Tak terasa liburan akhir tahun 2015 sudah akan berakhir. Beberapa teman saya mengajak keluarganya berlibur ke berbagai tempat wisata baik di dalam maupun luar kota. Ada pula yang mengisinya dengan kegiatan sehari-hari, misalnya menginap di rumah nenek, menghabiskan waktu beristirahat di rumah, menonton tv, lebih banyak waktu bermain untuk anak-anak, dan sebagainya. Andapun pasti punya kegiatan pengisi liburan tersendiri bukan?

Saat liburan, anak-anak berkesempatan keluar dari rutinitas bersekolah. Artinya mereka tidak harus bangun pagi, belajar dengan intensitas tinggi, hingga mengerjakan PR. Liburan memang diperlukan oleh anak-anak untuk menyegarkan pikiran setelah musim ujian. Bahkan dulu saat masih sekolah saya merasa bahwa liburan adalah hadiah (reward) untuk kita setelah belajar keras dalam waktu yang panjang. Maka wajar jika saat liburan, aturan dan tuntutan kepada anak tidak seketat saat bersekolah.

Saking menikmatinya, kadang beberapa anak enggan mengakhiri masa liburannya. Saat sudah waktunya kembali ke sekolah mereka malas-malasan bangun pagi, masih ingin menonton acara tv favorit, pura-pura sakit perut supaya masih bisa di rumah, hingga menolak untuk sekolah. Nah, kondisi ini ada istilahnya, yaitu post holiday syndrome.

Sebetulnya post holiday syndrome bisa dicegah dengan memberi pemahaman kepada anak tentang liburan sejak awal. Bisa saja kita sampaikan bahwa liburan adalah saatnya untuk melakukan hal lain di luar sekolah, namun waktunya terbatas dan setelahnya anak akan kembali bersekolah. Dengan demikian, sudah tertanam dalam pikiran anak bahwa liburan bersifat sementara dan kegiatan pokoknya adalah bersekolah.

Menyusun agenda liburan yang jelas juga dapat membantu anak untuk tetap terorganisir selama liburan. Bisa lebih santai dan tidak terikat aturan ketat bukan berarti anak bisa sesukanya melakukan apapun. Sebagai contoh, jika anak sudah tahu bahwa hari pertama agendanya adalah berenang, lalu hari kedua ke rumah saudara, dilanjutkan hari ketiga berjalan-jalan ke taman kota, maka ia dapat merencanakan jadwal hariannya dengan lebih baik. Misalnya, ia tahu karena akan berangkat pagi-pagi keesokan harinya, maka ia tidak akan tidur terlalu malam. Atau ia bisa mengurangi waktu menonton tv nya dan menggantinya dengan kegiatan packing atau menyiapkan pakaian yang akan dibawa berjalan-jalan besok.

Dengan tetap menetapkan struktur dan jadwal, anak akan lebih mudah merencanakan perilakunya dan mengatur dirinya tanpa merasa terlalu dikontrol.

Meski sedang liburan, pelajaran juga tetap bisa diberikan meski dalam porsi lebih kecil dan dikemas dengan cara yang menarik. Dalam setiap kegiatan, selipkan poin-poin belajar sederhana sesuai usia anak. Misalnya, saat sedang berenang, ajak anak usia 3 tahun menyebutkan nama-nama benda atau warna-warna yang ia lihat di kolam renang. Ini tentunya berkaitan dengan perkembangan bahasa dan kognitif. Anak yang lebih besar dapat diminta pemanasan dulu dengan berjalan, berlari, atau melompat yang sekaligus melatih motorik kasarnya. Untuk anak-anak kita yang sudah duduk di sekolah dasar atau menengah, berkunjung ke museum, taman-taman pintar, atau arena outbound bisa jadi pilihan menarik agar mereka tetap menambah ilmu saat liburan. Kegiatan di rumahpun bisa direncanakan agar anak tetap kreatif, misalnya membuat percobaan sains sederhana, membuat proyek seni, menciptakan mainan sendiri, dan lain sebagainya.

Terkadang, mengingatkan anak tentang teman-temannya atau gurunya di sekolah juga dapat menjadi salah satu cara mereka bersemangat untuk kembali ke sekolah. Ajak anak bercerita tentang kesan-kesannya saat berlibur dan ingatkan mereka untuk menceritakannya kepada teman-temannya di sekolah nanti. Bisa pula kita ajak anak memilih dan membeli oleh-oleh saat berlibur untuk teman maupun gurunya, sehingga mereka tak sabar untuk kembali ke sekolah untuk membagikannya. Jika sempat, ajak pula anak untuk menyiapkan semua perlengkapan bersekolahnya 1 atau 2 hari sebelumnya.

Nah, itu adalah beberapa cara untuk mencegah post holiday syndrome. Bagaimana jika kita tidak sempat melakukan langkah-langkah tersebut dan benar-benar menghadapi anak yang enggan berangkat ke sekolah. Tentu kemampuan persuasif kita sebagai orang tua sangat diperlukan. Coba ciptakan suasana riang di pagi hari mulai dari saat membangunkan anak, mengajak anak untuk mandi dan bersiap-siap, hingga mengantarkan anak ke sekolah. Tunjukkan antusiasme kita dan ceritakan hal-hal menyenangkan yang dapat anak temukan di sekolah, misalnya bisa bermain lagi dengan temannya, bisa kembali mempelajari subyek favorit anak, dan sebagainya. Apabila kita marah atau memburu-buru anak, ada kemungkinan anak malah akan merasa sekolah sebagai beban dan terkesan tidak menyenangkan. Perlakuan khusus mungkin bisa kita berikan jika anak kita memiliki karakter pemalu atau perlu kembali beradaptasi, bisa saja kita luangkan waktu untuk menemaninya beberapa saat di awal kembali bersekolah.

Tentu kita ingin sekolah menjadi tempat yang menyenangkan bagi anak, bukan sekedar untuk mendapatkan ilmu dan keterampilan. Maka ada baiknya kita sering menunjukkan sisi positif dari sekolah kepada anak dan memperhatikan hal-hal apa saja yang dapat membuat mereka merasa nyaman maupun tidak nyaman saat bersekolah.

Semoga bermanfaat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

3 + 5 =