Merujuk pada artikel sebelumnya mengenai mengapa seorang remaja bisa tidak memiliki teman se-“gank” atau peer group, artikel ini akan mengupas hal-hal yang lebih mendalam tentang persoalan tersebut. Mengingat bahwa memiliki kelompok untuk menghabiskan waktu bersama adalah hal yang penting dalam perkembangan psikologis seorang remaja, tentu akan menjadi sebuah persoalan jika mereka tidak mampu memenuhi “tugas” yang satu ini.

Lalu bagaimana agar remaja yang memiliki kesulitan untuk menjalin relasi dengan teman sebaya, mampu menyesuaikan dirinya di dalam lingkungan?

Berikut beberapa tips yang bisa dilakukan oleh orang tua, guru-guru, atau bahkan teman-teman remaja, agar dapat membantu seorang remaja yang sulit menjalin relasi dekat dengan kelompok sebayanya. Beberapa tips ini diolah berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Spence (2003):

A. Hal yang paling utama harus dimunculkan dan dipahami oleh remaja adalah bahwa MEMILIKI TEMAN YANG DEKAT, meski hanya satu atau sekelompok teman yang bisa bersama-sama melakukan suatu aktivitas (biasa disebut GENG), adalah HAL YANG PENTING. Sebab, terkait dengan masa remaja yang perlu membentuk identitas dan karakter yang kuat dalam dirinya, memiliki peer group adalah penting untuk bisa membangun citra diri dan kepercayaan diri baginya.

B. MELATIH KETERAMPILAN SOSIAL

  1. Analisa dan hayati: apa saja sebetulnya yang membuatnya merasa kesulitan untuk menjalin relasi dengam teman sebayanya. Remaja perlu memiliki pengenalan diri yang baik. Melakukan self-reflection secara rutin setiap hari atau setiap pekan untuk melihat kelebihan dan kekurangan diri, bisa menjadi salah satu cara yang dilakukan. Bisa jadi, hal ini muncul karena bawaan sifat atau malah mungkin kurangnya kesempatan dari lingkungan.
  2. Cek kembali: pengambilan persepsi remaja terhadap lingkungannya. Seorang remaja perlu mengetahui, apakah persepsi yang Ia miliki mengenai lingkungannya memang sesuai dengan fakta setelah dilakukan klarifikasi langsung atau itu hanyalah sebuah asumsi pribadi. Sebab, jika selama ini mereka mengalami kesulitan untuk berelasi karena berpersepsi bahwa orang lain tidak menyukainya, tidak akan menerimanya, akan menjauhinya, dan sebagainya, tentu ini akan membuatnya menjadi terlalu cemas dengan penilaian lingkungan terhadap dirinya.
  3. Memperbaiki penampilan: sebagai upaya melatih kemampuan berperilaku yang baik agar diterima lingkungan. Bukan berarti remaja harus berdandan ala artis atau model terkenal, agar dinilai “kekinian” atau berdandan dibuat-buat sehingga tidak natural. Tapi, mereka perlu mengamati, apa saja sebetulnya tampilan yang layak dan yang sewajarnya dilakukan oleh remaja seusianya, namun tetap dalam batas yang tidak berlebihan.
  4. Belajar mengamati gesture tubuh.Biasanya, hal pertama yang menjadi perhatian orang lain saat berjumpa adalah ekspresi wajah atau gerak-gerik tubuhnya. Jika seorang remaja seringkali menundukan wajah, membungkukan badan, jarang menjalin kontak mata saat berbicara, dan sebagainya, tentu ini akan mempengaruhi respon lingkungan terhadapnya. Lingkungan bisa saja berpersepsi bahwa Ia kurang percaya diri atau kurang antusias dengan pembicaraan. Hal ini akan terjadi berulang-ulang pada berbagai setting, sehingga semakin menguatkan image bahwa ia memang kurang ramah atau terbuka dengan orang lain.

C. Persoalan seorang remaja sehingga sulit mendapatkan teman dekat adalah karena kurangnya SIKAP ASERTIF atau terbuka menyampaikan ide dan perasaannya tanpa perlu merasa tersinggung atau menyinggung orang lain. Mereka kesulitan untuk berbicara atau memulai suatu topik dengan orang lain, sehingga lebih memilih untuk diam dan akhirnya menguatkan citra dirinya di lingkungan sebagai individu yang “pasif”. Mencoba menyampaikan apa yang menjadi ganjalan hati atau pikiran, setidaknya pada salah satu teman (mungkin teman sebangku) atau kepada guru yang dipercaya, bisa menjadi salah stau cara yang bisa dilakukan agar Ia terbiasa untuk mengungkapkan sesuatu.

Semoga dengan beberapa tips ini, para pembaca bisa mempraktikannya kepada kerabat yang membutuhkan. Cheers!

Sumber : Spence, S.H.. 2003. Social Skills Training with Children and Young People:Theory, Evidence and Practice Child. Adolescent Mental Health Volume 8:2, 2003, p.84–96.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

17 − 13 =