Bermain bersama antara kakak (perempuan, 10 tahun) dan adik (laki-laki, 8 tahun) merupakan kegiatan yang menyenangkan. Namun apa jadinya jika ternyata kemudian si adik menangis lalu menuduh kakaknya bermain curang? Ibu atau ayah bisa saja menyarankan agar mereka bermain yang lain dan kali ini giliran kakak yang kalah. Kakak lalu mengatakan, ”Aku kan membiarkan dia menang”, untuk memancing kemarahan si adik. Kakak pun menghentikan permainan setiap kali ia merasa akan kalah.

Di sisi lain, si adik merasa sangat cemas jika ia akan kalah dalam berbagai hal dan akhirnya memilih untuk tidak bermain sama sekali. Pada situasi ini orang tua bisa mengatakan padanya bahwa pada permainan berikutnya ia akan menang, meskipun tentu saja orang tua tidak bisa menjamin kemenangan itu pasti terjadi. Anak bisa saja kalah bahkan di permainan-permainan berikutnya.

Ada pula orang tua yang mengatakan bahwa anak akan melupakan kekalahannya tersebut keesokan harinya. Atau orang tua mencoba untuk menunjukkan kepeduliannya dengan meminta maaf dan mengatakan bahwa mereka memahami kekecewaan anak. Jika orang tua menentukan terlebih dahulu apa yang dirasakan anak maka tindakan ini mencegah anak untuk mengeksplorasi lebih jauh perasaan yang muncul ketika baru saja mengalami kekalahan. Atau bahkan mungkin saja anak sama sekali tidak merasakan perasaan negatif seperti yang diperkirakan oleh orang tuanya. Kalah bisa saja memiliki arti yang berbeda bagi anak.

Ketika anak tidak suka berada di posisi kalah, seringkali adalah karena ia merasakan sensasi yang tidak enak. Atau bisa juga ia berpikir bahwa kekalahan adalah suatu kesalahan. Kembali kepada cerita di atas, si adik berpikir bahwa ia tidak seharusnya kalah oleh kakaknya. Kondisi ini mungkin saja adalah indikasi bahwa anak sulit menerima kekalahan. Ia ingin selalu mengontrol dan mengambil alih situasi.
Bukan berarti strategi yang diambil oleh orang tua sifatnya membahayakan. Hanya saja tindakan tersebut tidak efektif dan tidak menyelesaikan akar permasalahan yang sesungguhnya, yakni bukan soal kalah atau menangnya akan tetapi bagaimana perasaan anak menghadapi situasi tersebut.

Apakah situasi anak yang sulit menerima kekalahan akrab di keseharian kita? Mari kita lihat beberapa cara yang lebih efektif yang dapat kita lakukan

  • Daripada menduga, tanyakanlah langsung kepada anak mengenai perasaannya. Jika salah seorang anak sudah menceritakan perasaannya, orang tua dapat bertanya kepada saudaranya yang lain, ”Bagaimana menurutmu perasaan kakak ketika kamu (adik) mengatakan bahwa kakak menang karena curang?” Adik bisa belajar mengenali bahwa kakak bisa saja merasa sedih atau marah.
  • Kemudian orang tua bisa melanjutkan pertanyaan dengan, ”Apakah kakak selalu menang setiap waktu?” Anak dapat menyadari bahwa kakak tidak selalu menang setiap waktu.
  • Orang tua dapat mengajak adik untuk berpikir mengenai perasaan kakaknya, ”Bisakah kamu pikirkan kata-kata lain yang akan kamu ucapkan kepada kakak sehingga ia tidak akan menjadi sedih atau marah?”pertanyaan tersebut dapat membantu anak memahami konsep menang dan kalah dalam konteks yang lebih luas, yakni tentang perasaan dirinya dan juga orang lain. Dengan cara ini, anak belajar menjadi pemenang yang ”baik” dan sebaliknya berada pada posisi kalah yang ”baik”.
  • Dengan fokus pada perasaan anak, mereka akan menerima bahwa meskipun ia menang, ia adalah orang yang sama dengan jika ia kalah.

Memang membutuhkan waktu bagi anak untuk mengapresiasi bahwa cinta dan perhatian tidak ada kaitannya dengan kemenangan atau kekalahan yang ia alami. Orang tua yang membantu anak-anaknya untuk merasa lebih percaya diri, akan menumbuhkan anak yang nyaman dengan dirinya dan lebih menikmati setiap pengalaman. Membebaskan diri mereka untuk fokus pada asyiknya permainan.

Bukankah belajar menerima kekalahan tidak kalah pentingnya dibandingkan dengan belajar untuk menang?

Referensi: Shure, Mirna B. 2005. Thinking Parent Thinking Child. USA: McGraw-Hill Companies, Inc.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

+ 5 = 11