Wajahnya memerah, sambil berguling-guling di lantai pusat perbelanjaan itu Aldi meneriakkan keinginannya membeli mobil-mobilan. Ayah bundanya tampak malu jadi tontonan pengunjung lain. Ayah langsung menggendong Aldi menjauh, sementara Bunda mencubit dan menyuruhnya diam.

Aldi bukan satu-satunya anak yang menunjukkan keinginannya dengan cara menangis, berteriak, berguling-guling, bahkan memukul atau menendang. Temper tantrum wajar pada anak usia 2-4 tahun, usia dimana anak memperlihatkan negativisme dan kemandirian, yang banyak ditandai dengan penolakan dan kehendak yang kuat untuk mendapatkan keinginannya. Seiring waktu, sekitar usia 5-12 tahun, temper tantrum akan mereda bersamaan dengan berkembangnya kemampuan anak mengekspresikan keinginannya secara verbal.

Tantrum didasari oleh emosi marah, hal ini normal saat kita merasa frustasi, merasa diserang, dan keinginan kita tidak terpenuhi. Terbayang ya, saat kita merasa tidak nyaman lalu tidak dapat menyampaikan secara verbal dan merasa orang lain tidak mengerti, pasti kita akan frustasi dan marah. Alih-alih berpikir logis, kita mengomunikasikan perasaan secara intensif dengan ekspresi non verbal, seperti menangis, berteriak, dan sebagainya. Itulah yang terjadi pada anak-anak saat tantrum.

Nah, ada beberapa hal yang umum dilakukan orang tua saat anaknya mengalami tantrum, diantaranya:

  1. Menyuruh anak diam dengan tindakan, misalnya dibentak, dijewer, dicubit, dipukul, diancam, dan sebagainya
  2. Memberikan keinginan anak agar anak diam
  3. Mendiamkan anak sampai berhenti sendiri
  4. Menenangkan anaknya dengan cara dipeluk atau dibujuk dengan lembut

Manakah cara yang paling efektif dan baik bagi anak?

Setiap orang tua mungkin merasa cara yang dipilihnya sudah efektif asalkan tantrumnya berhenti. Banyak pula orang tua yang mengombinasikan cara-cara di atas dan mencari yang paling tepat bagi anak. Namun ada aturan dasar yang jelas dalam menghadapi tantrum yaitu orang tua tidak boleh kehilangan kesabaran dan harus dapat mengendalikan dirinya.

Bentakan, mata melotot, hingga hukuman fisik adalah cara yang justru membuat anak semakin frustasi. Kalau kita kembali ke situasi Aldi tadi, dengan digendong pergi, dicubit, dan dimarahi, Aldi memang akan diam karena tidak mau dicubit, namun justru akan semakin frustasi karena ia tidak mendapatkan keinginannya dan malah mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan.

Andaikan ayah dan bundanya memberikan mobil-mobilan pada Aldi agar tantrumnya berhenti, mungkin masalahnya selesai pada saat itu. Namun dapat diperkirakan bahwa setiap kali Aldi menginginkan sesuatu, ia akan menggunakan cara itu lagi. Dengan kata lain, orang tua malah membuat perilaku tersebut menetap.

Bagaimana dengan didiamkan saja sampai anak berhenti sendiri? Beberapa anak memang menggunakan tantrum supaya diperhatikan dan mendapatkan keinginannya. Cara ini bisa saja dicoba apabila anak berada dalam jangkauan perhatian orang tua. Pastikan anak tidak melakukan hal-hal yang bisa membahayakan dirinya, misalnya memukul-mukul dinding atau melempar barang-barang. Berikan jarak pada anak agar anak juga sadar Anda membutuhkan ruang. Cara ini bisa dikombinasikan dengan teknik “time out” dimana orang tua baru mendekati anak apabila tantrumnya sudah mereda. Dengarkan apa yang diinginkannya dan jelaskan mengapa ia tidak bisa mendapatkannya.

Memeluk dan membujuk dengan lembut terdengar cukup mudah, namun terkadang kita yang orang dewasa saja sulit mendengarkan apabila sedang marah, apalagi anak-anak. Perhatikan gerak tubuh anak saat sedang tantrum, apakah ia nyaman didekati dan dipeluk, atau sebaiknya dibiarkan agar tenang dulu. Sambil menunggu anak tenang, orang tua bisa berada di dekatnya dengan ekspresi netral dan pelan-pelan sentuh anak, misalnya dengan dipegang tangannya, diusap-usap punggungnya, sebelum akhirnya dipeluk. Cara ini bisa dikombinasikan dengan teknik relaksasi, dimana anak diminta untuk menarik nafas dalam untuk meredakan kemarahannya. Setelah anak tenang, baru ajak ia bicara.

Beberapa teknik meredakan tantrum di atas tentu harus disesuaikan dengan penyebab tantrum pada anak Anda. Berikan pula perhatian lebih pada temperamen dan usia anak, apakah ia sudah bisa diajak bicara dengan logika sederhana atau masih memerlukan penguat perilaku dalam bentuk kongkrit, misalnya pujian jika ia tidak tantrum saat menginginkan sesuatu. Barangkali Anda ingin berbagi pengalaman saat menghadapi anak yang tantrum?

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

+ 16 = 17