Suatu pagi di penghujung bulan Oktober 2015 muncul sebuah pesan dari salah seorang anggota grup whatsapp homeschooling, “Ibu-ibu di sini masih ada yang suka ‘bertanduk’ tidak sih ketika menghadapi anak-anak?”. Seorang ibu lainnya merespon, “Tandukan, ekoran juga gue.”. Beberapa saat kemudian ibu yang lain pun menimpali “Ih gue mah sering banget tandukan. Apalagi kalo kurang tidur, berubah jadi monster mommy“.

Kita mungkin pernah mengalami situasi yang sama seperti yang terjadi dengan para ibu di atas. Terlepas dari status kita apakah sebagai seorang ibu rumah tangga atau seorang bapak yang bekerja, ternyata tidak mudah untuk berinteraksi secara positif dengan anak ketika diri kita tidak berada dalam kondisi yang siap (baca: fit). Setiap kegiatan yang dilakukan anak-anak akan menjadi pemicu untuk mengubah seorang ibu yang penyayang menjadi monster mommy.

Tentunya kita pun merasakan penyesalan setelahnya jika respons yang kita berikan kepada anak berupa energi yang negatif. Tiba-tiba kita kehilangan kendali dan memarahi anak hanya karena sesuatu yang sepele. Yang menjadi persoalan adalah ketidaksadaran kita bahwa hal ini sudah menjadi sebuah rutinitas di dalam keluarga. Jika terjadi secara terus menerus, situasi ini bisa membuat sang anak tidak merasa nyaman berada di sekitar kita dan hidup dengan tekanan ketakutan, karena di mata mereka apapun yang mereka lalukan selalu membuat kita marah.

Lalu apa yang harus kita lakukan ketika kondisi fisik sedang tidak fit dan ingin merespons anak dengan cara yang positif? Bagaimana pula cara mengantisipasi terjadinya kejadian tersebut?

KENALI AKAR MASALAH
Seharian sibuk mengurusi pekerjaan rumah tangga atau beraktifitas di tempat kerja bisa menguras tenaga dan pikiran. Segala sesuatu yang terlihat ‘tidak menyenangkan’ di mata kita di saat kita merasa lelah bisa membuat kita menjadi reaktif dan kehilangan kendali. Contohnya anak yang sedang asyik makan bisa menjadi sasaran kemarahan kita hanya karena makanannya terjatuh dari sendok yang digunakannya. Padahal masalah yang sebenarnya adalah kita sedang kelelahan atau sedang menghadapi banyak masalah.

KENDALIKAN DIRI
Kemampuan mengendalikan diri bisa menghindarkan kita untuk menjadi reaktif. Berikan waktu sejenak, menarik napas yang dalam dan menghitung sampai 30 dengan tempo yang tetap bisa membantu kita mengontrol diri lebih baik dan tidak reaktif terhadap suatu kejadian.

DIAM
Terkadang tidak merespons dan berdiam diri bisa membantu kita mengontrol diri. Jika kita belum merasa siap untuk berbicara dan berdiskusi dengan anak, beritahu anak bahwa kita memerlukan waktu sendiri dan belum siap berkomunikasi dengannya. Gaya berkomunikasi seperti ini bisa membantu anak memahami dan mengingatkan dirinya bahwa ada sesuatu yang menjadi perhatian orangtuanya.

ISTIRAHAT YANG CUKUP
Kelelahan fisik membuat sistem tubuh kita tidak bekerja optimal. Selain bisa berakibat buruk terhadap kesehatan fisik, kesehatan mental kita pun akan mengganggu. Oleh karena itu, pastikan kita bisa beristirahat dengan cukup supaya kita selalu berada dalam kondisi yang fit ketika berinteraksi dengan anak.

BUAT TRANSISI
Melakukan sesuatu yang lain sebelum berinteraksi dengan anak bisa membantu kita menenangkan diri dan tidak mengeluarkan ‘tanduk’. Contohnya mandi, bisa memberikan waktu untuk kita mempersiapkan diri menghilangkan rasa lelah sebelum berinteraksi dengan anak.

Memenuhi kebutuhan anak secara materi tidaklah sepenting mendidik dan menyayangi anak. Memberikan kasih sayang yang berlimpah adalah hak anak yang harus kita berikan. Memastikan anak tumbuh dengan penuh kasih sayang dan kebahagiaan di tengah himpitan kehidupan yang serba sulit dan rutinitas pekerjaan yang kita lakukan sehari-hari tentunya tidaklah mudah. Membesarkan anak lebih mudah daripada mendidiknya. Oleh karena itu kemampuan kita mengenali diri sendiri sangatlah penting supaya anak bisa mendapatkan rasa kasih sayang yang berlimpah dan tumbuh dengan bahagia.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

+ 10 = 13