“Gank” dan Hambatan Yang Dialami Remaja

0
207

Mendengar istilah “gank”, Anda jangan dulu menjadi tegang dan berpikiran negatif. Sebetulnya, istilah ini seringkali digunakan untuk bisa menggambarkan sebuah relasi yang terjadi pada sekelompok remaja, tidak hanya yang bersifat negatif.

Artikel ini tidak bermaksud untuk mengarahkan agar seorang remaja membentuk sebuah “gank”, tetapi lebih kepada memberikan telaah bahwa memiliki “gank” juga memiliki pengaruh bagi perkembangan remaja.

Menurut Cole & Cole, rata-rata seorang remaja ternyata menghabiskan 40 persen waktunya bersama dengan teman sebayanya.

Berdasarkan penelitian, mereka yang memiliki relasi yang dekat dan baik dengan teman sebayanya, mampu membangun diri yang positif baik secara sosial maupun psikologis. Sebaliknya, bagi mereka yang kesulitan menjalin relasi dekat dengan teman sebaya dan “tidak diterima” secara sosial di lingkungannya, akan menghadapi berbagai masalah.

Masalah-masalah yang mungkin dihadapi antara lain kesultan penyesuaian akademik di sekolah, permasalahan psikologis, self-confidence yang kurang baik, dan merasa kesepian. Sering kita menemukan seorang remaja terlihat tidak bersemangat setiap kali harus berangkat ke sekolah, nilai-nilai mendadak turun, atau jarang memiliki minat dalam aktivitas-aktivitas non akademik di sekolahnya. Nah… para orang tua perlu lebih memperhatikan jika putra-putrinya menunjukan sikap demikian.

Hal yang menjadi persoalan adalah meski memiliki sebuah “gank” atau peer group adalah penting, nyatanya banyak pula remaja yang kesulitan untuk bisa menjalin relasi dengan teman sebayanya. Lalu bagaimana jika seorang remaja tidak memiliki teman dekat atau “gank” karena ia tidak disukai oleh kebanyakan teman-temannya?

Penyebab seorang remaja tidak disukai oleh teman-temannya bisa beragam. Misalnya, kecemasan yang ditampilkan oleh dirinya, rasa malu yang berlebihan, bahkan persepsi diri yang negatif bahwa orang-orang tidak akan menyukai dirinya – meski hal ini belum tentu…

Pada dasarnya, dalam relasi sosial, selalu ada yang disebut “aksi-reaksi”. Lingkungan akan bersikap tertentu pada kita, tergantung dari bagaimana sikap atau perilaku kita kepada mereka.

Mari kita bayangkan, jika seorang remaja berkelakuan tidak sopan, berbicara kasar, senang mengejek, atau bahkan membuat onar di sekolah, apakah lantas ia akan “lolos seleksi” untuk menjadi teman dekat remaja lainnya? Secara logika, tentu saja itu adalah hal yang sulit.

Lain lagi jika ada seorang remaja yang pandai, cantik/ganteng, ramah, dan berbicara dengan halus setiap bertemu dengan orang lain. Apa yang akan Anda persepsikan? Tentu saja ia menarik perhatian teman-teman lainnya dan rasanya ingin berdekatan karena karakternya yang menyenangkan.

Oleh sebab itu, perlu ditelaah lebih dalam, apa sebetulnya yang menjadi penyebab sehingga seorang remaja kesulitan mendapatkan teman kelompok. Merujuk pada “aksi-reaksi” tadi, penyebab seorang remaja tidak disukai atau tidak “lolos seleksi” menjadi bagian dari anggota kelompok teman lainnya mungkin saja berawal dari diri remaja itu sendiri.

Pada tulisan berikutnya, kita akan mendalami beberapa hal yang bisa menjadi penyebab mengapa seorang remaja tidak disukai dan sulit mencari kelompok pertemanan.

 

Source : Margolin, Sylvia. 2001. Intervention for Nonaggressive peer-rejected children and adolescents: A Review Literature. Children & School Journal, vol. 23:3, p.143-159.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

+ 66 = 74