Dalam artikel sebelumnya, kita mengetahui bahwa rata-rata seorang remaja menghabiskan 40 persen waktunya bersama dengan teman sebayanya. (Cole & Cole)

Berdasarkan penelitian, mereka yang memiliki relasi yang dekat dan baik dengan teman sebayanya, mampu membangun diri yang positif baik secara sosial maupun psikologis. Sebaliknya, bagi mereka yang kesulitan menjalin relasi dekat dengan teman sebaya dan “tidak diterima” secara sosial di lingkungannya, akan menghadapi berbagai masalah.

Hal yang menjadi persoalan adalah meski memiliki sebuah “gank” atau peer group adalah penting, nyatanya banyak pula remaja yang kesulitan untuk bisa menjalin relasi dengan teman sebayanya. Lalu bagaimana jika seorang remaja tidak memiliki teman dekat atau “gank” karena ia tidak disukai oleh kebanyakan teman-temannya?

Pada dasarnya, dalam relasi sosial, selalu ada yang disebut “aksi-reaksi”. Lingkungan akan bersikap tertentu pada kita, tergantung dari bagaimana sikap atau perilaku kita kepada mereka. Oleh sebab itu, perlu ditelaah lebih dalam, apa sebetulnya yang menjadi penyebab sehingga seorang remaja kesulitan mendapatkan teman kelompok. Merujuk pada “aksi-reaksi” tadi, penyebab seorang remaja tidak disukai atau tidak “lolos seleksi” menjadi bagian dari anggota kelompok teman lainnya mungkin saja berawal dari diri remaja itu sendiri.

Berikut adalah beberapa hal yang bisa menjadi penyebab mengapa seorang remaja tidak disukai dan sulit mencari kelompok pertemanan :

  • Memiliki keterbatasan dalam hal akademik atau kemampuan berpikir. Hal ini membuatnya sulit menjalin komunikasi yang interaktif dengan orang lain, rendah dalam prestasi akademik sehingga jarang dijadikan “tempat” bertanya teman-temannya, atau dianggap kurang up to date dengan isu terbaru.
  • Memiliki kelemahan atau kekurangan dari segi fisik. Keterbatasan fisik membuat seseorang menjadi kesulitan untuk melibatkan diri dalam kegiatan olahraga atau yang emmerlukan ketermapilan fisik, tentu cenderung akan “menarik diri” dari aktivitas-aktivitas yang memiliki tuntutan tersebut.
  • Kurang stylish. Ternyata hal ini juga menjadi salah satu kriteria “lolos seleksi” bagi seorang remaja untuk bisa tergabung atau diterima oleh sebuah kelompok. Jika ia ingin bergabung dengan teman-teman yang fashionate, tentu kurang cocok jika ia berdandan kurang rapi atau kurang peka dengan tren fashion saat ini.
  • Terlalu “patuh” terhadap perlakukan yang diberikan kepadanya. Misalnya, ketika diganggu, diejek, atau dimintai melakukan sesuatu oleh teman-temannya, remaja tersebut sama sekali tidak membalas atau menolak seumpama ia tidak sanggup memenuhi permintaan orang lain. Sikap terlalu “berkompromi” atau “pasif” terhadap lingkungan sekitarnya tanpa mempertimbangkan kondisi diri, rupanya juga membuat seorang remaja menjadi kurang menarik ditengah-tengah kelompoknya.

Masih banyak hal-hal lain yang bisa menjadi faktor penyebab mengapa seorang remaja sulit mendapatkan teman kelompok atau menggabungkan dirinya dalam sebuah “gank”. Namun, setidaknya hal-hal inilah yang bisa menjadi referensi bagi orang tua atau praktisi dalam bidang remaja untuk bisa membantu para remaja menganalisa hambatan-hambatan yang mereka miliki. Selamat mencoba!

Referensi: Margolin, Sylvia. 2001. Intervention for Nonaggressive peer-rejected children and adolescents: A Review literature. Children & School Journal, vol. 23:3, p.143-159.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

29 + = 38