Membaca, menulis, dan berhitung atau yang biasa disingkat calistung dianggap sebagai kemampuan dasar yang perlu dikuasai anak untuk dapat mengikuti kegiatan belajar di sekolah. Umumnya ketiga kemampuan tersebut mulai diajarkan dan diharapkan mampu dikuasai anak saat duduk di bangku sekolah dasar.

Bagi kebanyakan anak, mempelajari dan menguasai calistung bukanlah perkara sulit. Apalagi jika anak memang sudah dikenalkan dan terbiasa melakukannya sejak dini. Meski demikian, ada pula sekelompok anak dengan perlakuan serupa yang justru tidak menunjukkan perkembangan berarti atau bahkan semakin memburuk saat menempuh pendidikan di tingkat yang lebih tinggi.

Sangat wajar bila kondisi tersebut memunculkan pertanyaan “Apa yang terjadi pada anak ini?” atau “Apa yang salah dari anak ini?” dalam benak orangtua maupun guru. Terlebih saat segala macam metode dan teknik belajar sudah dicobakan namun hasilnya tetap nihil sehingga tidak hanya akan menimbulkan pertanyaan sejenis di atas, tetapi juga kekhawatiran bahwa anak mungkin saja mengalami gangguan belajar

Agar kekhawatiran tidak meningkat dan menjadi berlebihan, ada baiknya kita cari tahu dulu tanda-tanda gangguan belajar mengenai calistung yang juga dikenal sebagai disleksia, disgrafia, dan diskalkulia (3D). Ketiganya merupakan label atau nama gangguan belajar spesifik yang ternyata cukup banyak dialami anak dan paling sering terdeteksi di periode sekolah dasar lho!

DISLEKSIA

Sederhananya disleksia merupakan gangguan belajar spesifik dalam hal membaca. Umumnya ditandai oleh kesulitan dalam mengenali huruf dan kata, kurang atau bahkan gagal memahami kata-kata dan ide/gagasan, tempo membaca lambat dan terbata-bata, serta cenderung memiliki kosakata yang terbatas. Kondisi tersebut juga berdampak terhadap pengejaan, penulisan, dan pastinya pemahaman isi bacaan. Selain tanda-tanda umum yang telah disebutkan sebelumnya, ada pula beberapa tanda khusus yang muncul seperti:

  1. sulit mengingat informasi maupun arahan dalam rentang waktu tertentu
  2. lambat dalam menyelesaikan tugas terkait membaca dan menulis
  3. mengalami kebingungan saat membaca kata-kata yang mirip (bisa, basi)
  4. bermasalah dalam membaca kata-kata baru/ asing
  5. sulit memahami isi bacaan
  6. sering salah mengeja
  7. menunjukkan perbedaan yang cukup signifikan antara kemampuan lisan (bicara) dan tulisan
  8. tidak berminat dan justru menghindari kegiatan membaca dan menulis

Deskripsi lebih terperinci mengenai kondisi disleksia dapat pula dilihat pada video ini. Khusus untuk Anda pecinta film, baca juga artikel khusus tentang film Taare Zameen Par yang menceritakan seorang anak yang mengalami disleksia.

DISGRAFIA

Jika disleksia adalah gangguan belajar spesifik dalam hal membaca, maka disgrafia adalah gangguan belajar spesifik terkait bahasa tulisan, termasuk pula penguasaan keterampilan menulis dengan tangan. Disgrafia seringkali terjadi bersamaan dengan disleksia sehingga jarang teridentifikasi sebagai gangguan yang berdiri sendiri. Umumnya ditandai oleh masalah dalam kerapian dan konsistensi hasil tulisan, ketepatan menyalin huruf dan kata, konsistensi mengeja, serta penyusunan dan keterkaitan antarkalimat maupun antarparagraf pada hasil tulisan.

Khusus di periode sekolah dasar, berikut adalah tanda-tanda yang dapat teramati pada anak dengan disgrafia yaitu:

  1. lambat dalam menulis dan tampak kepayahan, juga kelelahan
  2. kesulitan dalam menulis semakin tampak jelas mengingat tuntutan akademik yang semakin tinggi/ kompleks
  3. hasil tulisan tangan tidak sesuai usianya
  4. sering melakukan kesalahan saat menulis, misalnya salah menggunakan tanda baca atau salah menuliskan urutan huruf suatu kata (“pergi” menjadi “pegri”)
  5. kurang cakap menyusun kalimat dan paragraf secara terstruktur

Tantangan apa saja yang dihadapi anak dengan disgrafia di keseharian mereka? Tonton video ini untuk tahu jawabannya ya!

DISKALKULIA

Secara singkat diskalkulia merupakan gangguan belajar spesifik sehubungan dengan materi matematika seperti pemahaman konsep angka (urutan dan nilai), penggunaannya, operasi hitung (tambah-kurang-kali-bagi), dan keterampilan berhitung lainnya. Namun hati-hati, karena beberapa tanda yang ditampilkan anak dengan diskalkulia sangat mungkin ditampilkan pula oleh anak tanpa diskalkulia yang juga lemah dalam berhitung. Perbedaannya ada pada tingkat kesulitan yang dialami dan pemberian penanganan berupa pengulangan materi yang kurang atau bahkan tidak efektif pada anak dengan diskalkulia.

Di tingkat sekolah dasar, tanda-tanda spesifik yang dapat mengarah pada dugaan diskalkulia adalah:

  1. mampu berhitung namun strategi hitung yang digunakan tidak efektif, misalnya menghitung angka puluhan menggunakan jari tangan
  2. sulit membaca jam
  3. sulit mengingat tabel perkalian
  4. lambat dalam melakukan operasi hitung saat salah satu angka pada soal diganti, misalnya anak sudah mampu menghitung 7+3 = 10 namun kebingungan saat diminta menghitung 7+4
  5. sulit memahami tanda operasi hitung seperti +, -, x, ÷
  6. sulit menguasai konsep meminjam dan menyimpan, misalnya 23-9 (konsep meminjam) dan 16+7 (konsep menyimpan)
  7. kurang mampu melakukan pengukuran dan memahami konsep posisi dalam ruangan (contoh: pensil berada di atas meja)
  8. kurang cakap dalam mengerjakan soal hitungan bertingkat, misalnya 10+7-5×2
  9. merasa cemas dan tidak menyukai matematika

Contoh dan penjelasan tanda-tanda lainnya disampaikan secara apik oleh sejumlah ahli melalui tayangan video satu ini.

Sahabat CC, perlu diketahui bahwa yang bisa memberikan kepastian apakah anak mengalami gangguan belajar atau tidak hanya profesional ahli seperti dokter anak/dokter tumbuh kembang dan psikolog anak ya!

Referensi: The Australian Federation of Speld Associations. Understanding Learning Difficulties

Sumber foto: https://www.freepik.com/photos/school, created by shangarey

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

82 + = 90