menghargai perbedaan sering terdengar. “Miss, kalau yg Christian berdoanya tangannya gini kan (sambil memeragakan berdoa dengan dua tangan bersatu) kalau yang Muslim begini (sambil memeragakan berdoa dengan dua tangan terbuka) ya Miss”, “Miss, nanti Christmas yang Christian bisa lihat Santa Claus, kalau bukan Christian liatnya di mall ajah.” atau “Miss, kalau Christmas nanti yang Christian dapat kado, kalau yang Muslim dapatnya nanti Lebaran.”

Semua hal tersebut kadang membuat saya bertanya, mengapa mereka begitu mudah menghadapi dan menghargai berbagai perbedaan dalam hidup mereka dengan segala keegoisan yang dimiliki di usia mereka? Apa yang sesungguhnya kita, orangtua dan guru, sudah ajarkan kepada mereka untuk bisa menghargai perbedaan?

Di kelas, kami pernah membaca buku tentang perbedaan warna kulit, latar belakang keluarga dan agama. Dalam pelajaran pun kami mempelajari tentang bentuk tubuh yang berbeda pada setiap orang namun kegunaannya tetap sama. Kami juga belajar bagaimana memecahkan masalah yang timbul karena adanya perbedaan dalam kegiatan sehari-hari. Perbedaan pendapat yang kerap terjadipun disikapi dengan mengarahkan mereka untuk meresolusi konfliknya sendiri.

Tidak ada sesi khusus untuk mengajarkan mereka untuk menghargai perbedaan. Para orangtua murid pun mengaku tidak pernah memberikan ceramah khusus tentang menghargai. Semua terjadi dalam tiap-tiap kegiatan sehari-hari. Terlihat dari bagaimana kita menyikapi setiap hal dan individu yang kita temui setiap hari.

Semoga, anak-anak kita yang adalah masa depan bangsa, mampu menjadi individu yang dapat menghargai dan menghormati tiap-tiap perbedaan demi membangun masyarakat dan negara yang lebih baik.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

88 − = 82