“The dance is over, the applause subsided, but the joy and feeling will stay with you forever.” – W.M. Tory

Saya tak dapat menahan senyum melihat video keponakan saya yang berumur 4 tahun menari di sebuah acara di sekolahnya. Bersama dengan 9 orang teman yang lain ia berusaha menyesuaikan gerakan dengan irama musik. Meskipun tak rapi dan kadang lupa dengan beberapa gerakannya, namun satu hal yang jelas, anak-anak senang menari. Apa itu cuma dugaan saya? Dan kalaupun benar, sebetulnya dari usia berapa sih anak-anak suka menari?

Ada sebuah penelitian yang dilakukan oleh Marcel Zentner dan Tuomas Eorola di tahun 2010, yang mengukur pengaruh musik pada gerakan bayi. 120 bayi yang duduk di pangkuan orang tua mereka diperdengarkan beberapa jenis musik, diantaranya musik klasik Mozart, lagu anak, ketukan drum, hingga stimulus musik dengan pergantian tempo yang cepat. Sebagai pembanding, bayi-bayi berusia 5 hingga 19 bulan tersebut juga diperdengarkan suara orang dewasa berbicara dan suara bayi. Hasilnya, mereka menggerakkan lengan, tangan, kaki, dada, dan kepala lebih banyak terhadap musik dan nada daripada saat mendengar suara orang berbicara maupun suara bayi.

Penelitian ini semakin menarik karena mereka juga ingin melihat efek gerakan ritmis tersebut terhadap emosi positif. Akhirnya diukur hubungan antara durasi gerakan ritmis dengan durasi senyum, dan hasilnya mengejutkan. Semakin sinkron gerakan bayi dengan musik, semakin banyak mereka tersenyum. Penelitian ini paling tidak menunjukkan bahwa manusia bereaksi terhadap musik sejak bayi dan kemampuan mereka menyesuaikan gerakan dengan tempo dan ketukan musik memunculkan emosi positif.

Dibandingkan aktifitas fisik yang lain, menari telah lama dikenal sebagai aktifitas yang secara signifikan memperbaiki mood, menurunkan ketegangan, dan bahkan mengurangi depresi.

Bukan hanya ditemukan di kelas-kelas tari, ada pula terapi psikologi yang menggunakan metode menari. Untuk anak-anak, selain manfaat dari aspek emosi tadi, menari melatih kekuatan otot tubuh dan melatih koordinasi serta keseimbangan. Tentunya menjadi cara yang menyenangkan untuk meningkatkan kemampuan motorik kasarnya. Di sisi lain, menari juga dapat memenuhi stimulasi kognitifnya karena melatih konsentrasi, memori, serta membuat anak lebih kreatif.

Apakah kita harus memasukkan anak kita ke tempat les menari untuk mendapatkan manfaat tersebut? Tidak selalu, karena ada cara-cara sederhana yang bisa kita lakukan di rumah atau di sekolah untuk meningkatkan minat anak terhadap menari.

  1. Jika anak memiliki lagu favorit, ciptakan gerakan untuk mengiringi lagu tersebut. Anak bebas berkreasi dan kita dapat memberi saran untuk beberapa gerakan. Tentu anak akan sering menyanyikannya dan itulah kesempatan kita untuk mengingatkan anak agar bergerak dan menari mengikuti lagu.
  2. Jika kita menetapkan waktu bermain bagi anak, nyalakan musik sepanjang waktu tersebut. Anda bisa membuat rekaman lagu sendiri yang sudah dipilih urutannya, misalnya musik klasik yang dilanjutkan dengan lagu anak-anak, kemudian musik dengan ketukan dan tempo yang lebih cepat. Anak dapat secara spontan menari, dapat pula kita pancing dan beri contoh terlebih dahulu.
  3. Jadikan menari bagian dari keseharian. Misalnya kita dan anak punya tarian khusus di waktu-waktu tertentu, seperti sebelum mandi. Selain menarik, cara ini juga berguna bila anak sering susah diajak mandi. Contoh lain ada tarian khusus saat kita dan anak merasa senang. Kita dapat mempraktekkannya bersama anak saat ia terlihat senang atau setelah ia menceritakan sesuatu yang membuatnya senang.
  4. Jika ada pertunjukan menari di sekolah, ajak anak terlibat. Meskipun awalnya malu-malu atau menolak, berikan dukungan agar anak percaya diri. Apresiasi berupa senyum, tepuk tangan, pujian, hingga ikut menari bersamanya, dapat diberikan saat anak mau melibatkan dirinya dalam latihan maupun di hari pertunjukan.

Selain untuk anak, kita juga bisa mendapat manfaat dari menari bersamanya. Meskipun hanya 5 menit, melakukan sesuatu yang menyenangkan bersama orang tersayang bisa mendekatkan hubungan dan ikatan. Jadi jangan ragu untuk menjadikan menari sebagai bagian dari pengalaman menyenangkan kita dan anak.

Shall we dance?

Referensi :
– Marcel Zentner & Thomas Eorola, Rhythmic engagement with music in infancy, edited by Dale Purves, Duke University Medical Center, Durham, NC, and approved February 10, 2010 (received for review January 7, 2010)
– http://www.ndeo.org/content.aspx?page_id=22&club_id=893257&module_id=55419

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

6 + 1 =