Kita tentunya sudah familiar dengan istilah autisme ya, Sahabat CC. Bagaimana dengan asperger, apakah Anda sudah sering mendengarnya? Dalam ilmu psikiatri, Sindrom Asperger mengalami beberapa perubahan kategori. Awalnya digolongkan ke dalam Pervasive Development Disorder (PDD) yaitu kelompok gangguan yang mengalami keterlambatan dalam aspek komunikasi dan sosial. Namun penggolongan terkini dalam DSM-5 memasukkan Sindrom Asperger ke dalam kategori Autistic Spectrum Disorder (ASD) yang ditandai dengan gangguan sosial komunikasi dan minat yang terbatas/ perilaku berulang.

Perbedaan Sindrom Asperger dengan autisme adalah umumnya anak asperger tidak mengalami keterlambatan dalam perkembangan bahasa (bahkan banyak yang melampaui anak seusianya) serta memiliki tingkat kecerdasan rata-rata bahkan hingga superior. Rata-rata memiliki memori yang sangat kuat dan sering digolongkan ke dalam “high functioning autism”. Namun seperti autisme, anak asperger juga mengalami kendala dalam bersosialisasi dan umumnya memiliki minat yang sangat terbatas dan cenderung obsesif. Misalnya, hanya suka bidang sains, atau hanya suka dinosaurus, dan sebagainya.

Sumber: https://www.therecoveryvillage.com/mental-health/autism/

Kemampuan Komunikasi dan Sosial

Jika belajar di sekolah umum, tak jarang anak asperger mengalami isolasi, intimidasi, bahkan bullying karena keterbatasan mereka dalam menjalin relasi. Sebagian sebenarnya ingin punya teman, namun mereka tidak menyadari bahwa dalam berteman ada beberapa hal yang penting, seperti kesamaan minat, ada kesepakatan bersama, aturan bisa berganti dan tidak harus kaku, dan sebagainya.

Meskipun anak asperger tidak memiliki keterlambatan dalam mempelajari bahasa, namun masalah komunikasi mereka terutama berkaitan dengan kemampuan menerjemahkan bahasa non-verbal, seperti nada suara, intonasi, gesture, mimik dan ekspresi wajah, hingga bahasa tubuh orang lain. Seringkali saat terlibat percakapan, tanggapan yang mereka berikan kurang pas dengan konteks dan situasi. Anak-anak ini juga kurang terampil dalam menilai situasi sosial, misalnya jika ada yang sedang berbicara kita sebaiknya mendengarkan, atau jika di tempat ibadah sebaiknya tidak berbicara keras-keras, dan sebagainya. Kendala inilah yang sering membuat anak asperger dikucilkan atau bahkan diejek oleh teman-teman di lingkungan sosialnya. Banyak anak yang menunjukkan gejala stres dan depresi, bahkan sampai harus pindah sekolah. (sumber)

Anak asperger juga mengalami kesulitan memahami emosi orang lain, sehingga tak jarang mereka memberikan respons yang kurang tepat saat berinteraksi. Seperti spektrum autisme lainnya, anak-anak ini juga kurang dapat mempertahankan kontak mata saat berbicara dengan orang lain. Selain itu, saat “bercakap-cakap” seringkali mereka hanya fokus pada hal-hal yang menarik baginya dan tidak terlalu peduli pada minat atau pendapat orang lain.

Membantu Anak Asperger Dalam Berelasi

The Social Stories adalah sebuah pendekatan yang diperkenalkan oleh Dr. Carol Gray. Berbentuk deskripsi atau cerita pendek mengenai situasi sosial atau kegiatan tertentu, yang mengandung informasi mengenai apa yang sebaiknya orang lakukan dalam situasi tersebut dan alasannya. Ciri cerita yang ditampilkan adalah singkat dan sederhana, serta mudah dipahami. Setiap bagiannya harus jelas dan tidak ambigu sehingga anak-anak yang membaca atau mendengarkan tahu persis apa yang diharapkan dari mereka atau yang harus mereka lakukan di situasi tertentu.

Menariknya, social stories ini dapat didapatkan dengan mudah melalui internet, apalagi yang berbahasa Inggris. Namun jika tidak mendapatkan yang berbahasa Indonesia, kita bisa membuatnya sendiri. Contoh social stories dari Dr. Carol dapat dilihat di sini dan di sini. Sedangkan contoh lain yang bisa kita unduh dan buat ulang dalam bahasa Indonesia, misalnya seperti ini.

Selain belajar melalui cerita bergambar, anak asperger juga dapat belajar berkomunikasi dan bersosialisasi melalui video dan games. Role play atau bermain peran dengan orang tua juga baik dilakukan, terutama untuk melatih dan memastikan bahwa anak sudah paham.

Untuk anak asperger, keterampilan sosial yang penting untuk diajarkan misalnya soal mempertahankan kontak mata, mendengarkan saat guru tengah menjelaskan di kelas, mengucapkan maaf, terima kasih, dan tolong, mau bergantian dengan teman, dan sebagainya. Bahkan untuk anak yang pasif, latihan untuk bersikap asertif dan mengungkapkan kesulitannya juga dapat diberikan.

Anak asperger yang dibekali kemampuan memahami situasi sosial akan lebih mudah menyesuaikan diri di lingkungan. Meskipun umumnya mereka tidak akan memiliki banyak teman dekat, namun kebutuhan bersosialisasinya cukup terpenuhi.

Sebagai penutup, di video ini Niamh McCann bercerita bahwa hampir sepanjang masa remajanya, ia berusaha belajar bersosialisasi dengan meniru orang lain. Namun baginya hal ini melelahkan dan membuatnya gelisah karena tidak bisa menjadi dirinya sendiri. Lebih dari itu, gangguan ini menjadi sulit dideteksi karena sengaja ditutupi. Dari video ini, kita dapat mengatakan bahwa bukan hanya anak asperger yang perlu belajar berkomunikasi, namun lingkungan-pun perlu belajar untuk menerima mereka sepenuhnya tanpa merendahkan, mendiskriminasi, bahkan mengintimidasi.

Silakan berkomentar atau membagi artikel ini, Sahabat CC. Semoga bermanfaat!

Catatan: DSM-5 (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder edisi ke-5) yang dikeluarkan oleh American Psychiatric Association adalah panduan yang digunakan oleh psikiater dan psikolog di seluruh dunia untuk menegakkan diagnosa suatu gangguan mental tertentu.

Photo by RODNAE Productions from Pexels

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

34 + = 39