Kematian merupakan peristiwa alamiah yang terjadi di dalam kehidupan. Merupakan tugas orang dewasa untuk memberikan penjelasan bahwa kehilangan orang yang dicintai merupakan bagian dari fase kehidupan yang dapat dilalui oleh manusia. Hal yang perlu diingat adalah konsep yang dipahami anak mengenai kematian dan kehilangan berbeda dengan orang dewasa dan dapat terus berubah seiring dengan perkembangannya.

Rasa duka, perubahan, dan kembali menjalani kehidupan sesudah kematian orang yang dicintai merupakan proses yang akan dihadapi oleh anggota keluarga yang ditinggalkan. Meskipun kematian memberikan kesedihan dan perasaan kehilangan, namun bisa juga menjadi kesempatan untuk belajar bagi orang tua. Dengan berbicara mengenai kematian dengan anak, kita bisa mengetahui apa saja yang mereka tahu dan belum tahu, apakah mereka sudah tepat dalam memahami konsep kematian, ketakutan, dan kecemasan.

Di tengah kebingungan dan kesedihan terhadap kematian salah seorang anggota keluarga, orang dewasa secara bersamaan merasa kehilangan sekaligus harus tetap memberikan dukungan dan perhatian kepada anaknya.

Meskipun anak usia prasekolah belum memahami makna kata ’meninggal’, penting bagi orang dewasa untuk menggunakan kata ’meninggal’ dan tidak menggantinya dengan kata-kata lain untuk mengurangi kesedihan anak, seperti ayah pergi jauh, nenek sedang tidur lama. Pengalihan kata-kata tersebut dapat membuat anak bingung, misalnya ayah nanti dapat kembali pulang, nenek nanti akan bangun lagi, dan sebagainya.

Anak usia prasekolah memiliki sedikit ide tentang konsep kematian dan menganggapnya hanya sementara. Barulah pada usia sekolah anak mulai memahami bahwa kematian adalah akhir hidup dan seseorang tidak akan kembali. Sedangkan pada usia remaja, cara berpikirnya semakin abstrak. Remaja dapat memahami bahwa kematian dapat menimpa dirinya, meyakini konsep ajaran agama seperti adanya kehidupan setelah kematian.

Berikut ini beberapa tips yang dapat dilakukan untuk mendampingi anak dalam menghadapi kematian orang yang dicintai :

  • Amati dan dengarkan reaksi anak setelah kematian orang yang dicintai. Reaksi setiap anak dapat berbeda-beda, seperti merasa bersalah, bingung, panik, takut, cemas, menarik diri, dan lain sebagainya.
  • Pelajari cara anak mengungkapkan perasaannya. Sebagian anak lebih nyaman dengan menggambar atau menulis atau menirukan kembali momen yang mereka ingat bersama orang yang dicintai.
  • Berbagi mengenai perasaan sedih yang anda rasakan kepada anak secara wajar. Jika kesedihan disembunyikan, anak dapat berpikir bahwa rasa sedih bukanlah perasaan yang diterima. Anak perlu tahu bahwa tidak mengapa jika mereka merasa sedih dan bahwa menangis itu boleh meskipun ia laki-laki.
  • Bersiap menghadapi pertanyaan sulit dan menjawabnya sesuai dengan perkembangan berpikir anak. Anak butuh bimbingan dan jawaban atas pernyataan tentang apa yang terjadi. Berikan jawaban yang terus terang, memberikan kenyamanan, dan mengurangi rasa takut anak namun tetap logis. Misalnya, ”Apakah Ibu juga akan meninggal?” Pertanyaan ini dapat dijawab dengan, ”Ibu harap masih bisa tetap bersamamu untuk waktu yang sangat panjang.”
  • Jaga rutinitas normal anak jika memungkinkan, seperti kebiasaan menjelang tidur, jadwal makan, bermain, atau olahraga.
  • Membaca buku-buku cerita mengenai kematian sebagai bagian dari kehidupan tanpa membuat anak merasa cemas atau takut.
  • Lakukan kegiatan ibadah bersama untuk membantu anak merasa nyaman dan belajar strategi mengatasi kesedihannya, seperti berdoa untuk anggota keluarga yang telah meninggal dan membaca kitab suci.
  • Sebagai tambahan, mencari bantuan dari keluarga atau sahabat terdekat juga dapat menjadi pilihan. Meskipun yang menjadi prioritas adalah untuk membantu anak melewati proses kesedihan, di saat yang bersamaan anda pun sedang merasa berduka dan kehilangan.

Jika anak tampak sulit melalui proses kehilangan karena kematian anggota keluarga dan menunjukkan perilaku-perilaku berikut ini secara terus-menerus, seperti sulit tidur, terlihat murung dan bersedih, prestasi di sekolah menurun, menarik diri dari lingkungan sosial, marah, merasa bersalah, takut berpisah, masalah makan, dan lain sebagainya, maka orang dewasa dapat mempertimbangkan untuk berkonsultasi dengan profesional.

Sumber:
– Borba, Michele. 2009. The Big Book of Parenting Solutions. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo.
– Santrock, John C. 2011. Life Span Development 13th ed. USA: McGraw-Hill Companies, Inc.
– Shure, Myrna B. 2005. Thinking Parent, Thinking Child: How to Turn Your Most Challenging Problems into Solutions. USA: McGraw-Hill Companies, Inc.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

34 − 32 =