Apa yang ada di pikiran kita saat mendengar istilah “anak yang pemberani”? Mungkin kita membayangkan anak yang mau tidur sendiri dalam keadaan lampu dimatikan, atau anak yang bersedia maju ke depan kelas dan menampilkan kemampuannya. Bisa pula kita mengacu pada anak yang tidak malu-malu berkenalan dengan orang asing. Lalu bagaimana dengan anak yang tidak ragu mengungkapkan pikiran dan gagasannya, apakah itu termasuk jenis keberanian?

Di bidang komunikasi dan psikologi, ada istilah asertivitas. Sederhananya, perilaku asertif adalah perilaku untuk menunjukkan atau menyampaikan perasaan atau pemikiran dengan jujur, tanpa menyinggung perasaan dan hak orang lain.

Tentu berkaitan dengan keberanian, karena orang-orang yang non-asertif memiliki keraguan dan ketakutan tersendiri dalam mengkomunikasikan kebutuhannya. Kebanyakan karena takut menyinggung, tidak enak hati, atau tidak ingin bertengkar. Nah, mengapa kemampuan untuk berperilaku asertif sebaiknya dikembangkan pada anak-anak?

Paling tidak, ada 3 alasannya ;

  1. Perilaku asertif adalah bagian dari keterampilan sosial. Orang yang asertif merasa nyaman saat mengungkapkan kebutuhannya dan membuat orang lain tetap merasa nyaman. Dengan sendirinya mereka menjadi individu yang dapat dipercaya dan dapat diandalkan karena jujur, terbuka, dan selaras antara pikiran dan ucapan. Orang-orang yang asertif juga pada umumnya memiliki kecerdasan emosional yang baik.
  2. Perilaku asertif melindungi hak-hak individual tanpa mengganggu hak orang lain. Banyak contohnya, misalnya berani bilang tidak pada kasus pelecehan atau kekerasan/ bullying pada anak. Di lain pihak, anak juga mampu menunjukkan diri, pendapat, dan pemikirannya sebagai individu yang unik/ spesial tanpa menghina, mengancam, atau merendahkan orang lain. Contohnya saat ia mengatakan lebih menyukai suatu mainan tertentu di sekolah tanpa mengatakan mainan temannya jelek.
  3. Perilaku asertif sejak dini dapat membuat anak tumbuh menjadi orang dewasa yang lebih percaya diri, memiliki konsep diri, self-esteem, dan hubungan sosial yang berkembang baik.

Pada orang dewasa saja, perilaku asertif tidak mudah dilakukan. Ada banyak pertimbangan saat kita ingin mengungkapkan pendapat atau keinginan kita, sehingga terkadang kita memilih untuk diam dan menerima. Sebaliknya, ada pula sebagian dari kita yang cenderung agresif saat menyampaikan sesuatu. Agar didengar dan dipatuhi, kita menggunakan kata-kata yang mengancam, merendahkan, atau memaksa. Jelas bahwa berperilaku non-asertif atau agresif bukan pilihan terbaik saat berkomunikasi dengan orang lain, karena itu di bawah ini adalah beberapa cara yang bisa kita lakukan untuk menumbuhkan kemampuan berperilaku asertif pada anak ;

  • Contoh nyata dari orang tua atau orang dewasa di sekeliling anak. Misalnya, mengungkapkan keberatan dengan baik disertai alasan yang jelas. Contohnya saat anak tidak mau merapikan tempat tidur sampaikan apa yang kita rasakan atau pikirkan, lalu berikan alasan yang tidak menyinggung anak. Misalnya “Mama ga suka lihat kasur kamu berantakan, kalau kasurnya rapi pasti lebih nyaman kalau kamu mau tidur. “. Jangan lupa, lakukan juga perilaku asertif  dengan pasangan dan orang lain, apalagi di hadapan anak.
  • Kembangkan keberanian dan kepercayaan dirinya. Anak perlu menyadari ia punya hak pribadi untuk berpikir, berpendapat, memilih, dan sebagainya. Tunjukkan pengertian dan penerimaan pada setiap kelebihan dan kekurangan yang ia miliki. Seaneh atau sekonyol apapun idenya bagi kita, tunjukkan kita mendengarkan, lalu beri masukan/ pendapat kita. Buat anak merasa aman dan nyaman saat ia ingin mengungkapkan kebutuhan atau pendapatnya.
  • Hindari memberi label pada anak. Pada saat berkomunikasi, tekankan pada apa yang membuat kita keberatan, bukan “menyerang” anak sebagai pribadi. Misalnya saat anak kita mengganggu adiknya, fokuskan pada perilakunya tanpa menyebutnya nakal, bodoh, keras kepala, dan lain-lain. Dengan demikian anak paham bahwa kita bukannya benci atau tidak suka pada dirinya, melainkan berharap ia mengubah perilakunya.
  • Latih anak berperilaku atau berkomunikasi asertif dengan beberapa langkah : Pertama, biarkan ia mencoba mengatasi konflik di lingkungan sosialnya secara mandiri. Kedua, amati caranya berkomunikasi atau mengungkapkan pendapatnya. Berikutnya, kita dapat mengintervensi saat ia tampak menahan diri/ takut/ non asertif, atau sebaliknya terlalu dominan/ agresif. Dan terakhir, berikan apresiasi dan masukan pada upayanya berperilaku asertif.

Sahabat CC, itulah beberapa langkah yang bisa dilakukan di rumah oleh orang tua. Tentu para guru dan pendidik juga dapat melatihkan kemampuan berperilaku asertif ini pada anak didiknya di sekolah. Apakah ada cara lain yang menurut Anda bisa dilakukan? Kami tunggu komentar Anda.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

18 − = 13